Harga Energi Melonjak, AS Izinkan Penjualan Minyak Iran di Laut
Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengambil langkah tidak biasa dengan sementara melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran yang sedang berada di laut.
Kebijakan ini diambil di tengah lonjakan harga energi global akibat konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran serta gangguan besar pada pasokan minyak dunia.
Dikutip dari Reuters, Minggu (22/3/2026), Departemen Keuangan AS mengeluarkan otorisasi jangka pendek yang memungkinkan penjualan, pengiriman, dan pembongkaran minyak mentah Iran yang sudah dimuat ke kapal sebelum 20 Maret 2026.
Baca juga: AS Longgarkan Sanksi Minyak Iran Selama 30 Hari demi Stabilkan Harga
Ilustrasi kapal tanker.
Kebijakan ini berlaku hingga 19 April 2026 dan bertujuan meredakan tekanan pada pasar energi global yang tengah menghadapi krisis pasokan.
Langkah tersebut diperkirakan dapat membuka akses sekitar 140 juta barrel minyak Iran ke pasar global.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan, kebijakan itu dirancang untuk sementara membuka pasokan yang sudah ada bagi dunia, sehingga dapat membantu menekan tekanan terhadap suplai energi.
“Dengan membuka sementara pasokan yang ada ini untuk dunia, Amerika Serikat akan dengan cepat membawa sekitar 140 juta barrel minyak ke pasar global, memperluas jumlah energi di seluruh dunia dan membantu mengurangi tekanan sementara pada pasokan yang disebabkan oleh Iran,” kata Bessent dalam sebuah pernyataan di X.
Baca juga: IEA Peringatkan Krisis Minyak Terbesar, Dorong WFH hingga Berkendara Lebih Pelan
“Pada intinya, kita akan menggunakan barel minyak Iran untuk melawan Teheran guna menjaga harga tetap rendah saat kita melanjutkan Operasi Epic Fury," imbuh dia.
Lonjakan harga energi di tengah konflik
Pelunakan sanksi ini muncul ketika harga minyak melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Ilustrasi Selat Hormuz. Daftar Negara yang Diizinkan Iran untuk Melintasi Selat Hormuz dengan Aman
Menurut warta The Guardian, konflik yang memicu gangguan terhadap infrastruktur energi dan jalur pengiriman utama di Timur Tengah telah mendorong harga minyak naik lebih dari 50 persen hingga menembus 100 dollar AS per barrel, level tertinggi sejak 2022.
Ketegangan geopolitik tersebut juga menyebabkan gangguan pada jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.
Baca juga: Harga Emas dan Perak Dunia Anjlok di Tengah Lonjakan Minyak dan Risiko Inflasi Global
Jalur ini merupakan salah satu chokepoint utama perdagangan energi global, dengan gangguan lalu lintas kapal tanker yang berdampak langsung pada pasokan minyak dunia.
Dalam konteks tersebut, pemerintah AS berupaya menstabilkan pasar energi sekaligus mengurangi dampak ekonomi domestik akibat kenaikan harga bahan bakar.
Kebijakan sementara ini disebut sebagai bagian dari serangkaian langkah untuk mengendalikan inflasi energi dan tekanan terhadap konsumen serta pelaku usaha.
Pembeli Asia mulai mempertimbangkan kembali minyak Iran
Pelunakan sanksi memicu respons cepat dari sejumlah kilang di Asia.
Baca juga: Harga Minyak Turun Usai AS Buka Kemungkinan Cabut Sanksi Kapal Tanker Iran
Reuters mewartakan, perusahaan penyulingan di India dan negara Asia lainnya mulai mengevaluasi kemungkinan kembali membeli minyak Iran guna mengatasi krisis energi regional dan menipisnya stok minyak mentah.
Wilayah Asia sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, dengan sekitar 60 persen kebutuhan minyaknya dipenuhi dari kawasan tersebut.
Gangguan transportasi di Selat Hormuz telah memaksa beberapa kilang mengurangi operasi, sehingga pasokan tambahan dari Iran dipandang sebagai potensi solusi jangka pendek.
Sebelumnya, sejak sanksi AS diberlakukan kembali pada 2018, sebagian besar ekspor minyak Iran diarahkan ke China melalui penjualan diskon dan jaringan perdagangan pihak ketiga.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melemah Usai AS Pertimbangkan Lepas Minyak Iran
Ilustrasi kapal tanker.
