Kena PHK, Karyawan Ini ''Bongkar'' Jeroan Eks Kantornya
- Seorang mantan engineer senior di Atlassian, perusahaan teknologi Australia yang menaungi Trello dan Jira, menjadi sorotan setelah mengunggah video panjang di YouTube.
Dalam video tersebut, ia membahas sistem dan teknologi yang ia bangun selama bekerja di perusahaan tersebut usai terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Mantan pegawai tersebut bernama Vasilios Syrakis, yang bekerja di Atlassian selama sekitar delapan tahun sebelum terkena PHK pada Maret lalu.
Perusahaan berbasis di Sydney itu sebelumnya mengumumkan akan memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya secara global.
Co-founder Atlassian, Mike Cannon-Brookes, mengatakan restrukturisasi dilakukan untuk membantu pendanaan investasi lebih besar di bidang kecerdasan buatan (AI) sekaligus merampingkan tenaga kerja perusahaan.
Baca juga: Perusahaan Pembuat Jira dan Trello PHK 1.600 Karyawan demi Investasi AI
Tak lama setelah terkena PHK, Syrakis mengunggah video YouTube berdurasi sekitar 40 menit berjudul “I was laid off by Atlassian”.
Video tersebut kemudian viral dan ditonton lebih dari 1,8 juta kali di YouTube serta jutaan kali di platform X, saat berita ini ditulis.
Sebagian pengguna internet menganggap video itu sebagai upaya “membongkar” isi internal Atlassian karena Syrakis menjelaskan berbagai sistem dan platform yang pernah ia bangun selama bekerja di perusahaan tersebut.
Ia juga mengungkap bagaimana budaya kerja selama ia menjadi engineer di sana.
Salah satu pengguna forum online Reddit bahkan mengunggah posting berbunyi 'Seorang software engineer di Atlassian terkena PHK setelah delapan tahun bekerja. Responsnya: video YouTube 38 menit yang menunjukkan bagaimana seluruh teknologi perusahaan bekerja, gratis untuk disalin siapa saja.'
Postingan itu cukup viral dan ramai menjadi bahan diskusi di Reddit.
Namun, jika dilihat lebih cermat videonya, Syrakis tidak tampak berniat jahat dengan membocorkan rahasia fundamental perusahaan. Ia hanya ingin "membongkar" apa saja yang sudah ia lakukan selama berkarir di Atlassian.
"Saya baru saja terdampak PHK yang dilakukan Atlassian dan ingin meluangkan waktu untuk merefleksikan perjalanan saya selama bekerja di sana," kata Syrakis di awal video.
"Saya bekerja di sana sekitar delapan tahun. Selama itu saya membangun banyak hal, dan saya ingin membahas apa saja yang saya buat, terutama hal-hal yang menurut saya menarik atau yang saya banggakan," imbuhnya.
Ia juga berharap videonya bisa membantu pekerja lain yang mungkin mengalami situasi serupa.
"Saya berharap video ini bisa berguna atau membantu seseorang yang mungkin sedang atau pernah berada dalam situasi yang sama seperti saya," lanjutnya, dirangkum KompasTekno dari News.com Australia.
Baca juga: Sakit Hati Dipecat, Pria Ini Hapus 180 Server Perusahaan dan Rugikan Rp 11 Miliar
Isi curhatan Vasilios Syrakis
Dalam video tersebut, Syrakis banyak membahas perjalanan teknisnya selama bekerja di Atlassian, mulai dari proses wawancara kerja hingga berbagai sistem infrastruktur yang ia bantu bangun.
Ia mengingat bagaimana proses perekrutannya dimulai dari coding quiz di HackerRank yang menurutnya berhasil ia selesaikan dengan nilai penuh.
Setelah itu, ia menjalani wawancara teknis terkait microservices, container, dan arsitektur sistem. Salah satu sesi bahkan menggunakan white paper dari Cloudflare tentang custom domains.
Syrakis juga menceritakan bagaimana ia diberi tantangan memecahkan simulasi insiden nyata di Atlassian yang menyebabkan denial of service.
Dalam sesi wawancara lain, ia mengaku sempat bertanya kepada pewawancara.
"Dalam 12 bulan ke depan, pencapaian seperti apa yang harus saya raih supaya Anda merasa keputusan merekrut saya adalah keputusan yang tepat?" tanyanya kepada pewawancara.
Menurut Syrakis, perusahaan kemudian menjelaskan ada aplikasi platform internal yang ingin mereka bangun.
Setelah resmi bergabung, ia mengatakan budaya kerja Atlassian sangat intens.
