Pantai di Bantul Sepi Pengunjung Saat Libur Lebaran 2026, Tiket Masuk Dianggap Mahal
Pantai-pantai di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kehilangan pengunjung selama musim libur Lebaran 2026.
Tahun ini, jumlah wisatawan yang berkunjung ke pantai di Bantul merosot drastis hingga 50 persen, padahal biasanya Lebaran menjadi momen puncak kunjungan wisata.
"Kita kan biasanya ramai H+2, H+3, dan H+4. Itu kan puncak Lebarannya ada di situ," kata Ketua Desa Wisata Pantai Goa Cemara, Bayu Sujaka, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (24/3/2026).
Alih-alih mendapat kunjungan wisata lebih banyak, Bayu justru mengungkapkan bahwa pengunjung Pantai Goa Cemara turun 26 persen dibandingkan Lebaran 2025.
Pengelola pantai lain di Bantul juga menyerukan hal yang sama. Kata pengelola Pantai Depok, Sutarlan, objek wisata alam ini sepi pengunjung selama libur Lebaran 2026.
Baca juga: Lebaran Seru di Dusun Semilir: Atraksi Vibes Maroko hingga Jin Terbang
"Kalau pengamatan dari pendapatan hasil parkir itu kan 50 persen (menurun). Ya, tahun lalu (menurun) 40 persen, sekarang malah lebih turunnya," kata Sutarlan saat dihubungi terpisah pada hari yang sama.
Penurunan jumlah pengunjung di pantai-pantai daerah Bantul sudah terjadi sejak 2022 dan kian parah sampai saat ini.
Pengunjung yang datang ke pantai-pantai di Bantul didominasi oleh masyarakat setempat serta dari luar provinsi DIY.
Adapun jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) diakui tidak sebanyak dulu.
"Rata-rata 80 persen itu mereka berkunjung ke konservasi penyu kita. Tiap musim ada, bulan Mei sampai akhir tahun," ungkap dia.
Wisman yang dimaksud kebanyakan datang dari Belanda, Spanyol, Australia, Perancis, hingga Hungaria.
Baca juga: Raja Ampat Masuk 7 Keajaiban Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveller
Tiket masuk mahal jadi sorotan
Pantai Goa Cemara di Bantul.
Menurut Bayu, tarif retribusi atau tiket masuk yang dianggap mahal menjadi alasan pantai di Bantul sepi pengunjung selama libur Lebaran 2026.
Pengunjung dikenakan tarif retribusi sebesar Rp 15.000 per orang. Dengan nominal ini, wisatawan bebas masuk ke banyak pantai di Bantul.
Tarif ini, menurut Sutarlan, terbilang murah bila dirinci dengan banyaknya pantai di daerah Bantul.
Namun demikian, wisatawan tidak selalu berkunjung ke banyak pantai dalam kesempatan yang sama sehingga tarif ini sering kali dirasa mahal.
"Misalnya dia cuma mau ke Pantai Depok, kelihatannya (harga tiket) jadi mahal," kata dia.
Tarif ini juga belum termasuk tiket parkir kendaraan. Setiap unit motor dikenakan tarif parkir Rp 5.000, mobil Rp 10.000, dan bus Rp 20.000.
Baca juga: Okupansi Hotel di Yogya Selama Libur Lebaran Cenderung Turun
Ilustrasi Pantai Depok, Bantul.
Harga tiket masuk pantai ini juga dirasa berat bagi pengunjung yang sengaja datang untuk menikmati kuliner boga bahari.
Untuk ongkos memasak seafood di pantai ini saja dikenakan tarif Rp 25.000 per kilogram, sehingga pengunjung harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar tiket masuk dan menikmati kulinernya.
Di sisi lain, Bayu menyoroti daya beli masyarakat yang sedang menurun selama beberapa waktu belakangan.
Sejak pandemi Covid-19 hingga saat ini, lanjut dia, Pantai Goa Cemara memang kesulitan mendapat lebih banyak kunjungan wisatawan.
"Apakah itu efek dari perang, apakah efek dari pandemi kemarin, kita juga belum bisa menentukan," kata Bayu.
"Tapi di Bantul sendiri memang keseluruhan wisata Bantul itu mengalami penurunan," sambungnya.
