Efek Ancaman Trump ke Iran: Bursa Dunia Anjlok, Harga Energi Melonjak
- Pasar saham global anjlok tajam pada awal pekan ini, setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kekhawatiran investor terhadap krisis energi dan perlambatan ekonomi global.
Tekanan dipicu oleh ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Jalur tersebut merupakan salah satu rute vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Baca juga: Harga Bitcoin Melemah ke Posisi 68.784,76, Imbas Ultimatum Trump ke Iran Terkait Selat Hormuz?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menghadiri acara di Verst Logistics di Kota Hebron, Negara Bagian Ketucky, 11 Maret 2026.
Trump menyatakan telah memberikan ultimatum selama 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Batas waktu tersebut diberikan hingga menjelang tengah malam GMT pada Senin.
Mengutip The Guardian, Senin (23/3/2026), bursa saham di kawasan Asia dan Eropa langsung merespons negatif sikap Trump.
Indeks saham Nikkei Jepang turun 3,4 persen, CSI 300 China melemah 2,8 persen, dan Kospi Korea Selatan anjlok hingga 6,5 persen.
Baca juga: Iran Buka Terbatas Selat Hormuz, Begini Keadaan Dua Kapal Pertamina di Teluk Arab
Di Eropa, tekanan juga merata dengan indeks Ibex Spanyol turun 1,9 persen, CAC 40 Prancis melemah 1,5 persen, DAX Jerman turun 1,9 persen, dan FTSE 100 Inggris terkoreksi hampir 1,5 persen.
Berdasarkan data CNBC, sepanjang pekan lalu, indeks Dow Jones dan Nasdaq masing-masing mencatat penurunan sekitar 2 persen, sementara S&P 500 melemah 1,5 persen.
Bagi Dow Jones, ini menjadi tren penurunan empat pekan berturut-turut pertama sejak 2023.
Sebagai respons, Iran memperingatkan akan menghancurkan infrastruktur penting di kawasan Timur Tengah, termasuk sistem air dan energi, jika Amerika Serikat melaksanakan ancamannya.
Ilustrasi harga minyak dunia.
Baca juga: AS-Iran Saling Ancam, Krisis Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Situasi ini memperbesar risiko eskalasi konflik yang lebih luas.
Gangguan di Selat Hormuz bahkan telah memicu krisis energi global.
Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, menyebut dampaknya setara dengan gabungan krisis minyak era 1970-an dan dampak invasi Rusia ke Ukraina.
Harga energi pun melonjak.
Baca juga: Singapura Waspadai Blokade Selat Hormuz, Risiko Resesi Global Menguat
Minyak mentah dunia naik 1,2 persen menjadi 113,34 dollar AS per barrel, meskipun masih di bawah rekor tertinggi awal bulan ini.
Sementara itu, proyeksi dari Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent rata-rata mencapai 85 dollar AS per barrel tahun ini, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya.
Kenaikan harga energi turut meningkatkan tekanan inflasi global, yang pada akhirnya memicu ekspektasi kenaikan suku bunga.
Kondisi ini membuat harga emas justru terkoreksi, dengan penurunan mencapai 5,8 persen ke level 4.226,16 dollar AS per ons.
Baca juga: Desa: Benteng Terakhir atau Korban Pertama Krisis Hormuz?
Di Inggris, pemerintah bergerak cepat merespons situasi.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dijadwalkan menggelar rapat darurat bersama pejabat tinggi dan Gubernur Bank of England Andrew Bailey untuk membahas dampak ekonomi, ketahanan energi, serta stabilitas rantai pasok.
Pasar obligasi juga menjadi sorotan setelah imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun menyentuh 5 persen, level tertinggi sejak krisis keuangan global 2008.
Sementara itu, dollar AS kembali menunjukkan penguatan sebagai aset safe haven. Indeks dollar tercatat naik 0,2 persen, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap aman di tengah ketidakpastian global.
Tag: #efek #ancaman #trump #iran #bursa #dunia #anjlok #harga #energi #melonjak