Harmoni di Buleleng, Saat Tari Burdah Muslim Pegayaman Menyatu dengan Adat Bali
Ilustrasi orang Bali.(PIXABAY/INNOKURNIA)
10:07
22 April 2026

Harmoni di Buleleng, Saat Tari Burdah Muslim Pegayaman Menyatu dengan Adat Bali

Tari Burdah menjadi salah satu penampilan utama dalam Festival Seni, Adat, dan Budaya Kecamatan Sukasada (Festasada) 2026 di Taman Bung Karno, Kabupaten Buleleng, Bali, Minggu (19/4/2026) malam.

Tarian itu dibawakan dua orang lelaki dengan enerjik. Mereka menati diiringi tabuhan rebana, musik tradisional Timur Tengah. Para penabuh duduk berjajar di belakang.

Menariknya, penampil dan penabuh yang merupakan warga muslim Desa Pegayaman itu mengenakan busana adat Bali lengkap dengan udeng.

Baca juga: Masyarakat Bandung Makin Gampang ke Bali, Bisa Naik KA Sangkuriang

Perpaduan musik dan syair islami dengan kostum tradisional Bali itu menciptakan nuansa harmoni.

Penampilan tari burdah dalam Festival Seni, Adat, dan Budaya Kecamatan Sukasada (Festasada) 2026 di Taman Bung Karno, Kabupaten Buleleng, Bali, Minggu (19/4/2026) malam.Dinas Kominfosanti Kabupaten Buleleng Penampilan tari burdah dalam Festival Seni, Adat, dan Budaya Kecamatan Sukasada (Festasada) 2026 di Taman Bung Karno, Kabupaten Buleleng, Bali, Minggu (19/4/2026) malam.

Tari Burdah sendiri dikenal sebagai tradisi yang berkembang di komunitas Muslim Pegayaman, Buleleng.

Pelaksana Tugas (Plt) Camat Sukasada, I Komang Budiarsana, menyampaikan festival ini berhasil menjadi ruang ekspresi sekaligus penguat identitas budaya masyarakat.

“Tidak hanya meriah, tetapi juga mampu menghadirkan kekuatan budaya lokal yang menjadi jati diri masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap Festasada dapat terus digelar secara berkelanjutan dan berkembang menjadi agenda budaya unggulan.

Selain tari burdah, penutupan Festasada 2026 juga dimeriahkan berbagai penampilan seni lainnya.

Tari Kebesaran Winayaka yang dibawakan Komunitas Temblelung SMKN 1 Sukasada turut menyita perhatian penonton.

Baca juga: 7 Rekomendasi Makanan Khas Bali yang Halal dengan Bumbu Melimpah

Sebelumnya, festival juga menampilkan Tari Selat Segara, baleganjur, hingga tradisi menggoak-goakan dari Desa Panji.

Selain itu, ada pula Rejang Renteng yang memperkaya ragam pertunjukan.

Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menekankan pentingnya Festasada sebagai wadah pelestarian sekaligus pengembangan budaya lokal.

“Festasada Tahun 2026 menjadi wadah yang sangat strategis untuk menampilkan, melestarikan, sekaligus mengembangkan potensi seni, adat, dan budaya yang ada di kawasan Kecamatan Sukasada,” ujarnya.

Festival yang digelar selama tiga hari, 17–19 April 2026, ini dinilai menjadi cara menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi.

“Festasada tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga berperan sebagai ruang edukasi, promosi daerah, serta penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal,” kata Sutjidra.

Baca juga: 8 Rekomendasi Warung Makan Halal di Bali, Harga Pelajar

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku seni terus terjaga agar festival ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata.

“Saya berharap melalui kegiatan ini akan tumbuh semangat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para pelaku seni budaya untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya yang kita miliki,” ucapnya.

Tag:  #harmoni #buleleng #saat #tari #burdah #muslim #pegayaman #menyatu #dengan #adat #bali

KOMENTAR