Prabowo Soroti Lonjakan Harga Minyak, Purbaya Pastikan APBN Aman
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ditemui usai melaksanakan Shalat Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid Salahuddin, Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).(KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY)
12:24
27 Maret 2026

Prabowo Soroti Lonjakan Harga Minyak, Purbaya Pastikan APBN Aman

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap percakapannya dengan Presiden Prabowo Subianto saat harga minyak dunia melonjak tajam mendekati level 100 dollar AS per barrel di tengah konflik Timur Tengah.

Purbaya menjelaskan saat itu, dalam sebuah rapat di kediaman Presiden di Jalan Kertanegara, Jakarta, kekhawatiran muncul bahwa lonjakan harga minyak bisa mengganggu stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo secara langsung menanyakan kondisi fiskal Indonesia.

Baca juga: Menkeu Purbaya: RI Belum Darurat Energi, APBN Masih Tahan Tekanan Harga

“Presiden tanya, ‘Gimana APBN?’ Saya jawab, ‘Aman Pak!’,” ujar Purbaya di Kementerian Keuangan pada Jumat (27/3/2026).

Presiden kemudian kembali menguji ketahanan fiskal dengan skenario harga minyak dunia yang lebih tinggi.

“Kalau (harga minyak dunia) 100 dollar per barrel?” tanya Prabowo.

Purbaya menegaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi kondisi tersebut.

Baca juga: RI Belum Darurat Energi, Menkeu Purbaya Pastikan APBN Tetap Kuat

“Aman Pak, sudah kita hitung sampai 100 dollar per barrel, aman semua,” lanjut Purbaya.

Menurut Purbaya, Kementerian Keuangan telah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga APBN tetap stabil di tengah tekanan global, khususnya dari lonjakan harga energi.

Namun, upaya tersebut diakui belum sepenuhnya tersampaikan kepada publik.

Karena itu, ke depan pemerintah akan memperkuat komunikasi publik terkait kondisi fiskal.

Baca juga: Jaga Defisit APBN, Pemerintah Bakal Lakukan Efisiensi di Berbagai Kementerian

Tugas ini akan diemban oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan yang baru, Robert Marbun, yang dilantik pada Jumat (27/3/2026) menggantikan Heru Pambudi.

Ilustrasi harga minyak dunia. FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi harga minyak dunia.

Purbaya juga menegaskan bahwa pemerintah tidak panik dalam menghadapi gejolak global, meski dinamika di internal rapat diakuinya cukup intens.

“Dengan keadaan seperti ini pun kita tidak pernah panik. Di luar kita tidak pernah panik, walaupun rapat panik juga sih,” ujarnya.

Meski demikian, ia memastikan seluruh perhitungan dalam APBN dilakukan secara terukur dan transparan.

Baca juga: Bahlil Sebut APBN Masih Kuat Biayai Subsidi Saat Harga Minyak Sentuh 100 Dollar AS

“Tidak ada angka-angka yang aneh dan tidak bisa dihitung dalam APBN saat ini,” tegas Purbaya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan sejumlah skenario dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Menurut Airlangga, jika skenario tersebut dimasukkan ke dalam perhitungan APBN, defisit anggaran berpotensi melebar melampaui batas 3 persen.

Pada skenario pertama, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price diperkirakan berada di sekitar 86 dollar AS per barrel.

Baca juga: Antara Krisis Energi, Defisit APBN, dan Ilusi Himbauan Hemat BBM

Nilai tukar rupiah diasumsikan sekitar Rp 17.000 per dollar AS, lebih tinggi dari asumsi APBN sebesar Rp 16.500 per dollar AS.

Dengan asumsi tersebut serta pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dan imbal hasil surat berharga negara sekitar 6,8 persen, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18 persen.

Sementara pada skenario moderat, harga minyak diperkirakan berada di sekitar 97 dollar AS per barrel.

Nilai tukar rupiah diasumsikan melemah hingga sekitar Rp 17.300 per dollar AS.

Baca juga: LPEM UI: Defisit APBN Bisa Lampaui 3 Persen Jika Harga Minyak Tetap Tinggi

Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5,2 persen dengan imbal hasil surat berharga negara sekitar 7,2 persen.

Defisit anggaran pada skenario ini diperkirakan meningkat hingga 3,53 persen.

Dalam skenario pesimistis, harga minyak diperkirakan mencapai 115 dollar AS per barrel.

Nilai tukar rupiah diasumsikan melemah hingga sekitar Rp 17.500 per dollar AS.

Baca juga: Pelebaran Defisit APBN Berisiko Tinggi, Ekonom Ingatkan Ancaman Utang Membengkak

Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen dan imbal hasil surat berharga negara 7,2 persen, defisit APBN diperkirakan melebar hingga 4,06 persen.

Tag:  #prabowo #soroti #lonjakan #harga #minyak #purbaya #pastikan #apbn #aman

KOMENTAR