Konglomerat Mulai Gemar Investasi ke Perhiasan, Apa Sebabnya?
Ilustrasi perhiasan emas.(PEXELS/PIXABAY)
08:04
23 Maret 2026

Konglomerat Mulai Gemar Investasi ke Perhiasan, Apa Sebabnya?

Konglomerat mulai gemar berinvestasi ke perhiasan di tengah volatilitas pasar dan ketidakpastian geopolitik. Pergeseran ini memunculkan pertanyaan, apa yang membuat aset ini kembali dilirik sebagai tempat menyimpan nilai.

Minat terhadap perhiasan meningkat seiring kecenderungan investor beralih ke aset berwujud. Batu permata berwarna seperti rubi, safir, dan zamrud kini menjadi incaran, terutama bagi konsumen super kaya.

“Aset berwujud cenderung mempertahankan nilainya atau bahkan meningkat ketika inflasi naik,” kata Presiden Manajemen Investasi Papamarkou Wellner Perkin, Thorne Perkin, dikutip dari CNBC, Senin (23/3/2026).

Menurut dia, setiap kali terjadi volatilitas makroekonomi, daya tarik aset berwujud meningkat. Kondisi ini membuat perhiasan semakin relevan sebagai bagian dari strategi menjaga nilai kekayaan.

Baca juga: Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Inflasi Sepanjang 2025

Nilai tahan lama dan fungsi defensif

Mitra pengelola di perusahaan penasihat strategis dan M&A Ortelli&Co, Mario Ortelli, menilai tren ini memiliki karakter defensif.

“Pada periode inflasi, ketegangan geopolitik, atau volatilitas pasar keuangan, aset berwujud menjadi lebih menarik,” ujar dia.

Ia menjelaskan, perhiasan bermerek memiliki keunggulan sebagai penyimpan nilai yang mudah dibawa. Selain itu, koleksi perhiasan ikonik memiliki umur produk yang panjang dan tidak terikat tren musiman.

"Umur panjang dan persepsi pelestarian modal tersebut membantu menjelaskan ketahanan relatif perhiasan dibandingkan dengan barang mewah lainnya,” ungkap dia.

Dalam banyak kasus, perhiasan juga menunjukkan nilai jual kembali yang lebih kuat dibandingkan tas tangan desainer yang lebih mudah mengalami penurunan kualitas akibat pemakaian.

Baca juga: Cabai Rawit, Beras, hingga Emas Perhiasan Picu Inflasi Desember 2025

Didukung lonjakan harga emas

Kenaikan harga emas turut memperkuat tren investasi pada perhiasan. CEO platform penjualan kembali barang mewah MyGemma, Andrew Brown, menilai minat terhadap perhiasan berbahan emas, berlian, dan batu permata meningkat seiring harga emas yang tinggi.

Emas sempat menembus lebih dari 5.100 dollar AS per ons atau sekitar Rp 79.050.000 per ons (kurs Rp 15.500 per dollar AS) pada Januari.

Meski telah turun, harga emas masih bertahan di atas 4.500 dollar AS per ons atau sekitar Rp 69.750.000 per ons.

Kondisi ini mendorong sebagian kolektor kembali aktif di pasar, baik untuk membeli maupun menjual koleksi perhiasan mereka.

Brown mengatakan, daya tahan perhiasan di pasar penjualan kembali menjadi salah satu daya tarik utama. Ia kerap melihat klien menjual kembali perhiasan bermerek bertahun-tahun setelah pembelian awal.

Selain itu, harga perhiasan cenderung lebih stabil dibandingkan tas tangan desainer yang lebih rentan mengalami keausan.

Tren ini juga menarik minat generasi lebih muda. Pada 2025, generasi milenial dan Gen Z menyumbang 44 persen dari pembeli barang mewah Christie’s.

Manajer Investasi Senior Strategi Merek Premium Pictet, Caroline Reyl, menyebut perhiasan mampu bertahan di tengah pelemahan pasar barang mewah dan tumbuh dalam dua tahun terakhir.

Ia menambahkan, tren batu permata berwarna menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat. Jika ketidakpastian makroekonomi berlanjut, investasi pada perhiasan diperkirakan terus meningkat.

Tag:  #konglomerat #mulai #gemar #investasi #perhiasan #sebabnya

KOMENTAR