Permintaan Minyak Rusia Melonjak di Tengah Krisis Energi Global
Ilustrasi kapal(PIXABAY/TED ERSKI)
13:16
26 Maret 2026

Permintaan Minyak Rusia Melonjak di Tengah Krisis Energi Global

Permintaan global terhadap minyak Rusia dilaporkan meningkat tajam di tengah ketidakpastian pasar energi dunia.

Lonjakan ini terjadi seiring gangguan pasokan, kenaikan harga minyak global, serta perubahan kebijakan energi di sejumlah negara, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan permintaan terhadap minyak Rusia saat ini sangat tinggi. Ia menyebut kondisi pasar energi global mendorong peningkatan kebutuhan terhadap pasokan alternatif.

Baca juga: Pemerintah Pertimbangkan Impor Minyak dari Rusia

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/BOB63 Ilustrasi kapal tanker.

“Permintaan tinggi, permintaan akan arah alternatif juga tinggi, jadi, tentu saja, mungkin akan tiba saatnya ketika permintaan tambahan akan sulit dipenuhi,” kata Peskov, dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (26/3/2026).

Menurut dia, Rusia dapat menghadapi tantangan dalam memenuhi permintaan tambahan apabila tren tersebut terus berlanjut.

Gangguan pasokan dan kenaikan harga energi

Lonjakan permintaan terhadap minyak Rusia terjadi di tengah gangguan pasokan energi global yang dipicu konflik geopolitik.

Ketegangan di Timur Tengah serta dampak lanjutan perang Rusia dan Ukraina disebut menjadi faktor utama yang memengaruhi volatilitas harga minyak dunia.

Baca juga: Minyak Rusia Diberi Kelonggaran, Sekutu Barat Kritik Kebijakan AS

Sejumlah laporan menyebutkan infrastruktur ekspor minyak Rusia juga mengalami gangguan signifikan.

Serangan drone, sengketa jalur pipa, dan penyitaan kapal tanker sempat menghambat sebagian kapasitas ekspor negara tersebut.

Meski demikian, harga minyak global yang tinggi dinilai tetap membuat minyak Rusia menarik bagi pembeli internasional, terutama karena Moskwa kerap menawarkan harga diskon dibandingkan patokan pasar dunia.

Ilustrasi harga minyak dunia. FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi harga minyak dunia.

Uni Eropa tunda larangan permanen impor minyak Rusia

Di tengah dinamika tersebut, Uni Eropa menunda pengajuan proposal hukum untuk melarang impor minyak Rusia secara permanen. Proposal yang semula dijadwalkan pada April ditunda karena perkembangan geopolitik terbaru.

Baca juga: Impor Minyak Rusia Dipertimbangkan, ESDM Serahkan ke Pertamina

Juru bicara energi Komisi Uni Eropa Anna-Kaisa Itkonen menegaskan rencana tersebut tetap akan diajukan.

“Usulan itu akan diajukan,” ujarnya, dikutip dari The Moscow Times.

Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen juga menilai meninggalkan strategi pengurangan ketergantungan energi terhadap Rusia sebagai “sebuah kesalahan strategis.”

Uni Eropa sebelumnya menargetkan penghentian impor minyak Rusia secara bertahap paling lambat pada 2027.

Baca juga: AS Izinkan Pembelian Minyak Rusia di Laut demi Stabilkan Harga Minyak Dunia

Namun, beberapa negara anggota seperti Hungaria masih meningkatkan penggunaan minyak Rusia meskipun terdapat kebijakan pengurangan impor di tingkat blok.

Laporan Deutsche Welle menyebut Hungaria tetap mengandalkan pasokan minyak Rusia melalui jalur pipa Druzhba sebagai bagian dari strategi menjaga keamanan energi domestik.

Negara Asia Tenggara mulai melirik minyak Rusia

Di luar Eropa, sejumlah negara di Asia Tenggara mulai mempertimbangkan atau meningkatkan pembelian minyak Rusia di tengah tekanan harga energi.

Di Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang pengalihan impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke Rusia apabila terdapat pelonggaran sanksi global terhadap Moskwa.

Baca juga: Pasar Energi Bergejolak, AS Longgarkan Pembelian Minyak Rusia

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI (ESDM) Yuliot Tanjungdok.ESDM Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI (ESDM) Yuliot Tanjung

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan keputusan impor sepenuhnya merupakan pertimbangan bisnis PT Pertamina (Persero).

