Landhuis Tjimanggis, Sejarah Depok yang Nyaris Terkikis
BisKita yang aku tumpangi melaju kencang dari terminal Depok menyusuri jalan raya Bogor. Kawasan ini masih lumayan teduh dengan banyaknya pohon rindang di tepi jalan, meskipun tidak seperti zaman aku kuliah dulu. Tujuan kali ini adalah menyambangi Museum Rumah Cimanggis Depok.
Tepat di depan kompleks RRI, aku turun dari bis. Aku mengandalkan google maps karena memang belum pernah ke sini. Betul, aku tinggal di Depok tapi selama ini tidak sempat ke Museum Rumah Cimanggis. Mungkin karena letaknya yang agak jauh dari jejak peninggalan bersejarah lainnya di wilayah Depok.
Untuk memastikan lokasinya, aku juga bertanya pada satpam yang berjaga di depan gerbang kompleks. Dia mengatakan, kalau jalan kaki kira-kira hampir satu kilometer. Tak apalah, pikirku. Sekalian aku berolahraga agar tubuh menjadi sehat.
Baca juga: Naik DAMRI ke Baduy Cuma Rp 1 Pakai QRIS, Catat Tanggalnya
Sebelum melanjutkan perjalanan, aku melihat ada penjual nasi pecel Madiun. Aku langsung tergoda dan akhirnya mampir membeli sepiring nasi pecel. Hitung-hitung untuk energi berjalan nanti.
Setelah kenyang, aku kembali berjalan kaki dengan melewati beberapa belokan. Eh lumayan juga jaraknya. Udara panas membuat aku merasa jaraknya lebih panjang.
Berkali-kali aku menengok google maps di gawai. Ternyata berhenti di depan sebuah gerbang. Di dalamnya ada beberapa gedung pusdiklat. Tapi yang mana landhuis Tjimanggis? Aku tidak melihat adanya gedung kuno.
Museum Rumah Cimanggis
Melihat aku celingukan, seorang satpam datang dan menanyakan keperluanku. Aku jawab terus terang mencari Museum Rumah Cimanggis. Apakah betul ada di sini?
"Betul Bu. Itu ada di sana, setelah masuk sini belok kiri. Masih tertutup seng jadi tidak kelihatan dari luar," jelas dia.
Baca juga: 7 Hal Seru yang Cuma Bisa Kamu Temukan di Tana Toraja, Negeri di Atas Awan
Ooh pantaslah tidak terlihat dari luar. Rumah Cimanggis dikelilingi pagar seng yang cukup tinggi, terlindungi dari pandangan orang luar. Jadi sebetulnya museum ini belum dibuka untuk umum. Aku pun mengintip dari balik pagar seng.
Menurut satpam tersebut, ada seorang penjaga di dalam. Kalau mau masuk, bisa pencet bel atau memanggil dia dengan berteriak. Tentu saja ini berlaku dalam situasi khusus karena aku mengaku sebagai seorang penulis. Kalau orang biasa, belum tentu dikasih izin.
Mengintip dari balik pagar seng. (Dokumentasi Pribadi)
Sejarah Landhuis Tjimanggis
Museum Rumah Cimanggis, pada zaman Belanda disebut Landhuis Tjimanggis. Sebelum dibangun, tadinya adalah kawasan lahan perkebunan milik Je Manns. Petinggi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) ke-29, Petrus Albertus Van Der Parra membelinya dengan tujuan khusus.
Landhuis Tjimanggis tahun 1930 (dok.lostjakarta)
Kemudian Petrus Albertus Van Der Parra membangun sebuah rumah besar yang dipersembahkan untuk istrinya, Adriana Johanna Bake. Pembangunan memakan waktu antara tahun 1771-1775. Namun sayangnya Gubernur Jenderal tersebut wafat sebelum rumah tersebut selesai.
Baca juga: 5 Pantai di Pangandaran dengan Pemandangan Instagramable dengan Suasana Tenang
Sang istri, Johanna Bake akhirnya tidak mau tinggal di sana. Dia hanya datang berkunjung sewaktu-waktu. Johanna memutuskan untuk tetap tinggal di Batavia. Padahal rumah Cimanggis itu sangat luas dan indah. Landhuis Tjimanggis hanya dijadikan rumah peristirahatan.
Jika sedang berkunjung, Johanna juga mengajak teman-temannya yang orang Belanda. Mereka lebih banyak beraktivitas di teras belakang rumah yang menghadap danau kecil. Danau itu bernama Situ Cimin, yang membuat rumah peristirahatan tersebut terasa lebih nyaman dan tenang.
Orang Belanda (dok.theequinest.id)
Rumah itu juga mendapat sebutan Gedong Tinggi Rumah Cimanggis. Julukan lain adalah Rumah Genteng Seribu karena atapnya yang besar dipenuhi genteng-genteng. Arsitekturnya memadukan gaya Eropa klasik yang disesuaikan dengan iklim tropis Hindia Belanda dengan jendela besar dan ventilasi udara.
