Museum Seni Pertama Hong Kong Ini Masuk 100 Terpopuler di Dunia, Bisa Lihat Apa Saja?
Hong Kong Museum of Art (HKMoA) merupakan museum seni publik pertama di Hong Kong yang kini menjadi salah satu destinasi seni paling diperhitungkan di Asia dan masuk daftar 100 museum terpopuler di dunia.(KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA)
12:56
26 Maret 2026

Museum Seni Pertama Hong Kong Ini Masuk 100 Terpopuler di Dunia, Bisa Lihat Apa Saja?

- Satu gedung, banyak dunia. Begitulah kira-kira gambaran paling ringkas untuk Hong Kong Museum of Art (HKMoA), museum seni publik pertama di Hong Kong yang kini menjadi salah satu destinasi seni paling diperhitungkan di Asia.

Didirikan pada 1962, HKMoA menyimpan koleksi lebih dari 19.700 set karya seni yang merentang dari lukisan klasik Tiongkok, kaligrafi, kerajinan antik, hingga seni kontemporer urban. Sejak merampungkan renovasi besar pada 2019, museum ini telah menyambut lebih dari 5 juta pengunjung hingga 2025.

Pencapaian itu bukan tanpa dasar. HKMoA tiga kali masuk daftar 100 museum seni paling populer di dunia versi publikasi seni internasional The Art Newspaper, yakni pada 2022, 2024, dan 2025.

Satu museum, banyak pintu masuk

Hal yang membuat HKMoA berbeda bukan hanya ukuran koleksinya, melainkan cara museum ini memperlakukan pengunjung. Setiap pameran dirancang bukan sekadar untuk dilihat, melainkan untuk dirasakan dan diikutsertakan.

Pameran Live: Hong Kong Art Exhibition yang berlangsung hingga 5 Mei 2027 menjadi salah satu buktinya. Menampilkan 19 seniman yang aktif membentuk wajah seni kontemporer Hong Kong, pameran ini menghadirkan beragam medium mulai dari lukisan, seni tinta, keramik, patung, video, instalasi, hingga multimedia.

Yang menarik, pameran tersebut memiliki sesi khusus bernama "Live: The Studio" — sebuah studio terbuka di lantai dasar di mana seniman-seniman peserta hadir langsung untuk berkarya, menggelar lokakarya, dan berbagi cerita. Pengunjung bisa menyaksikan penciptaan karya dari awal hingga selesai, sesuatu yang jarang ditawarkan museum mana pun.

Sementara itu, pameran Dreamchasers: Stories of Hong Kong Art yang dapat dikunjungi sejak Sabtu (21/3/2026) mengajak pengunjung menelusuri perjalanan seni Hong Kong selama beberapa dekade terakhir. Melalui proyeksi dan elemen interaktif, pameran ini membuka cerita di balik para seniman dari masa lalu hingga kini.

Setiap pameran di Hong Kong Museum of Art (HKMoA) dirancang bukan sekadar untuk dilihat, melainkan untuk dirasakan dan diikutsertakan oleh setiap pengunjung melalui elemen interaktif dan multimedia.KOMPAS.com/HOTRIA MARIANA Setiap pameran di Hong Kong Museum of Art (HKMoA) dirancang bukan sekadar untuk dilihat, melainkan untuk dirasakan dan diikutsertakan oleh setiap pengunjung melalui elemen interaktif dan multimedia.

Warisan yang hidup, bukan sekadar pajangan

HKMoA tidak membiarkan koleksi klasiknya berhenti sebagai tontonan sejarah. Setiap pameran berbasis warisan selalu hadir dengan lapisan kontemporer yang membuatnya terasa relevan bagi pengunjung masa kini.

Salah satu contohnya adalah pameran Life Planning of the Chinese Literati yang mengangkat lukisan dan kaligrafi dari koleksi Xubaizhai, yakni karya-karya dari era Dinasti Ming dan Qing.