“Itu kan keputusan bisnis itu nanti sama Pertamina. Jadi mana yang lebih membutuhkan, sepanjang ada relaksasi ya tentu kita akan memanfaatkan itu prosesnya,” ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Meski demikian, ia menegaskan pemerintah belum melakukan kajian khusus terkait rencana impor minyak dari Rusia.

“Belum ada (kajian),” kata dia.

Baca juga: AS Beri India Izin 30 Hari Beli Minyak Rusia di Tengah Perang Iran

Sebelumnya Indonesia memutuskan mengalihkan impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.

Pelonggaran sanksi dan perubahan arus perdagangan

Di tengah ketidakpastian pasar energi, pemerintah AS juga melonggarkan sebagian sanksi terhadap Rusia.

Departemen Keuangan AS mengeluarkan lisensi umum baru yang mengizinkan transaksi terkait minyak Rusia yang sudah berada dalam perjalanan laut.

Kebijakan ini dinilai berpotensi memengaruhi arus perdagangan minyak global, terutama bagi negara-negara yang menghadapi kebutuhan energi mendesak.

Baca juga: Dugaan Minyak Rusia Masuk RI, Pertamina Tegaskan Impor Sesuai Aturan

Di Filipina, misalnya, pengiriman minyak Rusia dilaporkan tiba saat negara tersebut menghadapi kondisi darurat energi.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr sebelumnya mendeklarasikan situasi darurat energi guna memastikan ketersediaan pasokan listrik nasional.

Laporan Bloomberg menyebut Filipina menerima minyak Rusia setelah memperoleh pengecualian sanksi dari AS. Pemerintah negara itu juga mempertimbangkan impor minyak Rusia sebagai opsi untuk menekan biaya energi domestik.

Sementara itu, Rigzone melaporkan otoritas Filipina melihat minyak Rusia sebagai alternatif potensial di tengah lonjakan harga energi global.

Ilustrasi kapal tanker. SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.

Baca juga: Harga Minyak Naik, Industri Mobil Listrik China Diproyeksi Melesat

Rusia tawarkan kontrak energi jangka panjang

Di tengah meningkatnya permintaan, Rusia juga dilaporkan kembali menawarkan pasokan minyak dan gas jangka panjang kepada pembeli internasional, termasuk di Eropa.

Tawaran tersebut muncul ketika harga energi global melonjak akibat ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan.

Langkah ini dinilai sebagai upaya Moskwa mempertahankan pangsa pasar ekspornya di tengah tekanan sanksi internasional.

Selain itu, peningkatan permintaan dari negara-negara Asia dan kawasan lain menunjukkan pergeseran pola perdagangan energi global.

Baca juga: Filipina Tetapkan Darurat Energi, Siapkan Dana Rp5,6 Triliun Hadapi Lonjakan Harga Minyak

Negara-negara yang sebelumnya bergantung pada pasokan Timur Tengah atau pemasok tradisional lainnya mulai mengevaluasi kembali strategi impor mereka.

Dinamika transisi energi dan keamanan pasokan

Perubahan arus perdagangan minyak Rusia mencerminkan dinamika transisi energi global yang semakin kompleks.

Kebijakan sanksi, konflik geopolitik, kebutuhan energi domestik, serta upaya diversifikasi sumber pasokan menjadi faktor utama yang membentuk pasar energi internasional.

Uni Eropa terus mendorong penggunaan energi terbarukan dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dari Rusia.

Baca juga: Harga Minyak Turun 2 Persen, Harapan Damai Iran-AS Redakan Tekanan Pasar

Namun, sejumlah negara masih menghadapi tantangan dalam menggantikan pasokan energi tersebut dalam jangka pendek.

Di sisi lain, negara-negara berkembang menghadapi tekanan untuk menjaga stabilitas harga energi domestik sekaligus memastikan pasokan yang cukup bagi industri dan sektor kelistrikan.

Situasi ini membuat minyak Rusia tetap menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan di pasar global, terutama ketika harga energi meningkat dan pasokan alternatif terbatas.

Dengan meningkatnya permintaan serta perubahan kebijakan energi di berbagai negara, perdagangan minyak Rusia diperkirakan tetap menjadi faktor penting dalam dinamika pasar energi dunia.

Tag:  #permintaan #minyak #rusia #melonjak #tengah #krisis #energi #global

KOMENTAR