Harga Minyak Bergejolak, Ketegangan AS-Iran Masih Bayangi Pasar Energi Global
Ilustrasi harga minyak dunia.(GETTY IMAGES via BBC INDONESIA)
17:04
23 Maret 2026

Harga Minyak Bergejolak, Ketegangan AS-Iran Masih Bayangi Pasar Energi Global

- Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada awal pekan ini seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, di tengah kabar pelonggaran sementara sanksi Washington terhadap ekspor minyak Teheran.

Mengutip Reuters, Senin (23/3/2026), harga minyak Brent naik 65 sen menjadi 112,84 dollar AS per barrel pada pukul 11.46 WIB. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 84 sen ke level 98,75 dollar AS per barrel.

Sebelumnya, kedua kontrak sempat turun lebih dari 1 dollar AS di awal sesi perdagangan.Selisih harga antara Brent dan WTI yang mencapai lebih dari 13 dollar AS per barrel juga menjadi yang terlebar dalam beberapa tahun terakhir.

Pendiri Vanda Insights, Vandana Hari, mengatakan sentimen pasar minyak masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah.

"Sentimen minyak mungkin akan bergejolak akibat ancaman dan retorika dalam jangka pendek, tetapi arah yang lebih berkelanjutan akan tetap ditentukan oleh kondisi aliran minyak dari Timur Tengah,” ujar dia.

Baca juga: Ultimatum Trump ke Iran buat Harga Minyak Makin Mendidih, Bertahan Hingga 2027?

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Ancaman itu muncul hanya sehari setelah Trump menyatakan keinginan untuk mengakhiri perang yang kini telah memasuki pekan keempat.

Menanggapi ancaman itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa infrastruktur penting dan fasilitas energi di Timur Tengah bisa 'hancur secara permanen' jika pembangkit listrik Iran diserang.

Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menilai situasi ini berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut, yang berarti bakal mendorong harga minyak mentah.

"Trump mencoba menunjukkan bahwa ia bisa meningkatkan eskalasi lebih jauh, dan arah itu bisa berujung pada kehancuran total infrastruktur energi di kawasan Teluk.”

Baca juga: IEA Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Minyak dan Beban Konsumen Global

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, bahkan menyebut krisis di Timur Tengah saat ini 'sangat parah' dan lebih buruk dibandingkan dua krisis minyak pada 1970-an jika digabungkan.

Perang yang berlangsung telah merusak fasilitas energi utama di kawasan Teluk dan hampir menghentikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang menangani sekitar 20 persen aliran minyak dan gas alam cair dunia.

Analis memperkirakan gangguan ini menyebabkan hilangnya produksi minyak sebesar 7 juta-10 juta barrel per hari di Timur Tengah.

Di Irak, pemerintah menyatakan kondisi kahar (force majeure) untuk seluruh ladang minyak yang dikembangkan oleh perusahaan asing. Produksi minyak di Basra Oil Company bahkan turun drastis menjadi 900.000 barrel per hari dari sebelumnya 3,3 juta barrel per hari.

Di sisi lain, pelonggaran sementara sanksi AS terhadap Iran membuka peluang tambahan pasokan minyak ke pasar global. Kilang minyak di India disebut berencana kembali membeli minyak Iran, sementara negara-negara Asia lainnya juga mulai mempertimbangkan langkah serupa.

Meski demikian, Vandana Hari menilai efektivitas ancaman terhadap infrastruktur energi Iran masih dipertanyakan. Dengan serangkaian kondisi yang terjadi, ia mendeteksi adanya keinginan untuk mengakhiri permusuhan, bersamaan dengan meningkatnya fokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz

"Tidak jelas apakah ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Teheran akan efektif selama Iran masih memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan yang setara terhadap negara-negara tetangga," ujarnya.

Tag:  #harga #minyak #bergejolak #ketegangan #iran #masih #bayangi #pasar #energi #global

KOMENTAR