Di pameran itu, pengunjung diajak melihat bagaimana para seniman dan cendekiawan zaman dahulu membuat pilihan hidup besar, antara mengabdi di lingkungan kerajaan atau meninggalkan segalanya untuk hidup sederhana di luar kekuasaan. Pilihan-pilihan itu tecermin dalam gaya dan karakter karya yang dihasilkan.

Pengunjung bahkan bisa mengikuti permainan interaktif "Career Aptitude Test of Ancient Literati" untuk merasakan sendiri dilema yang dihadapi para seniman dan cendekiawan berabad-abad silam. Pameran ini dapat dikunjungi hingga Rabu (1/4/2026).  

Naik ke lantai empat, pameran Fantastic Breeze menampilkan lebih dari 160 kipas lipat karya maestro seni Tionghoa abad ke-20 seperti Zhang Daqian, Qi Baishi, dan Huang Binhong dari Koleksi Jingguanlou. Permukaan kipas yang melengkung menjadi kanvas unik yang mendorong para seniman melampaui batas format konvensional.

Ada pula pameran Mini-figures in Paintings yang menawarkan sudut pandang yang berbeda lagi. Alih-alih berfokus pada panorama besar dalam lukisan lanskap Tiongkok, pameran ini justru mengajak pengunjung memperhatikan figur-figur kecil yang nyaris tersembunyi di sudut-sudut kanvas. Siluet nelayan, cendekiawan, atau musafir yang kerap terlewat itu ternyata menyimpan narasi terdalam dari sebuah lukisan.

Koleksi Art of Gifting di lantai tiga menghadirkan 490 set botol tembakau dari Koleksi Fuyun Xuan, donasi terbesar sejenis yang pernah diterima museum mana pun di Hong Kong. Meski mungil, setiap botol menyimpan kekayaan material dan keahlian pengerjaan yang luar biasa, mulai dari giok, porselen, kaca, hingga enamel.

Seni yang menyentuh keseharian

Selain pameran-pameran  di atas, terdapat sejumlah pameran lain di HKMoA yang secara khusus mengangkat hubungan antara seni dan kehidupan sehari-hari.

Salah satunya, pameran Art Personalised: Masterpieces from the HKMoA. Pameran ini mengundang pengunjung mengikuti tes kepribadian untuk menemukan karya masterpiece yang paling "cocok" dengan diri mereka. Hasilnya pun bisa dibagikan di media sosial.

Untuk pertama kalinya, HKMoA juga berkolaborasi dengan merek aroma lokal Scentory untuk menciptakan wewangian eksklusif di setiap zona pameran. Pengalaman mengapresiasi seni di sini pun tidak lagi melibatkan indera penglihatan semata.

Selanjutnya, pameran Shape of Tea yang berlangsung di Flagstaff House Museum of Tea Ware. Di sini, pengunjung bisa melihat langsung 35 set koleksi peralatan teh dari era Dinasti Song hingga abad ke-20 dengan 20 karya baru seniman kayu Yan Yung dan seniman bambu Inkgo Lam.

Kedua seniman tersebut menggali estetika kehidupan masa Song, menghadirkan meja teh bambu sepanjang tiga meter dan rak teh kayu setinggi dua meter yang memadukan keahlian tradisional dengan ekspresi kontemporer.

Wu Guanzhong dan warisan seorang maestro

Di lantai empat, HKMoA mendedikasikan satu galeri khusus untuk Wu Guanzhong, salah satu maestro seni Tiongkok abad ke-20 yang dikenal karena kemampuannya memadukan estetika Barat dan Timur dalam satu kanvas.

Pameran Wu Guanzhong: Encountering Landscapes* menampilkan sketsa, lukisan tinta, dan lukisan minyak yang lahir dari perjalanannya ke lebih dari 20 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika.

Beberapa karya dipamerkan untuk pertama kalinya setelah didonasikan ke museum. Salah satunya adalah Victoria Harbour, karya langka yang dibuat Wu dalam demonstrasi melukis publik di HKMoA pada 2002.

