10 Wisata Sejarah di Malang, Ada Museum dan Masjid Tertua
Monumen Juang 45 di Kota Malang(Shutterstock/ Daniel Ferryanto)
18:07
27 Maret 2026

10 Wisata Sejarah di Malang, Ada Museum dan Masjid Tertua


KOMPAS.com -  Kota Malang memiliki beragam destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi saat libur Lebaran.

Tak hanya menawarkan nilai edukasi, tempat-tempat ini juga menyuguhkan pengalaman wisata yang kaya akan cerita masa lalu.

Berikut 10 rekomendasi wisata sejarah di Malang

1. Museum Singhasari

Museum Singhasari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.KOMPAS.COM/Imron Hakiki Museum Singhasari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.Museum ini menjadi tempat penting untuk mengenal peninggalan Kerajaan Singasari atau Tumapel.

Berlokasi di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, museum seluas sekitar 3.000 meter persegi ini menyimpan berbagai artefak bersejarah.

Pengunjung dapat melihat arca Mahakal, Mahisha, Ganesha, Durga gaya Singasari, hingga Prajna Paramita yang terkenal dengan nilai seni tinggi.

Koleksi tersebut menggambarkan kejayaan kerajaan Hindu-Buddha di masa lampau, sekaligus menjadi sarana edukasi tentang sejarah Jawa Timur.

Baca juga: Indonesia Kalahkan Jepang, Masuk Daftar Negara Terindah di Dunia 2025

2. Museum Brawijaya

Museum Brawijaya di Kota MalangWikimedia Commons Museum Brawijaya di Kota MalangTerletak di Jalan Besar Ijen No. 25A, museum ini menyimpan koleksi benda militer dari masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Melansir Asosiasi Museum Indonesia, koleksi yang ditampilkan mencakup senjata, kendaraan perang, hingga dokumentasi sejarah.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Gerbong Maut, gerbong besi yang digunakan untuk mengangkut puluhan pejuang dari Bondowoso ke Surabaya dalam kondisi tertutup tanpa ventilasi.

Peristiwa tersebut menjadi simbol kekejaman penjajah sekaligus pengingat perjuangan para pahlawan.

Baca juga: Turis Malaysia Doyan Wisata ke PIK, sampai Buka Jastip Barang Lokal

3. Museum Mpu Purwa

Museum Mpu Purwa di Malangkebudayaan.kemdikbud.go.id Museum Mpu Purwa di MalangMuseum ini menampilkan koleksi artefak purbakala dari berbagai kerajaan di Pulau Jawa. Mulai dari arca, prasasti, hingga patung dengan nilai sejarah tinggi dapat ditemukan di sini.

Nama Mpu Purwa diambil dari tokoh religius dalam masyarakat Jawa kuno, khususnya di wilayah Jawa Timur.

Museum ini cocok bagi pengunjung yang ingin memahami perkembangan budaya dan kepercayaan masyarakat masa lalu secara lebih mendalam.

Baca juga: Akhir Libur Lebaran, Nikmati Parade Satwa dan Interaksi Edukatif di Kebun Binatang

4. Indonesian Old Cinema Museum

Sejumlah proyektor layar tancap yang ada di Indonesian Old Cinema Museum di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (14/2/2018).KOMPAS.com/ANDI HARTIK Sejumlah proyektor layar tancap yang ada di Indonesian Old Cinema Museum di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (14/2/2018).

Melansir Kompas.com (15/11/2022), museum ini menghadirkan nostalgia dunia perfilman Indonesia, khususnya era layar tancap.

Pengunjung dapat melihat berbagai koleksi seperti gulungan film, layar putih, proyektor, hingga perlengkapan bioskop keliling yang dulu populer di berbagai daerah.

Tempat ini memberikan gambaran bagaimana masyarakat menikmati hiburan sebelum era bioskop modern berkembang.

5. Kelenteng Eng An Kiong

Kelenteng Eng An Kiong di Kota Malang, Jawa Timur. KOMPAS.com/ Nugraha Perdana Kelenteng Eng An Kiong di Kota Malang, Jawa Timur. Kelenteng yang berdiri sejak 1825 ini merupakan salah satu situs bersejarah penting di Malang.

Terletak di Jalan R.E. Martadinata, kelenteng ini menjadi tempat ibadah bagi penganut Buddha, Konghucu, dan Taoisme.

