Wall Street Melemah Dua Hari Beruntun, Harga Minyak Bergejolak Dipicu Konflik Iran
Saham-saham di Wall Sreet Amerika Serikat berhasil memangkas tekanan pada akhir perdagangan Kamis (19/3/2926) waktu setempat (Jumat pagi WIB), di tengah pelemahan harga minyak seiring pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru konflik Iran.
Seperti dikutip dari CNBC, Indeks S&P 500 ditutup turun 0,27 persen ke level 6.606,49. Nasdaq Composite melemah 0,28 persen menjadi 22.090,69, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 203,72 poin atau 0,44 persen ke 46.021,43.
Meski demikian, ketiga indeks bangkit dari posisi terendah harian, saat Dow sebelumnya merosot hampir 500 poin atau sekitar 1,1 persen, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sempat turun sekitar 1 persen dan 1,4 persen.
Penurunan tersebut menandai dua hari berturut-turut ketiga indeks utama Wall Street berakhir di zona merah.
Baca juga: Wall Street Tertekan Usai Serangan Iran, Harga Minyak Nyaris Tembus 100 Dollar AS
Di pasar energi, harga minyak duni beragam. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun tipis sekitar 0,2 persen ke 96,14 dollar AS per barrel.
Sementara minyak Brent naik sekitar 1,2 persen ke 108,65 dollar AS per barrel, sekaligus menjadi level penutupan tertinggi sejak Juli 2022.
Namun, harga minyak sempat melunak setelah penutupan perdagangan, menyusul pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut Israel membantu Amerika Serikat, termasuk dalam hal intelijen, untuk membuka Selat Hormuz. Ia juga mengklaim Iran telah kehilangan kemampuan memperkaya uranium dan memproduksi rudal balistik, serta menilai konflik berpotensi berakhir lebih cepat dari perkiraan.
Sebelumnya, harga minyak global sempat melonjak setelah Iran menyerang fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) utama di Qatar pada Rabu. Serangan tersebut merupakan respons atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars milik Iran.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa jika serangan terhadap fasilitas di Qatar berlanjut, Amerika Serikat akan merespons dengan menghancurkan seluruh ladang gas South Pars secara besar-besaran.
Analis Vital Knowledge, Adam Crisafulli, menilai situasi saat ini masih menyisakan dilema besar. Menurut dia, meskipun AS dan Israel dianggap unggul secara militer, belum ada solusi nyata untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa pengerahan pasukan darat. Artinya, jalur strategis tersebut kemungkinan belum akan pulih tanpa kesepakatan diplomatik.
Di tengah terhentinya lalu lintas di Selat Hormuz, para pemimpin Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang menyatakan kesiapan untuk mendukung upaya menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.
Chief investment officer One Point BFG Wealth Partners, Peter Boockvar, mengatakan pada awal konflik, pasar sempat yakin perang akan segera berakhir sehingga gangguan pasokan dinilai hanya sementara. Namun, memasuki pekan keempat, persepsi itu mulai berubah.
Investor kini mulai melihat kemungkinan konflik berlangsung lebih lama dan harga komoditas tidak akan kembali ke level sebelum perang. “Saya rasa harga minyak tidak akan kembali ke 65 dollar AS per barel,” ujarnya.
Selain faktor geopolitik, Boockvar juga menilai kekhawatiran di sektor teknologi dan kredit swasta yang sudah muncul sebelum perang akan tetap berlanjut. Karena itu, investor perlu lebih selektif dalam mengelola portofolio.
Dari sektor teknologi, saham Micron Technology turun 3,8 persen. Analis Citi menilai penurunan ini lebih disebabkan aksi ambil untung, setelah lonjakan pendapatan perusahaan yang hampir tiga kali lipat pada kuartal terakhir berkat kelangkaan pasokan memori.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Saham Global Tertekan
Tag: #wall #street #melemah #hari #beruntun #harga #minyak #bergejolak #dipicu #konflik #iran