Menaklukkan Air Terjun Blang Kolam, Wisata Canyoneering 70 Meter yang Viral di Aceh
Deru air yang jatuh dari ketinggian 70 meter memecah kesunyian pagi di kawasan Air Terjun Blang Kolam, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Rabu (10/6/2026).
Destinasi wisata alam ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu air terjun paling populer di Aceh. Kisahnya timbul tenggelam seiring perkembangan politik di Aceh.
Sempat sepi saat konflik berkepanjangan 15 tahun lalu. Kini, masyarakat lokal dan mahasiswa Unit Pecinta Alam Universitas Malikussaleh (UKM Umpal) mulai membenahinya lagi sejak November 2025 tahun lalu.
Fun canyoneering
Mereka menggagas destinasi menantang sekaligus memacu adrenalin, yakni fun canyoneering. Dimana, wisatawan menguji ketangguhan mental bergelantungan diatas tali di sela-sela air terjun. Berjungkir balik dengan beragam pose menantang dan butuh keberanian.
“Awalnya kami diajak pengibaran bendera Merah Putih raksasa Agustus 2025 lalu oleh Kodim 0103 Aceh Utara. Saat itulah kami terpikir, indah sekali, sayang tidak dikembangkan. Kita buatlah canyoneering,” terang Saifullah salah seorang tim canyoneering Lhokseumawe kepada Kompas.com.
Baca juga: 10 Hari Atraksi Budaya hingga Kuliner Khas, Festival Tabut 2026 Digelar di Bengkulu
Canyoneering di Air Terjun Blang Kolam, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Rabu (10/6/2026).
Dengan 10 teman sesama anggota UKM Umpal, mereka pun bicara dengan warga lokal dan merintis destinasi wisata itu. Sejak Agustus tahun lalu mereka melakukan survei membuat tali-temali, pemetaan jalur, hingga penyelamatan di alam terbuka untuk wisatawan. “Bagi kami keselamatan terpenting. Karena ketinggian air terjun 70 meter,” katanya.
Sejak diperkenalkan, kegiatan tersebut mulai menarik minat wisatawan dari berbagai daerah seperti Takengon Aceh Tengah, Idi Aceh Timur, Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireuen, hingga Medan Sumatera Utara.
Setiap akhir pekan, peserta berkumpul di area parkir Air Terjun Blang Kolam sebelum memulai petualangan. Dalam satu kali perjalanan atau open trip, jumlah peserta biasanya berkisar antara 20 hingga 25 orang.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, sementara proses turun ke lokasi canyoneering dimulai pukul 10.00 WIB dan berlangsung hingga sore hari sekitar pukul 16.30 WIB.
Perjalanan menuju titik awal dimulai dengan menuruni tangga menuju kawasan air terjun. Di tengah perjalanan, peserta akan berbelok ke kiri mengikuti papan petunjuk menuju lokasi aktivitas.
Dari titik tersebut, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 15 menit hingga mencapai area di atas air terjun, tempat para peserta bersiap mengenakan perlengkapan keselamatan.Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai.
Baca juga: Rayakan HUT Jakarta, Gratis Transportasi dan Tiket Masuk Tempat Wisata
Menggunakan teknik rappelling atau turun tebing dengan bantuan tali, peserta akan menuruni dinding batu di sekitar aliran air terjun. Bagi sebagian orang, terutama yang baru pertama kali mencoba, berdiri di bibir tebing dengan posisi tubuh menghadap ke bawah tentu menjadi pengalaman yang mendebarkan.
Namun rasa takut itu perlahan sirna berkat pendampingan instruktur yang berpengalaman. Sebelum turun, peserta mendapatkan pengarahan lengkap mengenai teknik dasar, posisi tubuh, penggunaan perlengkapan keselamatan, hingga cara mengatasi rasa gugup saat berada di ketinggian.
“Kalau ada yang takut turun, kami ajari triknya. Yang penting mengikuti instruksi dan tetap tenang,” ujar Saifullah.
Setiap kegiatan didampingi sekitar 10 orang kru dan pemandu yang bertugas di berbagai titik. Sebagian berada di atas tebing, sementara tim lainnya berjaga di bawah area air terjun untuk memastikan seluruh peserta dapat menyelesaikan lintasan dengan aman.
Menurut Saifullah yang bertugas pada bagian keamanan di area bawah air terjun, kesiapan fisik peserta juga menjadi perhatian penting.
“Peserta harus dalam kondisi fit, tidak sedang sakit, tidak darah rendah, dan siap mengikuti instruksi selama kegiatan berlangsung,” katanya.
Baca juga: Sambut Libur Sekolah Juni-Juli 2026, Ada Diskon Kereta Api, Kapal, dan Pesawat
Selain sensasi menuruni tebing, daya tarik lain yang membuat fun canyoneering di Blang Kolam semakin populer adalah dokumentasi foto dan video. Dengan biaya paket sekitar Rp350 ribu per orang, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman petualangan, tetapi juga dokumentasi visual yang menarik.
Tim dokumentasi akan mengambil gambar menggunakan telepon genggam selama perjalanan dan merekam momen-momen terbaik peserta. Di area bawah air terjun, fotografer menggunakan kamera DSLR untuk menghasilkan foto dengan kualitas lebih tinggi. Konsep yang diusung adalah “studio alam”, memanfaatkan latar air terjun, tebing batu, dan hijaunya hutan sebagai panggung alami yang memukau.
Tidak heran jika banyak hasil foto dan video peserta kemudian viral di media sosial dan menarik minat kalangan muda, khususnya perempuan, untuk ikut merasakan pengalaman serupa.
Di balik berkembangnya wisata petualangan ini, dukungan masyarakat setempat juga menjadi faktor penting. Warga sekitar menyambut baik aktivitas wisata yang menghadirkan pengunjung dari berbagai daerah. Kehadiran wisatawan turut memberikan dampak ekonomi melalui penggunaan area parkir, warung makan, hingga jasa pendukung lainnya.
Mapala Unimal sendiri tidak hanya menawarkan wisata petualangan, tetapi juga mengedukasi peserta mengenai keselamatan di alam bebas, pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, serta penghormatan terhadap kawasan wisata alam.
Baca juga: Penumpang KA Stasiun Kutoarjo Naik 13 Persen, Ini Alasannya
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabupaten Aceh Utara, Zulkifli, dihubungi terpisah mengapresiasi kreatifitas mahasiswa itu.
Dia menyebutkan, lembaganya mendukung pengembangan wisata. “Saya bersyukur masyarakat ikut mendukung wisata, kehadiran wisatawan luar Aceh menandakan wisata kita tidak kalah saing dan indah dibanding lokasi lain,” terangnya.
Dia pun berkomitmen pengembangan wisatawan tetap berbasis syariat Islam di Kabupaten Aceh Utara. “Sarana dan prasarana pelan-pelan terus kita lengkapi,” pungkasnya.
Bagi para pencinta tantangan, menuruni tebing di antara gemuruh air terjun bukan sekadar aktivitas rekreasi. Di Blang Kolam, setiap langkah adalah pelajaran tentang keberanian, kepercayaan diri, dan cara menikmati keindahan alam dari sudut pandang yang berbeda.
Tag: #menaklukkan #terjun #blang #kolam #wisata #canyoneering #meter #yang #viral #aceh