Fakta Sidang Isbat: Kenapa Idul Adha Bisa Kompak tapi Idul Fitri Beda Hari?
Hilal Idul Adha 2026. (AI)
14:27
19 Mei 2026

Fakta Sidang Isbat: Kenapa Idul Adha Bisa Kompak tapi Idul Fitri Beda Hari?

Sidang isbat adalah forum resmi Kementerian Agama untuk menetapkan awal bulan Hijriah, khususnya Ramadan, Syawal (Idul Fitri), dan Zulhijah (Idul Adha).

Sejak dilembagakan lewat Keputusan Menteri Agama Nomor 47 Tahun 1963, sidang ini menjadi agenda rutin nasional. Namun, publik sering bertanya: mengapa Idul Fitri kerap berbeda harinya antar ormas, sementara Idul Adha hampir selalu kompak?

Sejarah Singkat Sidang Isbat

Sidang isbat pertama kali digelar sekitar dekade 1950-an, dengan beberapa catatan menyebut tahun 1962 sebagai awal resmi. Tujuannya jelas: menyatukan penetapan hari besar Islam.

Untuk Idul Adha, sidang dilakukan setiap 29 Zulhijah guna memastikan awal bulan dan menentukan 10 Zulhijah sebagai hari raya kurban.

Akar Perbedaan: Hisab vs Rukyat

Perbedaan muncul dari metode penentuan awal bulan:

  • Hisab: perhitungan astronomi yang digunakan Muhammadiyah. Dengan metode ini, tanggal bisa ditentukan jauh hari.
  • Rukyat: pengamatan langsung hilal setelah matahari terbenam, dipakai NU.
  • Pemerintah: menggabungkan keduanya melalui hisab imkanur rukyat, lalu menunggu laporan rukyat di lapangan.

Kriteria MABIMS: Standar Regional

Dikutip dari RRI, negara-negara MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) menyepakati kriteria visibilitas hilal sejak 2022:

  • Ketinggian minimal 3 derajat.
  • Elongasi minimal 6,4 derajat.

Namun, Muhammadiyah tetap memakai kriteria wujudul hilal: cukup jika bulan sudah di atas ufuk, tanpa syarat tambahan.

Foto udara umat Islam melaksanakan shalat Idul Adha 1446 H di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, Jumat (6/6/2025). [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nym]Foto udara umat Islam melaksanakan shalat Idul Adha 1446 H di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, Jumat (6/6/2025). [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nym]

Mengapa Idul Fitri Lebih Sering Beda

Pada akhir Ramadan, posisi hilal sering berada di kondisi “kritis”: rendah atau elongasi kecil.

  • Bagi Muhammadiyah, karena hilal sudah di atas ufuk, 1 Syawal ditetapkan keesokan harinya.
  • Bagi NU dan pemerintah, karena hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, Ramadan digenapkan 30 hari.

Contoh nyata adalah potensi perbedaan Idul Fitri 2026: Muhammadiyah menetapkan 20 Maret, sementara pemerintah dan NU 21 Maret.

Mengapa Idul Adha Lebih Kompak

Sebaliknya, pada akhir Zulkaidah posisi hilal biasanya sudah tinggi dan jelas memenuhi semua kriteria. Data astronomi menjelang Idul Adha 2026 menunjukkan tinggi hilal 3,29–6,95 derajat dengan elongasi 8,91–10,62 derajat.

  • Kriteria wujudul hilal terpenuhi.
  • Kriteria imkanur rukyat juga terpenuhi.

Karena semua pihak sepakat, Idul Adha hampir selalu dirayakan serentak.

Jadi, perbedaan Idul Fitri berakar dari kondisi hilal yang sering “abu-abu” dan interpretasi metode yang berbeda. Sementara Idul Adha lebih kompak karena posisi hilal biasanya sudah jelas dan memenuhi standar semua pihak.

Kalau kamu tertarik, kita bisa bahas lebih lanjut soal sejarah sidang isbat, kriteria MABIMS terbaru, atau perbedaan hisab dan rukyat.

Editor: Cesar Uji Tawakal

Tag:  #fakta #sidang #isbat #kenapa #idul #adha #bisa #kompak #tapi #idul #fitri #beda #hari

KOMENTAR