AS Ultimatum NATO dan Eropa, Tambah Belanja Militer atau Hadapi Konsekuensinya
- Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth melayangkan kritik tajam terhadap negara-negara anggota NATO dan mitra Eropa pada Sabtu (30/5/2026).
Washington mengancam akan mengubah peta kerja sama bilateral secara radikal jika para sekutu tersebut tidak segera meningkatkan anggaran pertahanan mereka secara signifikan.
"Terlalu lama, permohonan sopan dari sekutu Eropa kita untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan mereka sendiri tidak dihiraukan," ujarnya dalam sebuah pertemuan puncak pertahanan di Singapura, dikutip dari AFP, Sabtu.
"Sekutu yang menolak untuk meningkatkan peran dan memikul tanggung jawab mereka sendiri untuk pertahanan kolektif kita akan menghadapi perubahan nyata dalam cara kita menjalankan bisnis," sambungnya.
Baca juga: Drone Rusia Hantam Negara NATO, F-16 Langsung Terbang
Janji Eropa yang belum dipenuhi
Tahun lalu, negara-negara anggota NATO berjanji untuk meningkatkan pengeluaran terkait pertahanan hingga lima persen dari PDB.
Akan tetapi, meskipun upaya telah ditingkatkan, banyak negara mengaku tidak dapat mencapai target tersebut.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio sebelumnya mengatakan, NATO menghadapi pengurangan pasukan AS di Eropa karena Washington memfokuskan perhatian pada ancaman lain.
Di Asia, Hegseth menegaskan kembali bahwa keamanan kawasan tersebut sangat bergantung pada kekuatan militer AS.
"Sementara banyak sekutu dan mitra kita membiarkan kemampuan pertahanan mereka sendiri melemah," kata Hegseth.
Baca juga: AS Disebut Akan Kurangi Bantuan Militer ke NATO dalam Situasi Krisis
Puji Korsel
Menurutnya, banyak negara di kawasan Asia-Pasifik yang meningkatkan upaya mereka, dengan menggunakan Korea Selatan sebagai contoh khusus.
"Korea Selatan secara konsisten berinvestasi dalam pertahanan negaranya sendiri, karena mereka tidak memiliki kemewahan untuk memperlakukan perang seperti latihan akademis," jelas dia.
"Mereka tinggal di garis depan dan karena itu mereka membangun kekuatan tempur yang sesungguhnya. Hal ini mencerminkan pemahaman yang jernih tentang lingkungan ancaman," lanjutnya.
Hegseth juga memuji kebijakan pengeluaran negara-negara lain termasuk Australia, Filipina, dan Jepang.
Baca juga: Senggol Spanyol, Menlu AS Pertanyakan Keanggotan NATO saat Perang Iran
"Anda tidak akan memiliki aliansi yang kuat kecuali semua orang memiliki kepentingan di dalamnya. Tidak ada yang hanya numpang untung," tuturnya.
Saat seorang delegasi dari Selandia Baru menanyakan pandangan Hegseth mengenai rencana negara mereka yang ingin menaikkan anggaran pertahanan dari 1 persen menjadi 2 persen PDB, Hegseth menganggapnya sangat minim.
"Sejujurnya, dua persen itu tidak cukup, dan dua persen itu sama saja dengan menumpang hidup," ujarnya.
"Saya tidak punya masalah dengan Selandia Baru, (tetapi) saya ingin para mitra untuk meningkatkan dukungan," pungkasnya.
Tag: #ultimatum #nato #eropa #tambah #belanja #militer #atau #hadapi #konsekuensinya