Namun dengan adanya pelonggaran sementara, sejumlah pembeli lama seperti India, Jepang, dan Korea Selatan mulai mempertimbangkan kembali impor dari Iran.
Meski demikian, para pelaku industri masih menghadapi kendala administratif dan logistik, termasuk keterbatasan armada tanker serta mekanisme pembayaran yang sesuai dengan ketentuan sanksi.
Dampak terbatas tanpa mekanisme pembayaran
Sejumlah analis menilai kebijakan tersebut kemungkinan tidak akan meningkatkan ekspor minyak Iran secara signifikan.
Dilansir The Wall Street Journal, Fernando Ferreira dari Rapidan Energy mengatakan, pelonggaran sanksi ini tidak mencakup pembukaan akses perbankan bagi Iran, sehingga negara tersebut sulit menerima pembayaran atas minyak yang dijual.
Baca juga: Wall Street Melemah Dua Hari Beruntun, Harga Minyak Bergejolak Dipicu Konflik Iran
Tanpa jalur pembayaran yang jelas, upaya untuk menjual minyak menjadi kurang menarik secara komersial bagi sebagian pembeli.
Meskipun minyak dapat dipindahkan atau dikirim, keterbatasan transaksi finansial berpotensi menghambat realisasi perdagangan dalam skala besar.
Data menunjukkan, sejak konflik regional meningkat, Iran telah memuat sekitar 30,4 juta barrel minyak ke sekitar 20 kapal tanker.
Secara keseluruhan, potensi volume minyak yang dapat dilepas ke pasar di bawah kebijakan ini diperkirakan mencapai hingga 140 juta barrel.
Baca juga: Harga Minyak dan Gas Melonjak Tajam Akibat Serangan di Teluk
Kritik dan kekhawatiran politik
Keputusan AS ini menuai kritik dari sejumlah pihak yang menilai pelonggaran sanksi berpotensi memberi keuntungan finansial bagi Iran di tengah konflik.
Diwartakan The Washington Post, sebagian anggota parlemen dan analis mempertanyakan konsistensi kebijakan tersebut dengan upaya de-eskalasi yang sebelumnya disampaikan pemerintah AS.
Ilustrasi harga minyak mentah.
Di sisi lain, pendukung kebijakan tersebut berpendapat bahwa langkah ini dapat membantu menurunkan harga minyak global dan mengurangi tekanan ekonomi.
Mereka menilai pelepasan pasokan yang sudah berada di laut merupakan opsi terbatas yang dapat memberikan dampak cepat tanpa membuka ruang ekspor baru bagi Iran.
Baca juga: Bukan Cuma Minyak, Harga Aluminium Juga Naik Akibat Perang Iran
Pemerintah AS juga menegaskan bahwa pelonggaran sanksi hanya berlaku untuk minyak yang telah berada dalam perjalanan dan tidak mencakup pembelian baru atau peningkatan produksi.
Dengan demikian, kebijakan ini diposisikan sebagai langkah sementara untuk menstabilkan pasar energi di tengah krisis.
Upaya mengelola krisis energi global
Kebijakan ini merupakan bagian dari rangkaian tindakan yang diambil AS untuk mengatasi guncangan energi akibat konflik di Timur Tengah.
Sebelumnya, Washington juga telah melonggarkan pembatasan terhadap minyak Rusia serta mempertimbangkan kebijakan lain guna menjaga stabilitas pasokan.
Baca juga: Harga Minyak Melonjak hingga 5,6 Persen Usai Serangan Iran ke Fasilitas Energi Timur Tengah
Meski demikian, para analis menilai dampak jangka panjang dari langkah ini masih belum pasti.
Gangguan terhadap jalur pelayaran, ketegangan geopolitik, serta keterbatasan mekanisme perdagangan tetap menjadi faktor utama yang menentukan keseimbangan pasar minyak global dalam waktu dekat.
Situasi ini mencerminkan kompleksitas pengelolaan krisis energi yang dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, kebijakan ekonomi, dan kebutuhan pasar.
Di tengah ketidakpastian tersebut, pelonggaran sanksi terhadap minyak Iran menjadi salah satu variabel penting yang akan terus dipantau oleh pelaku industri energi dan pemerintah di berbagai negara.
Tag: #harga #energi #melonjak #izinkan #penjualan #minyak #iran #laut