Kilas Balik Gedung Pancasila, Lokasi Peringatan Hari Lahir Pancasila
Gedung Pancasila, Jakarta menjadi lokasi upacara Hari Lahir Pancasila, yang dipimpinn langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, Senin (1/6/2026).
Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan, Gedung Pancasila merupakan lokasi sidang BPUPKI yang menghasilkan rumusan dasar negara Indonesia Pancasila.
Saat ini, Gedung Pancasila berada di Kompleks Kementerian Luar Negeri RI.
Baca juga: Hari Lahir Pancasila Apakah Libur? Ini Kalender Bulan Juni 2026
Kilas balik Gedung Pancasila Era Belanda
Dilansir dari situs resmi Kementerian Luar Negeri, pada zaman Hindia Belanda, Gedung Pancasila disebut juga dengan Gedung Volksraad.
Tidak ada catatan resmi mengenai kapan tepatnya Gedung Pancasila tersebut mulai dibangun.
Beberapa literatur menunjukkan bahwa pembangunannya dilaksanakan kira-kira pada tahun 1830.
Gedung tersebut awalnya dibangun sebagai rumah kediaman Panglima Angkatan Perang Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, yang juga merangkap sebagai Letnan Gubernur Jenderal.
Baca juga: Siap-siap! Long Weekend Hari Lahir Pancasila Sambut Bulan Juni 2026
Dahulu, gedung ini dibangun di atas sebuah taman yang indah yang kemudian dikenal dengan Taman Hertog.
Nama ini berasal dari Hertog van Saksen Weimar yang menjabat sebagai Panglima dari tahun 1848-1851.
Nama tersebut kemudian berganti menjadi Taman Pejambon. Di sekitar Pejambon dahulu juga terdapat sebuah kompleks militer.
Baca juga: Sejarah Hari Lahir Pancasila, Awal Mula hingga Jadi Libur Nasional
Panglima berdiam di Taman Hertog sampai tahun 1916. Pada tahun 1914-1917, Departemen Urusan Peperangan Hindia Belanda dipindahkan ke Bandung yang diikuti juga dengan kepindahan Panglima ke kota tersebut.
Gedung bekas kediaman Panglima ini kemudian beralih menjadi tempat konferensi Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad).
Maka dari itu, gedung ini diresmikan menjadi Gedung Volksraad pada Mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Limburg Stirum.
Baca juga: Menelusuri Peristiwa G30S di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya
Kilas balik Gedung Pancasila era Jepang
Pada tahun 1943, Pemerintah Militer Jepang di Indonesia membentuk badan Tyuuoo Sangi-In yaitu Badan Pertimbangan Pusat di Jakarta.
Badan tersebut bertugas mengajukan usulan kepada pemerintah dan menjawab pertanyaan pemerintah tentang masalah-soal politik dan memberikan pertimbangan tentang tindakan apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah Militer Jepang.
Sidang Tyuuoo Sangi-In yang pertama dan sidang-sidang berikutnya berlangsung di bekas Gedung Volksraad, Jalan Pejambon No. 6, Jakarta.
Baca juga: 13 Tempat Wisata di Ende NTT, Kota Pancasila
Dalam konferensi pertama yang berlangsung pada tanggal 16-20 Oktober 1943, telah dibentuk 4 Komisi yang bertugas untuk menjawab pertanyaan Saiko Syikikan tentang cara mencapai kemenangan dalam Perang Pasifik.
Situasi Perang Pasifik tidak selalu menguntungkan pihak Jepang. Sesudah pasukan Tentara Sekutu, terutama tentara Amerika Serikat dapat mengkonsolidasikan diri.
Maka landasan demi landasan, pulau demi pulau di Pasifik direbut kembali. Kedudukan Tentara Jepang di Indonesia juga terancam, khususnya dari udara.
Dalam bertahan keadaan tersebut, Perdana Menteri Koiso dalam Taikoku Gikai atau sidang istimewa Parlemen Jepang ke-85 di Tokyo, 7 September 1944 kemudian menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia "di kelak kemudian hari nanti".
Baca juga: 4 Alasan Kenapa Ende disebut Kota Pancasila
Ketika usaha Jepang dalam peperangan sudah mengalami sketsa dari seluruh garis pertahanannya di Pasifik, maka pada tanggal 1 Maret 1945 Saiko Syikikan mengumumkan pembentukan Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK).
Tujuan politik pembentukan BPUPK tersebut adalah agar rakyat Indonesia tetap memberikan dukungan kepada Jepang, meskipun kedudukan militer Jepang di depan Pasifik sudah goyah.
Tugas badan ini adalah mempelajari soal-soal yang berhubungan dengan bidang politik, ekonomi, dan tata-pemerintahan yang diperlukan dalam usaha pembentukan Indonesia yang merdeka "di kelak kemudian hari".
Baca juga: Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Ini 6 Tempat untuk Memperingatinya
Dalam pidato radio tanggal 9 Maret 1945, pihak Gunseikan mengatakan bahwa kemerdekaan itu:
"Ibarat mendirikan gedung. Sebelum mendirikan gedung, terlebih dahulu batu besar itu haruslah dibikin mengambil tindakan-kuatnya, tetapi sebelum batu-batu besar itu diujudkan, maka perlu sekali dibikin rencana yang sempurna."
Pemikiran klasik kolonial serupa diulangi lagi oleh Gunseikan, yaitu ketika pada tanggal 29 April 1945 mengangkat anggota BPUPK.
BPUPK berkewajiban untuk:mempelajari dan menyelidiki segala urusan yang penting mengenai hal-hal politik, ekonomi, tata-usaha pemerintahan, kehakiman, pengamanan, lalu lintas, dan sebagainya yang diperlukan dalam usaha pembentukan Negara Indonesia, dan hal-hal itu harus dilaporkan kepada Gunseikan.
Dalam pidato tanggal 1 Juni 1945 di depan BPUPK, seorang anggota BPUPK yang bernama Soekarno meminta tugas BPUPK seperti yang dirumuskan pihak Jepang dengan mengatakan bahwa:
"Kalau benar semua ini harus diselesaikan terlebih dahulu, sampai njlimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semua tidak akan mengalami Indonesia Merdeka – sampai di lobang kubur!"
Upacara pembukaan BPUPK dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945 di bekas gedung Volksraad.
Acara pembukaan tersebut dihadiri oleh Panglima Wilayah ke-7 Jenderal Itakagi, dan Panglima Tentara ke-16 di Jawa Letnan Jenderal Nagano.
Dalam upacara pembukaan tersebut diadakan acara pengibaran bendera Jepang Hinomaru yang dilakukan oleh Mr. AG Pringgodigdo, dan pengibaran bendera Indonesia Sang Merah Putih yang dilakukan oleh Toyohiko Masuda.
Sidang BPUPK diadakan dari tanggal 29 Mei 1945 sampai 1 Juni 1945 dan dilanjutkan mulai tanggal 10-17 Juli 1945.
Sidang-sidang tersebut diadakan di bekas gedung Volksraad atau pada zaman Jepang yang dikenal sebagai Gedung Tyuuoo Sangi-In, yaitu Gedung Pancasila sekarang.
Tag: #kilas #balik #gedung #pancasila #lokasi #peringatan #hari #lahir #pancasila