Baca juga: Promo Wisata Jagat Satwa Nusantara TMII, Masuk Farmhouse Cuma Rp 15.000
Penyebab lain pantai di Bantul sepi pengunjung
Pengunjung memadati Kawasan Pantai sepanjang, Gunungkidul, Minggu (22/3/2026)
Tiket masuk bukan menjadi satu-satunya alasan pantai di Bantul sepi pengunjung. Menurut Bayu, minimnya pengurusan fasilitas wisata juga berpengaruh pada kunjungan.
Pengelola pantai kekurangan dana untuk mengembangkan fasilitas wisata. Dana ini semestinya diberikan oleh pemerintah daerah setempat melalui tarif retribusi yang ada.
"Pantai kami kekurangan dana untuk pengembangan soalnya memang dari retribusi sekarang, kami belum mendapatkan bagi hasil terkait dengan biaya perawatan dan objek wisata," ungkap Bayu.
Tarif retribusi yang dipungut dari pengunjung, kata Bayu, seharusnya diberikan kembali untuk pengelolaan objek wisata.
"Tapi sampai sekarang itu kita belum mendapatkan pengembalian dari bagi hasil tarif retribusi tersebut," sambungnya.
Sebagai pengelola, ia mengaku tidak pernah mendapat dana bantuan dalam bentuk pengembalian tarif retribusi yang ada.
Kondisi ini berlangsung sudah bertahun-tahun lamanya sejak tarif retribusi Pantai Goa Cemara hanya Rp 5.000, naik menjadi Rp 7.500, dan terakhir Rp 15.000.
Belum lagi persaingan wisata dengan objek lain di kawasan DIY, khususnya Gunungkidul yang disebut-sebut ramai pengunjung selama musim libur Lebaran 2026.
"Setahu saya di Lebaran ini, daerah Gunungkidul mengalami kenaikan daripada tahun-tahun kemarin, tapi di Bantul sendiri, keseluruhan wisata Bantul, pantai, itu mengalami penurunan," jelas dia.
Baca juga: Harga Hotel Uni Emirat Arab Terjun Bebas, Imbas Konflik Timur Tengah
Strategi pengelola pantai
Demi mengembalikan antusiasme wisatawan berkunjung ke pantai di Bantul, pengelola Pantai Goa Cemara telah berdiskusi dengan Bupati Bantul.
Mereka menyarankan penerapan tiket retribusi terpisah untuk setiap objek wisata, bukan tiket terusan Rp 15.000.
Wisatawan bebas memilih mengunjungi objek wisata mana pun dengan membeli tiket terpisah sebesar Rp 5.000.
"Tapi itu juga kita masih menunggu pembahasan. Di Lebaran ini kita belum dapat kejelasan terkait dengan itu," kata Bayu.
Pantai Goa Cemara sendiri dikenal sebagai wisata acara. Di sini, pengunjung bisa menemui objek wisata alam, pantai, dan wisata edukasi konservasi penyu.
"Maksud kami, kalau misalnya bisa dibikin tiket per objek wisata Rp 5.000, kan kalau mau berkunjung ke dua tempat juga cuma tambah Rp 10.000, kalau khusus mau ke Gua Cemara cuma Rp 5.000," ungkap Bayu.
Ia berharap pemerintah daerah dapat mendengar seruan para pengelola wisata di Bantul ini, khususnya bagi Bupati Bantul yang telah menjanjikan mediasi usai Lebaran 2026.
Bila pemerintah daerah Bantul tidak kunjung menanggapi permintaan tersebut, Bayu berencana menjalankan kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengembangkan objek wisata, juga memperbarui fasilitas yang ada.
"Mungkin kita ke CSR atau kerja sama ke investor soalnya memang yang dicari-cari wisatawan kan sesuatu hal yang baru di zaman sekarang dan untuk hal tersebut, kalau murni dari swadaya, kita belum mampu," pungkas Bayu.
Baca juga: Hujan Tak Surutkan Kunjungan Wisatawan ke Saloka Theme Park Saat Libur Lebaran
Tag: #pantai #bantul #sepi #pengunjung #saat #libur #lebaran #2026 #tiket #masuk #dianggap #mahal