Selain sebagai tempat ibadah, bangunan ini juga ditetapkan sebagai cagar budaya. Arsitekturnya yang khas dengan ornamen Tionghoa klasik menjadi daya tarik tersendiri.

Pendiri kelenteng ini adalah Letnan Kwee Sam Hway.

6. Kawasan Ijen

Kawasan Ijen dikenal sebagai area bersejarah dengan deretan bangunan peninggalan kolonial Belanda.

Salah satu ikon di kawasan ini adalah Gereja Katedral Santa Theresia atau Gereja Ijen.

Dibangun sejak 1935 oleh arsitek Belanda Herman Thomas Karsten, kawasan ini memiliki tata kota yang rapi dengan jalan-jalan lebar.

Nama-nama jalannya diambil dari gunung-gunung terkenal di Indonesia seperti Ijen, Bromo, dan Semeru, menambah nilai unik kawasan ini.

Baca juga: Museum Zoologi Bogor Kini Punya Ruang Imersif Immerzoa, Wisata Keluarga Lebih Seru

7. Museum Ganesya

Berbagai koleksi di Museum Ganesya, Kota Malang, Selasa (14/1/2020)KOMPAS.com/ANDI HARTIK Berbagai koleksi di Museum Ganesya, Kota Malang, Selasa (14/1/2020)

Museum yang dibuka pada 2019 ini menghadirkan koleksi artefak dari masa Kerajaan Majapahit dan Singasari.

Berlokasi di kawasan Hawai Water Park, museum ini menampilkan berbagai benda seperti genteng, guci, anglo, hingga banaspati.

Selain itu, terdapat pula replika pusaka kerajaan yang dibuat menyerupai aslinya.

Museum ini cocok untuk wisata edukasi keluarga karena penyajiannya cukup menarik dan mudah dipahami.

Baca juga: 5 Wisata Edukasi Anak di Purbalingga: Akuarium Raksasa hingga Goa Lava

8. Monumen Juang 45

Monumen yang terletak di kawasan Stasiun Kota Malang ini menjadi simbol perjuangan rakyat Malang dalam mempertahankan kemerdekaan pada 1945–1949.

Bentuk monumen berupa patung yang menggambarkan rakyat melawan sosok raksasa yang melambangkan penjajah.

Keberadaan monumen ini mengingatkan generasi muda akan pentingnya menghargai jasa para pahlawan.

9. Kayutangan Heritage

Wisata Kampung Kayutangan Heritage menjadi marget kunjungan wisata di Kota Malang pada tahun 2025. (KOMPAS.com/ Putu Ayu Pratama Sugiyo) KOMPAS.com/ PUTU AYU PRATAMA SUGIYO Wisata Kampung Kayutangan Heritage menjadi marget kunjungan wisata di Kota Malang pada tahun 2025. (KOMPAS.com/ Putu Ayu Pratama Sugiyo) Kawasan yang juga dikenal sebagai Kampoeng Heritage Kajoetangan ini menyajikan suasana kota lama dengan bangunan kolonial Belanda yang masih terjaga.

Bangunan-bangunan tersebut dibangun antara 1870 hingga 1920, dengan sekitar 22 struktur cagar budaya yang masih difungsikan sebagai rumah tinggal maupun tempat usaha.

Jalanan kecil dan suasana klasik menjadikan kawasan ini cocok untuk wisata sejarah sekaligus fotografi.

Baca juga: Jalan-jalan di Salatiga, Bisa Nikmati Nuansa Alam hingga Wisata Edukasi

10. Masjid Bungkuk

Tampak dalam masjid Bungkuk, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.KOMPAS.COM/Imron Hakiki Tampak dalam masjid Bungkuk, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.Masjid At-Thohiriyah atau Masjid Bungkuk merupakan masjid tertua di Malang.

Melansir Kompas.com (20/4/2022), masjid ini didirikan oleh Kyai Hamimuddin atau Mbah Bungkuk, seorang laskar Pangeran Diponegoro.

Awalnya, masjid ini hanya berupa gubuk sederhana di tengah hutan.

Kini, masjid tersebut menjadi simbol penyebaran Islam di kawasan Singosari.

Di bagian belakang masjid terdapat makam Mbah Bungkuk yang kerap diziarahi oleh masyarakat.

Beragam destinasi tersebut menawarkan pengalaman wisata sejarah yang tidak hanya menambah wawasan, melainkan juga memberikan cara berbeda dalam menikmati libur Lebaran di Malang.

Tag:  #wisata #sejarah #malang #museum #masjid #tertua

KOMENTAR