Keberadaan landhuis Tjimanggis sebagai rumah peristirahatan telah mengangkat perekonomian masyarakat di sekitarnya. Kelak Johanna Bake mendirikan pasar Cimanggis untuk jual beli kuda sehingga terkenal bagi perantau dan pelaku perjalanan. Apalagi di sekitarnya juga terdapat rumah-rumah peristirahatan.
Pasar Cimanggis ini berlokasi di sebelah Timur landhuis Tjimanggis. Kemudian pasar ini berkembang menjadi tempat masyarakat berjual beli hasil perkebunan dan pertanian.
Baca juga: Liburan ke Yogyakarta dari Jakarta pada Akhir Pekan, KA Progo Jadi Pilihan Nyaman
Berpindah tangan
Rumah Cimanggis kemudian sempat berkali-kali pindah tangan. Pernah dimiliki oleh seorang pengusaha bernama David Smith. Sayangnya dia lalu jatuh bangkrut. Kemudian seorang kapitan Tionghoa membelinya.
Di tangan sang kapitan, ada beberapa perubahan dilakukan pada Rumah Cimanggis. Sentuhan gaya Tionghoa di atap yang berbentuk lancip mirip ekor burung Hong di Tiongkok. Namun kepemilikan itu juga tidak bertahan lama. Pada tahun 1935, Landhuis Tjimanggis jatuh ke tangan Samuel de Meyer.
Landhuis Tjimanggis sempat dikunjungi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada masa berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia. Dia adalah Hubertus Johannes Van Mook sekitar tahun 1946-1947.
Pasca kemerdekaan tahun 1964, pemerintah Indonesia membangun tiga pemancar RRI di kawasan tersebut. Rumah Cimanggis menjadi bagian dari area yang disediakan untuk kompleks RRI.
Kehancuran landhuis Tjimanggis
Meskipun pernah menjadi tempat tinggal karyawan RRI, lambat laun Rumah Cimanggis ditinggalkan. Akibatnya, rumah tersebut tidak terawat dan semakin rusak.
Di sisi lain, pemerintah membangun perumahan untuk karyawan Departemen Penerangan. Karyawan RRI juga pindah ke kompleks tersebut. Rumah Cimanggis menjadi kosong. Rumah Cimanggis semakin bobrok, atap-atapnya mulai runtuh.
Lalu lahan di sekitar Cimanggis itu dibeli dan dibangun untuk Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Termasuk di dalamnya adalah area Rumah Cimanggis. Berhubung Rumah Cimanggis sudah nyaris tak berbentuk, pihak UIII tadinya memutuskan untuk meratakan bangunan tersebut.
Baca juga: Ikan Patin Suka Hancur Saat Dimasak? Coba 4 Langkah Mudah Ini
Rencana itu jelas mengagetkan para pemerhati sejarah, khususnya wilayah Depok. Bagaimana mungkin bangunan yang menjadi saksi sejarah tersebut akan dihilangkan. Salah seorang sejarawan terkenal, JJ Rizal, yang juga teman saya, bersuara keras menentang penghancuran terhadap Rumah Cimanggis.
Berkat gerakan mereka, Rumah Cimanggis batal diratakan. Landhuis Tjimanggis berhasil dipertahankan. Bahkan kemudian direnovasi secara besar-besaran oleh pemerintah kota Depok. Rumah Cimanggis ditetapkan sebagai Museum Rumah Cimanggis. Hanya saja sampai sekarang belum dibuka untuk umum.
Peralatan kuno RRI. (Dokumentasi Pribadi)
Aku menikmati suasana di Rumah Cimanggis yang sudah kembali megah, dilengkapi pilar-pilar yang tinggi dan kokoh. Di dalam ruangan disimpan beberapa peralatan kuno koleksi RRI. Ada ruang kerja yang juga merupakan properti milik RRI.
Pintu besar. (Dokumentasi Pribadi)
Pintu-pintu besar dengan ventilasi udara membuat ruangan tetap sejuk. Begitu pula dengan jendela-jendela kayu yang besar sesuai dengan ukuran zaman dahulu. Di teras belakang terdapat beberapa perangkat meja kursi kuno. Duduk di sana dengan angin semilir membuat aku terkantuk-kantuk sambil mendengarkan cerita dari si penjaga Landhuis Tjimanggis.
Apakah di sini sering ada penampakan? Tentu saja. Ini biasa terjadi di gedung-gedung tua peninggalan zaman Belanda. Menurut penjaga, kalau malam hari sering terdengar suara pesta dan celoteh banyak orang di dalam ruangan. Namun dia tidak takut, mereka sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Aku jadi penasaran.
Teras belakang Rumah Cimanggis. (Dokumentasi Pribadi)
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Landhuis Tjimanggis, Sejarah Depok yang Nyaris Terkikis"
Tag: #landhuis #tjimanggis #sejarah #depok #yang #nyaris #terkikis