Harga Minyak Dunia Melonjak Jelang Tenggat Ultimatum Trump ke Iran
– Harga minyak dunia naik dan menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2022. Kenaikan ini terjadi seiring pelaku pasar mencermati ultimatum Presiden AS Donald Trump kepada Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
Mengutip Bloomberg, Senin (23/3/2026), harga minyak Brent yang menjadi acuan global menembus 113 dollar AS per barel dan telah naik selama lima hari berturut-turut.
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati 100 dollar AS per barel.
Baca juga: Harga Bitcoin Melemah ke Posisi 68.784,76, Imbas Ultimatum Trump ke Iran Terkait Selat Hormuz?
Ultimatum Trump dan Ancaman Balasan Iran
Trump sebelumnya memberi tenggat 48 jam kepada Iran untuk “sepenuhnya membuka” Selat Hormuz. Jika tidak dipenuhi, ia mengancam akan mengebom pembangkit listrik Iran.
Teheran merespons dengan peringatan akan menyerang infrastruktur penting di kawasan Timur Tengah jika ancaman tersebut direalisasikan.
Lonjakan harga minyak terjadi di tengah konflik yang terus memanas. Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, harga minyak Brent telah melonjak lebih dari 50 persen.
Baca juga: Ultimatum Trump ke Iran Buat Harga Minyak Makin Mendidih, Bertahan hingga 2027?
Kenaikan ini juga diikuti lonjakan harga produk turunan minyak yang bahkan lebih tinggi dibandingkan minyak mentah.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran munculnya gelombang inflasi global baru, yang berpotensi mengguncang pasar keuangan, mulai dari komoditas hingga saham dan obligasi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara di Verst Logistics di Kota Hebron, Negara Bagian Ketucky, 11 Maret 2026.
Respons Pasar dan Proyeksi Harga
Analis pasar minyak dan pendiri Commodity Context Corp, Rory Johnston, menilai ultimatum tersebut justru mempersempit ruang gerak Trump. Ia menyebut kecil kemungkinan Iran akan memenuhi tuntutan dalam waktu singkat di bawah ancaman serangan.
“Iran jelas mampu dan siap merespons setiap eskalasi,” ujarnya.
Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, bahkan menyebut dampak gangguan saat ini setara dengan gabungan dua krisis minyak besar pada 1970-an dan krisis gas alam tahun 2022 pasca invasi Rusia ke Ukraina.
Baca juga: Trump Ancam Targetkan Fasilitas Energi Iran, IRGC Bakal Tutup Selat Hormuz Sepenuhnya
Sementara itu, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent tahun 2026 menjadi 85 dollar AS per barel dari sebelumnya 77 dollar AS.
Bank investasi tersebut memperkirakan arus minyak melalui Selat Hormuz hanya sekitar 5 persen dari kondisi normal selama enam pekan ke depan, sebelum pulih secara bertahap.
Di lapangan, konflik terus berlanjut. Israel kembali melancarkan serangan ke Iran pada Senin, setelah sebelumnya Iran menembakkan rudal dan drone ke sejumlah target di kawasan. Konflik ini telah memasuki hari ke-24, dua kali lebih lama dibanding krisis serupa tahun lalu.
Ketidakjelasan arah kebijakan Trump juga menjadi tantangan tambahan bagi investor. Tak lama sebelum mengeluarkan ultimatum, ia sempat menyatakan mempertimbangkan untuk mengurangi keterlibatan militer AS.
Baca juga: IRGC Bakal Tutup Selat Hormuz Sepenuhnya jika Trump Terus Ancam Targetkan Fasilitas Energi Iran
Selat Hormuz Jadi Titik Kunci Pasokan Energi
Chief Investment Officer Karobaar Capital LP, Haris Khurshid, menilai pasar membutuhkan perkembangan nyata, bukan sekadar retorika eskalasi.
Menurutnya, gangguan yang lebih luas pada pengiriman atau asuransi kemungkinan baru akan mendorong kenaikan harga lebih tajam.
Penutupan hampir total Selat Hormuz—jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global—kini menjadi titik krusial. Namun, pejabat Iran disebut semakin enggan membahas pembukaan kembali jalur tersebut karena fokus pada stabilitas pemerintahan.
Dengan lalu lintas kapal yang nyaris terhenti, produsen minyak di Teluk Persia terpaksa menahan jutaan barel pasokan atau mengalihkan ekspor melalui jalur alternatif yang terbatas.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut serangan terhadap Iran juga ditujukan untuk menghancurkan pertahanan di sekitar Selat Hormuz.
Trump, kata dia, siap mengambil langkah apa pun untuk mencapai target, termasuk melemahkan angkatan udara dan laut Iran serta mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir.
Ke depan, dinamika perang dan keseimbangan pasar minyak diperkirakan akan menjadi fokus utama dalam forum industri energi tahunan CERAWeek yang digelar oleh S&P Global di Houston pekan ini.
Namun, memburuknya situasi membuat CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, dilaporkan batal hadir.
Tag: #harga #minyak #dunia #melonjak #jelang #tenggat #ultimatum #trump #iran