Kisah Bocah Lawan Putus Asa untuk Jemput Impian bersama Timnas di GBK
- Bagi sebagian besar anak Indonesia, melihat pemain timnas Indonesia dari dekat mungkin hanya sebatas impian.
Mereka biasanya mengenal para pemain Garuda melalui layar televisi, media sosial, atau tayangan pertandingan yang ditonton bersama keluarga.
Namun, bagi dua bocah asal Jawa Timur, Edzariel Gustan Alfahrezi dari Kediri dan Ceisya Geena Rasti Dinata dari Malang, mimpi itu berubah menjadi kenyataan pada FIFA Matchday Juni 2026.
Keduanya mendapatkan kesempatan menjadi pendamping pemain dalam dua laga internasional yang mempertemukan Timnas Indonesia dengan Oman (5/6/2026) dan Mozambik (9/6/2026) di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta.
Baca juga: Timnas Indonesia Menang Beruntun, Pengamat Nilai Herdman Capai Target
Kisah menyentuh itu menyertai keberhasilan Timnas Indonesia asuhan John Herdman menua dua kemenangan dan mendongkrak posisi di ranking FIFA.
Ada anak-anak yang berani bermimpi dan orang tua yang rela mendukung total, meski harus mengorbankan waktu, tenaga, hingga biaya pribadi.
Tiga Kali Mencoba Akhirnya Menginjak Rumput GBK
Bagi Edzariel Gustan Alfahrezi, kesempatan memasuki lapangan bersama penjaga gawang Timnas Indonesia, Emil Audero saat laga melawan Oman bukanlah sesuatu yang datang begitu saja.
Ia harus melewati beberapa kali kegagalan sebelum akhirnya terpilih sebagai player escort. Sang ibu, Tanti Dwi Prastiwi, masih mengingat perjuangan putranya yang tidak pernah menyerah mengikuti seleksi.
"Sebenarnya dia sudah pernah mengikuti seleksi pendamping timnas sejak babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia dan baru ketiga ini keterima sebagai pendamping pemain timnas, Alhamdulilah lolos," ujarnya kepada KOMPAS.com.
Baca juga: Pengamat Sebut Timnas Indonesia Dapat Ujian Berharga dari Oman dan Mozambik
Keberhasilan tersebut terasa semakin istimewa karena semuanya berawal dari keinginan sang anak sendiri. Sejak kecil Edzariel Gustan Alfahrezi memang sudah memiliki kecintaan besar terhadap sepak bola.
"Dia sering nonton Persik saat main di Kediri, dia juga ikut SSB Mahesa Dharma berposisi striker," kata perempuan yang biasa disapa Tanti itu.
Keinginan menjadi pendamping pemain timnas Indonesia membuat Tanti aktif mencari berbagai informasi pendaftaran melalui media sosial.
Meski begitu, setelah dua kali gagal ia sempat pesimistis. Apalagi jumlah peserta terus bertambah setiap kali seleksi dibuka.
"Ya enggak nyangka akhirnya kepilih, karena saat ikut seleksi yang ketiga ini saya sendiri udah bilang 'enggak usah ikut nanti enggak lolos lagi' karena yang ikut makin banyak," imbuhnya.
"Tapi anaknya ngotot 'enggak papa ma, pengen bikin video lagi', anaknya malah yang semangat. Terakhir pendaftaran kan tanggal 28 nah habis sholat Idul Adha tanggal 27 itu saya baru bikin video, jadi ya mepet banget," imbuhnya.
Edzariel Gustan Alfahrezi salah satu peserta pendamping timnas Indonesia dari Kediri, Jawa Timur saat FIFA Matchday Juni 2026 melawan Oman yang berakhir dengan skor 3-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Jumat (5/6/2026) malam.
Pengalaman yang Tak Bisa Dibeli dengan Uang
Kebahagiaan besar pun menyelimuti keluarga saat pengumuman tiba. Meski demikian, ada tantangan tersendiri karena siswa kelas 1 MIN 1 Kota Kediri itu harus berangkat ke Jakarta hanya bersama ayahnya.
Namun, keinginan menjemput kesempatan berdiri di rumput GBK bersama pemain Timnas Indonesia jauh lebih besar daripada rasa sedih karena tidak didampingi ibunya.
"Kalau buat saya pribadi meskipun ke Jakarta ini dengan akomodasi sendiri tapi dengan dia bisa sampai ke GBK itu kan kesempatan yang tidak dimiliki semua anak ya. Itu tidak sebanding dengan kebahagiaan anak dan pengalaman itu kan tidak bisa dibeli dengan uang ya," tutur Tanti Dwi Prastiwi.
