Rumah Kolonial Berusia 1 Abad Ini Mengubah Cara Hidup Penghuninya, Lebih Slow Living
Tinggal di rumah kolonial berusia 100 tahun membuat Reza Andriyanto menjalani hidup lebih pelan, tenang, dan minim screen time.(dok. Kompas.com/Ida Setya)
20:10
21 Mei 2026

Rumah Kolonial Berusia 1 Abad Ini Mengubah Cara Hidup Penghuninya, Lebih Slow Living

Tinggal di rumah tua ternyata bukan hanya soal mempertahankan bangunan bersejarah.

Bagi Reza Andriyanto, rumah kolonial berusia lebih dari 100 tahun yang kini ditempatinya justru ikut membentuk cara hidup sehari-hari.

Rumah bernama nDalem Doyoatmodjo yang berlokasi di area Sriwedari, Surakarta ini selesai dibangun pada 1924 dan kini menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Kota Solo.

Di balik dinding fresko, lantai lawas, dan nuansa kolonial yang masih dipertahankan, Reza mengaku hidupnya berubah menjadi lebih pelan dan tenang.

"Di sini semua rasanya memang lebih slow down, lebih pelan-pelan dan lebih berhati-hati juga," ujar Reza saat ditemui Kompas.com, di nDalem Doyoatmodjo, Kamis (21/5/2026).

Menurut aktor sekaligus pengusaha ini, ambience rumah memiliki pengaruh besar terhadap suasana hati hingga cara seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.

Ia merasa rumah dengan karakter kolonial menghadirkan ritme hidup yang berbeda dibanding hunian modern pada umumnya.

Baca juga: Kebermaknaan Hidup dan Pola Pikir Slow Living

Tinggal di rumah kolonial berusia 100 tahun membuat Reza Andriyanto menjalani hidup lebih pelan, tenang, dan minim screen time.dok. Kompas.com/Ida Setya Tinggal di rumah kolonial berusia 100 tahun membuat Reza Andriyanto menjalani hidup lebih pelan, tenang, dan minim screen time.

Jarang Nonton TV, Lebih Banyak Menikmati Aktivitas

Bahkan, kebiasaan sehari-harinya ikut berubah saat tinggal di rumah tersebut.

Reza mengaku kini lebih sering menikmati aktivitas sederhana yang terasa dekat dengan kehidupan tempo dulu, sekaligus menjalani hari-hari dengan lebih minim screen time.

"Jujur juga di sini aku jarang sekali nonton TV atau main gadget," katanya.

Sebagai gantinya, ia lebih banyak membaca buku, berjalan kaki di taman rumah, hingga menghabiskan waktu memberi makan unggas peliharaan.

Aktivitas-aktivitas sederhana itu membuatnya merasa lebih rileks dan menikmati waktu dengan lebih sadar.

Menurut Reza, suasana rumah yang tenang membuat dirinya lebih menikmati momen-momen kecil dalam keseharian.

Tinggal di rumah kolonial berusia 100 tahun membuat Reza Andriyanto menjalani hidup lebih pelan, tenang, dan minim screen time.Instagram @rezandriyanto Tinggal di rumah kolonial berusia 100 tahun membuat Reza Andriyanto menjalani hidup lebih pelan, tenang, dan minim screen time.

Selalu Berpakaian Rapi sebagai Bentuk Menghormati Rumah

Tidak hanya memengaruhi ritme hidup, rumah itu juga membentuk kebiasaan Reza dalam berpakaian.

Ia mengaku sebisa mungkin tetap mengenakan pakaian rapi saat berada di rumah sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sejarah bangunan tersebut.

"Ini adalah bentuk aku mengapresiasi rumah ini dengan berpakaian sepantasnya di dalam rumah ini," ujar dia.

Reza biasanya mengenakan kemeja batik atau beskap modern untuk kegiatan sehari-hari di rumah.

Baginya, cara berpakaian turut memengaruhi sikap dan pembawaan diri.

"Pada saat berpakaian rapi, ada sensasi bahwa harus lebih sopan, lebih ramah, dan lebih wibawa dalam menjalankan aktivitas sehari-hari," katanya.

Baca juga: 9 Hobi Slow Living agar Hidup Lebih Bahagia dan Tenang

Tinggal di rumah kolonial berusia 100 tahun membuat Reza Andriyanto menjalani hidup lebih pelan, tenang, dan minim screen time.dok. Kompas.com/Ida Setya Tinggal di rumah kolonial berusia 100 tahun membuat Reza Andriyanto menjalani hidup lebih pelan, tenang, dan minim screen time.

Rumah Berusia Seabad yang Tetap Dipertahankan

Rumah yang ditempati Reza memang memiliki sejarah panjang. Bangunan itu awalnya dimiliki kapten Tionghoa bernama Kwee Tjien Gwan dan telah melewati berbagai masa, mulai dari era kolonial, pendudukan Jepang, hingga kemerdekaan Indonesia.

Rumah seluas 8.000 meter persegi itu juga sempat dimiliki musisi sekaligus budayawan Setiawan Djody.

Pada 2005, rumah tersebut kemudian berpindah kepemilikan dan mulai direvitalisasi oleh keluarga KPH. H. Nur Harjanto Doyoatmodjo dengan prinsip mempertahankan karakter aslinya.

Sebagai informasi, Reza Andriyanto merupakan salah satu keturunan dari keluarga Doyoatmodjo.

Berbagai elemen lama seperti panel kayu, lantai, hingga lukisan fresko diupayakan tetap dipertahankan atau direplikasi semirip mungkin dengan bentuk awalnya.

Bagi Reza dan keluarganya, menjaga rumah tersebut bukan hanya soal merawat bangunan tua, tetapi juga menjaga nilai sejarah dan suasana yang hidup di dalamnya.

Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, pengalaman tinggal di rumah heritage justru membuat Reza menemukan ritme hidup yang lebih lambat dan tenang.

"Dulu aku banyak menghabiskan waktu di Jakarta yang ritme hidupnya serba cepat, sekarang aku sering pulang ke Solo, ke rumah ini, agar pikirannya tetap jernih, bisa bernapas, mengumpulkan ide-ide dan lebih slowing down dalam hidup," ungkapnya.

Baginya, rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang yang ikut membentuk cara seseorang berpikir, bersikap, dan menikmati hidup sehari-hari.

Tag:  #rumah #kolonial #berusia #abad #mengubah #cara #hidup #penghuninya #lebih #slow #living

KOMENTAR