Kampung di Yogyakarta Ini Bebas dari Suara Kendaraan Bermotor, Penuh Ketenangan
Suasana Kampung Kauman pada Kamis (30/10/2025)(KOMPAS.COM/WISANG SETO PANGARIBOWO)
10:35
24 Maret 2026

Kampung di Yogyakarta Ini Bebas dari Suara Kendaraan Bermotor, Penuh Ketenangan

KOMPAS.COM - Siapa sangka di tengah riuhnya pusat kota Yogyakarta, tepatnya di belakang kemegahan Masjid Gedhe Kauman, terdapat sebuah oase ketenangan yang unik?

Kalau kamu biasanya terbiasa dengan suara bising knalpot dan kepulan asap kendaraan, bersiaplah untuk terpukau dengan suasana berbeda di Kampung Kauman.

Berdasarkan laporan mendalam dari Kompas.com dalam artikel bertajuk "Matikan Mesin dan Tuntun Motornya, Aturan di Kauman Kampung Pedestrian", kampung ini punya aturan main sendiri yang bikin siapa pun merasa kembali ke masa lalu.

Yogyakarta memang nggak pernah kehabisan cerita soal budaya dan tata kramanya. Salah satu manifestasi nyata dari adab tersebut bisa kamu temukan di Kampung Kauman. 

Kampung yang terletak di Kelurahan Ngupasan, Kapanewon Gondomanan ini dikenal sebagai kampung pedestrian sejati.

Bukan karena jalanannya ditutup total, tapi karena ada sebuah kesepakatan tak tertulis namun dijunjung tinggi "kendaraan bermotor tidak boleh menyala saat melintasi gang-gang sempitnya."

Baca juga: Libur Lebaran di Atlantis Ancol, Ada Water Games hingga Fly Board Show

Matikan Mesin dan Tuntun Motor

Suasana Kampung Kauman pada Kamis (30/10/2025)KOMPAS.COM/WISANG SETO PANGARIBOWO Suasana Kampung Kauman pada Kamis (30/10/2025)

Begitu kamu memasuki gerbang Kampung Kauman, kamu akan disambut oleh papan pengumuman yang meminta pengendara untuk mematikan mesin. Ini bukan sekadar himbauan formalitas, tapi sudah menjadi nafas kehidupan warga setempat.

Melansir dari Kompas.com, aturan ini bertujuan untuk menjaga kekhusyukan lingkungan, mengingat Kauman adalah kampung santri yang erat dengan kegiatan ibadah dan pembelajaran agama.

Tokoh masyarakat Kampung Kauman, Azman Latief, menjelaskan bahwa larangan mengendarai kendaraan di kampung tersebut sudah ada sejak ia masih kecil, sekitar tahun 1960-an.

“Waktu saya kecil itu di enggak ada di jalan-jalan, waktu itu masih sepeda. Sepeda itu dinaiki,” ungkapnya pada Kamis (30/10/2025).

Azman menambahkan, hanya satu profesi yang diperbolehkan menggunakan sepeda di Kampung Kauman pada masa itu, yaitu tukang pos yang mengantarkan surat.

Ia juga mencatat bahwa banyak warga yang tidak menyadari bahwa tanah yang mereka lewati telah diwakafkan, sehingga mereka merasa sungkan untuk menaiki sepeda.

“Jadi orang sungkan menaikki sepeda,” kata dia.

“Sejak saya kecil (tahun) 60-an sudah seperti itu, sepeda sudah dituntun tidak dinaiki di kampung-kampung,” ucapnya.

"Kewajiban mematikan mesin dan menuntun motor ini dilakukan demi kenyamanan bersama, menjaga polusi udara, serta polusi suara agar suasana kampung tetap tenang dan asri," tulis laporan Kompas.com.

Suasana Kampung Kauman pada Kamis (30/10/2025)KOMPAS.COM/WISANG SETO PANGARIBOWO Suasana Kampung Kauman pada Kamis (30/10/2025)

Baca juga: Murah dan Ramah Keluarga, Ragunan Dipadati Pengunjung Saat Libur Lebaran 2026

Surga Bagi Pejalan Kaki

Buat kamu yang hobi walking tour atau sekadar ingin healing sejenak dari hiruk-pikuk Malioboro, Kauman adalah jawabannya. 

Karena tidak ada suara motor yang menderu atau klakson yang mengagetkan, kamu bisa menikmati detail arsitektur rumah-rumah gaya lama yang masih berdiri kokoh di sana.

Gang-gang di Kauman tergolong sempit, namun sangat bersih. Suasana ini menciptakan interaksi sosial yang hangat antarwarga. 

Kamu akan sering melihat warga yang saling bertegur sapa saat berpapasan sambil menuntun motor mereka. Sebuah pemandangan yang langka di kota besar, bukan?

Karena tidak perlu waspada terhadap kendaraan yang lewat dengan kecepatan tinggi, pejalan kaki bisa lebih leluasa mengamati keindahan bangunan di Kauman.

 Banyak rumah di sini yang memiliki gaya arsitektur perpaduan Jawa dan kolonial yang masih terawat sangat apik.

Dinding-dinding gang yang bersih dari polusi asap kendaraan membuat warna-warna asli bangunan dan tanaman hias milik warga terlihat lebih cerah.

Ini adalah alasan mengapa Kauman menjadi lokasi favorit bagi para fotografer yang mencari sudut pandang vintage dan otentik.

Baca juga: Bisa Gratis ke Tempat Wisata sampai Diskon Hotel dengan Tiket Whoosh

Nilai Sopan Santun yang Terjaga

Aturan menuntun motor ini juga berkaitan erat dengan nilai unggah-ungguh atau sopan santun masyarakat Jawa.

Menuntun motor dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain yang sedang berjalan atau duduk-duduk di depan rumah.

Jika ada pengendara yang nekat menyalakan mesin, biasanya warga akan mengingatkan dengan cara yang halus namun tegas.

Kedisiplinan kolektif inilah yang membuat Kauman tetap menjadi kawasan pedestrian yang kredibel dan konsisten selama bertahun-tahun.

Kalau kamu berencana mampir ke sini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Patuhi Aturan: Jika membawa motor, pastikan matikan mesin begitu masuk area pemukiman.
  • Berpakaian Sopan: Mengingat ini adalah wilayah yang religius, pakailah pakaian yang menutup aurat untuk menghormati norma setempat.
  • Nikmati Kulinernya: Kauman juga terkenal dengan jajanan tradisionalnya, apalagi saat bulan Ramadhan tiba.
  • Jaga Ketenangan: Jangan berbicara terlalu keras agar tidak mengganggu kedamaian warga.

Kampung Kauman adalah bukti nyata bahwa sebuah kawasan bisa tetap hidup dan modern tanpa harus mengorbankan ketenangan dan tradisi.

Komitmen warga untuk menjadikan kampung mereka ramah pejalan kaki patut diacungi jempol dan bisa menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain di Indonesia.

Baca juga: Ada 16 Cagar Budaya Baru di Jakarta, Bisa Jadi Tujuan Wisata Libur Lebaran

Tag:  #kampung #yogyakarta #bebas #dari #suara #kendaraan #bermotor #penuh #ketenangan

KOMENTAR