Baca juga: Pelatih Mozambik Dibuat Kagum 29.889 Suporter Timnas Indonesia di SUGBK
Menurutnya, tidak semua anak memiliki kesempatan untuk merasakan atmosfer pertandingan internasional dari jarak yang begitu dekat.
"Ini kan seleksi langsung dari panpel timnas, ada pun yang ingin menjadi pendamping terus orang tuanya rela bayar itu belum pasti ada kesempatan juga," kata perempuan berusia 33 tahun itu.
"Seperti anak saya ini pertama kali ke Jakarta dan GBK itu menjadi memori waktu kecil meskipun belum jadi pemain tapi ikut bangga. Apalagi anak kecil itu pasti keingat terus memorinya," sambungnya.
Ceisya dan Mimpi yang Berawal dari Sebuah Video
Kisah serupa juga datang dari Kota Malang, Ceisya Geena Rasti Dinata, berhasil mewujudkan impiannya menjadi pendamping pemain pada laga kedua FIFA Matchday Juni 2026 saat timnas Indonesia vs Mozambik.
Bagi siswa SD Anak Saleh dan keluarganya, keberhasilan tersebut menjadi pencapaian yang sangat spesial.
Ceisya sebelumnya sudah pernah merasakan pengalaman sebagai player escort saat pertandingan Arema FC di Super League 2025-2026. Cuma, kesempatan hadir dalam laga internasional memiliki arti yang berbeda.
Ceisya Geena Rasti Dinata (tiga dari kanan) salah satu peserta pendamping timnas dari Kota Malang, Jawa Timur saat FIFA Matchday Juni 2026 Indonesia melawan Mozambik yang berakhir dengan skor 1-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Selasa (9/6/2026) malam.
Sang ibu, Endah Indrastin, mengaku tidak menyangka putrinya mampu lolos pada percobaan pertama mengikuti seleksi Pendamping Garuda.
Menariknya, ia mendaftarkan kedua anaknya sekaligus dengan mengirimkan video sesuai ketentuan panitia, namun kali ini keberuntungan berpihak kepada sang kakak.
"Nyangka enggak nyangka, nyangka sih karena itu bagian dari doa untuk bisa lolos. Cuma kalau dibilang enggak nyangka bener juga karena 'kok bisa ya terpilih jadi pendamping karena tidak ada background sepak bola bisa kepilih'. Bersyukur Alhamdulilah," tutur perempuan yang biasa disapa Indrastin itu.
Di balik keberhasilan tersebut, ada usaha yang tidak sedikit. Sebab, sejak awal proses pendaftaran, Ceisya Geena Rasti Dinata, menunjukkan kesungguhan yang luar biasa.
"Kakak sangat senang mengikuti kegiatan ini, dari awal dia sudah bertekad sejak pembuatan video sangat totalitas dalam berlatih. Agar bisa lolos seleksi pendamping pemain di FIFA Matchday," imbuhnya.
Baca juga: Air Mata Pendamping Nathan Tjoe-A-On dan Perjalanan Impian dari Manado ke SUGBK
Belajar Berani dan Percaya Diri di Stadion GBK
Meski berhasil lolos menjadi pendamping pemain timnas, anak berusia 7 tahun itu sempat merasakan sedikit kekecewaan. Ia berharap bisa berjalan memasuki lapangan bersama salah satu pemain favoritnya, Rizky Ridho.
Namun kenyataannya, ia mendapat kesempatan mendampingi salah satu pemain tim tamu dari Mozambik.
Bagi orang tuanya, hal tersebut bukan sesuatu yang perlu disesali. Justru pengalaman tampil di hadapan puluhan ribu penonton menjadi pelajaran yang jauh lebih berharga.
"Kami menguatkan 'enggak papa yang penting sudah berani di depan banyak orang dan berhasil'," gitu," kata Endah Indrastin.
Ceisya Geena Rasti Dinata salah satu peserta pendamping timnas dari Kota Malang, Jawa Timur foto bersama adiknya saat FIFA Matchday Juni 2026 Indonesia melawan Mozambik yang berakhir dengan skor 1-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Selasa (9/6/2026) malam.
Menurutnya dan suami, pengalaman tersebut memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar berjalan bersama pemain sepak bola.
"Untuk itu akomodasi sendiri ke Jakarta ini sebagai dukungan kami selaku orang tua dan ini bisa memberikan pengalaman baru ke anak," kata perempuan berusia 30 tahun itu.
"Terlebih ini bisa menjadi pengalaman berharga untuk anak dan harapan bisa membangun percaya diri anak agar lebih terlatih lagi apabila berhadapan di banyak orang," pungkasnya.
Tag: #kisah #bocah #lawan #putus #untuk #jemput #impian #bersama #timnas