Melengkapi pameran tersebut, seniman Hong Kong Flyingpig menghadirkan instalasi imersif Light Entry sebagai respons atas karya Wu Guanzhong, The Window's Eye. Melalui perpaduan gambar bergerak dan lukisan, Flyingpig menangkap cahaya yang memancar dari jendela-jendela bangunan perumahan publik Hong Kong.

Program Wu Guanzhong bahkan melangkah keluar dari tembok museum melalui Art Journey with Wu Guanzhong: Mobile Museum. Program ini hadir dalam bentuk bus seni edukatif yang menargetkan kunjungan ke lebih dari 140 sekolah dasar dan menengah di Hong Kong hingga 2027.

Dari Hong Kong ke Venezia

Konsistensi visi kuratorial HKMoA tidak hanya terasa di dalam museumnya. Pada Sabtu (9/5/2026) hingga Minggu (22/11/2026), HKMoA membawa suara Hong Kong ke panggung seni paling bergengsi di dunia melalui pameran Fermata: Hong Kong in Venice, bagian dari rangkaian 61st International Art Exhibition La Biennale di Venezia.

Dua seniman Hong Kong, Kingsley Ng dan Angel Hui, berhasil merancang karya yang disesuaikan khusus dengan ruang pameran di ajang tersebut. Secara konseptual, karya kedua seniman itu merespons tema Biennale 2026, yakni In Minor Keys. Tema ini merupakan ajakan untuk memperhatikan hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian dalam kehidupan sehari-hari.

Ng sendiri menghadirkan Laundry Nocturne, instalasi yang memproyeksikan siluet jemuran bambu khas Hong Kong di dinding ruang gelap, diiringi suara radio sayup-sayup. 

"Pameran ini adalah penghormatan bagi hal-hal yang tak terucap dan pertemuan-pertemuan tak terduga di lingkungan yang kita tinggali," ucap Ng.

"Karya-karya dalam pameran ini lahir dari cara saya memandang Hong Kong dan Venezia, dua kota yang terpisah jauh tapi menyimpan kesan yang saling bersahutan," imbuhnya.

Sementara Angel Hui, yang terampil dalam teknik lukisan tinta gongbi tradisional Tiongkok, menghadirkan jendela besi buatan tangan yang dikerjakan bersama pengrajin logam tradisional lokal Hong Kong dalam karya I Would Like to Open a Window for You.

Bagi Hui, penciptaan karya selalu bertolak dari benda-benda keseharian yang nyaris luput dari perhatian.

"Melalui eksperimentasi material, saya selalu menafsirkan ulang benda-benda sehari-hari dalam dialog dengan bahasa seni tradisional," kata Hui.

"Karya-karya baru ini melanjutkan pendekatan tersebut dengan cara yang lebih teatrikal dan penuh perenungan," lanjutnya.

Museum Director HKMoA Dr Maria Mok menggambarkan hubungan antara Hong Kong dan Venezia bukan dari kesamaan citra, melainkan dari kesamaan denyut kehidupan sehari-hari.

"Hong Kong dan Venezia terhubung lebih dari sekadar fakta bahwa keduanya adalah kota pelabuhan. Keduanya terikat oleh satu napas yang sama," ujar Mok.

"Pameran ini adalah undangan untuk memperlambat langkah, mengamati, mendengarkan, dan menemukan kembali keajaiban mendalam yang tersembunyi dalam ritme keseharian," lanjutnya.

Itulah yang sejak lama menjadi inti dari cara HKMoA bekerja. Museum ini tidak memisahkan tradisi dari modernitas, atau yang lokal dari yang global. Keduanya dipertemukan, dihidupkan, dan ditawarkan kepada siapa saja yang datang dengan rasa ingin tahu.

Tag:  #museum #seni #pertama #hong #kong #masuk #terpopuler #dunia #bisa #lihat #saja

KOMENTAR