"Di Atlassian ada ungkapan klasik bahwa saat bergabung ke perusahaan ini rasanya seperti minum dari selang pemadam kebakaran," katanya.
Ungkapan tersebut menggambarkan banyaknya informasi yang harus dipelajari pegawai baru dalam waktu singkat.
Salah satu proyek pertama yang ia kerjakan adalah membangun open service broker menggunakan Python. Sistem itu digunakan untuk memfasilitasi provisioning resource untuk platform internal perusahaan.
Ia menjelaskan proyek tersebut awalnya dibangun menggunakan library Connexion, lalu bermigrasi ke Flask, dan akhirnya menggunakan FastAPI.
Dalam video itu, Syrakis juga menjelaskan bagaimana task diproses melalui Amazon SQS serta bagaimana sistem tersebut digunakan untuk membuat DNS records hingga CloudFront distribution.
Baca juga: AI Tak Menggantikan Pekerjaan Manusia, tapi Kenapa Banyak PHK?
Selain itu, ia juga membahas proyek penggantian enterprise load balancer Atlassian dengan solusi open-source berbasis Envoy Proxy demi mengurangi biaya lisensi.
Syrakis mengatakan software tersebut kemudian di-open source-kan dengan nama “Sovereign”.
Ia juga menjelaskan berbagai komponen infrastruktur cloud yang digunakan perusahaan, termasuk Virtual Private Cloud (VPC), subnet, autoscaling group, AMI image, HashiCorp Packer, hingga SaltStack configuration.
Menurut Syrakis, salah satu proyek terbesar berikutnya adalah membantu produk-produk besar Atlassian seperti Jira, Confluence, Bitbucket, dan Status Page agar dapat menggunakan edge infrastructure yang mereka bangun.
Ia mengatakan pendekatan tersebut memungkinkan logika tertentu dipusatkan di awal rantai request sehingga dapat menghemat waktu dan biaya.
Dalam salah satu bagian video, Syrakis juga membahas sistem authentication sidecar yang ia buat menggunakan bahasa pemrograman Rust.
Kemampuan personal berkembang
Selain membahas sisi teknis, Syrakis turut menceritakan perkembangan kemampuan personalnya selama bekerja di Atlassian.
"Kemampuan diplomasi saya berkembang sangat pesat, begitu juga kemampuan menghindari konflik dan mungkin juga menyelesaikan konflik," katanya.
Ia juga mengatakan dirinya belajar mengajar dan menjadi mentor bagi engineer lain.
Pada tahun terakhirnya di Atlassian, Syrakis mengaku membimbing seorang anak magang yang akhirnya mendapatkan penilaian tertinggi dari program magang tersebut.
Menurut Syrakis, salah satu tantangan terbesar sebagai mentor adalah menjaga keseimbangan antara membantu dan membiarkan anak magang belajar sendiri.
"Saya tidak ingin langsung memberi jawaban atas masalah mereka, tapi saya juga tidak ingin mereka terlalu lama mentok sampai frustrasi," katanya.
Baca juga: GitLab PHK Karyawan, Anggaran Dialihkan untuk Kembangkan AI
Ia juga mengaku bangga karena banyak rekan kerja menilai dirinya selalu siap membantu dan mampu menjelaskan topik sulit menjadi lebih mudah dipahami.
"Masukan yang paling sering saya terima dari rekan kerja adalah saya selalu siap membantu dan mampu menyederhanakan topik sulit menjadi sesuatu yang mudah dipahami," ujarnya.
Di akhir video, Syrakis juga menyinggung tren “vibecoding”, yakni pembuatan aplikasi menggunakan prompt AI atau large language model.
Menurutnya, tantangan besar akan muncul ketika semakin banyak engineer mengandalkan AI untuk membuat software tanpa benar-benar memahami sistem yang dibangun.
"Membangun sesuatu itu mudah," katanya.
"Yang sulit adalah mengubahnya dan memastikan sistem itu tetap mudah dikembangkan seiring waktu, karena semakin banyak perubahan dilakukan, sistem biasanya jadi makin sulit dimodifikasi," kata Syrakis.
Sementara itu, di tengah restrukturisasi dan fokus besar perusahaan terhadap AI, Atlassian melaporkan pendapatan sebesar 1,79 miliar dollar AS pada laporan keuangan kuartal ketiganya di AS, naik 32 persen dibanding tahun sebelumnya.
Saham perusahaan juga dilaporkan naik sekitar 30 persen sepanjang Mei setelah sebelumnya sempat turun tajam dalam setahun terakhir.