Trump Tunda Serangan ke Fasilitas Energi Iran, Harga Minyak Tertahan
– Harga minyak dunia bergerak stabil setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali menunda tenggat waktu serangan terhadap sektor energi Iran.
Keputusan ini memberi ruang jeda bagi pasar dalam jangka pendek, namun memperpanjang ketidakpastian konflik hingga awal April.
Dikutip dari Bloomberg, Jumat (27/3/2026), harga minyak Brent diperdagangkan sedikit di bawah 108 dollar AS per barel setelah sempat melemah di awal sesi. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 94 dollar AS per barel.
Trump menyatakan Iran sempat meminta waktu tujuh hari, tetapi pemerintah AS memutuskan memberi tenggat 10 hari hingga 6 April 2026.
Penundaan buka ruang negosiasi
Perpanjangan waktu ini membuka peluang bagi jalur diplomasi sekaligus memberi waktu bagi AS untuk memperkuat kehadiran militernya di kawasan.
Kekuatan yang telah dikerahkan mencakup Marine Expeditionary Units dan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS.
Selain itu, laporan The Wall Street Journal menyebut Pentagon mempertimbangkan pengiriman hingga 10.000 tambahan pasukan darat.
Harga minyak Brent sendiri berada di jalur kenaikan bulanan tertinggi sepanjang sejarah pada Maret, seiring memanasnya konflik antara AS, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah yang kaya minyak.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengganggu aliran energi global secara signifikan. Jalur ini sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Baca juga: Harga Minyak AS dan Dubai Turun Setelah Trump Umumkan Jeda Serangan ke Iran
Risiko tetap tinggi
Analis komoditas ING Groep NV, Ewa Manthey, mengatakan penundaan ini memang meredakan tekanan harga dalam jangka pendek, tetapi risiko kenaikan masih dominan.
Sekitar 8 juta barel per hari pasokan minyak telah terhenti, sementara aliran energi lain di Teluk Persia masih rentan terhadap gangguan. Premi risiko geopolitik pun diperkirakan tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Sementara itu, analis Macquarie Group Ltd. memperkirakan peluang konflik berakhir pada akhir Maret sekitar 60 persen.
Namun, ada kemungkinan 40 persen perang berlanjut hingga Juni, yang berpotensi mendorong harga minyak hingga 200 dollar AS per barel.
Ilustrasi harga minyak dunia.
Baca juga: Prabowo Soroti Lonjakan Harga Minyak, Purbaya Pastikan APBN Aman
Upaya diplomasi terus berjalan
Di sisi diplomatik, pemerintahan Trump dilaporkan tengah mengatur pertemuan Wakil Presiden JD Vance di Pakistan untuk membahas jalan keluar konflik dengan Iran.
Iran melalui kantor berita Tasnim News Agency menyatakan masih menunggu respons setelah menolak proposal perdamaian 15 poin dari AS dan mengajukan syarat sendiri, termasuk pengakuan atas otoritasnya di Selat Hormuz.
Meski konflik masih berlangsung, dalam sehari terakhir terlihat peningkatan terbatas kapal yang terkait Iran,terutama kapal curah dan LPG, yang mencoba melintasi selat tersebut.
Respons global dan dampak ekonomi
Uni Emirat Arab (UEA) dikabarkan siap bergabung dalam satuan tugas maritim multinasional untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz. Negara itu bahkan berencana mengerahkan angkatan lautnya.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga menyebut Iran telah mengizinkan kapal Malaysia yang terjebak di Teluk untuk kembali melalui selat tersebut.
Baca juga: Trump Klaim Iran Izinkan 10 Kapal Minyak sebagai “Hadiah” untuk AS
Sebelumnya, Trump mengatakan Iran mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintas sebagai bentuk itikad baik.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut program asuransi untuk mendorong pelayaran melalui jalur tersebut akan segera diluncurkan.
Sepanjang Maret, harga minyak Brent telah melonjak sekitar 49 persen. Kenaikan harga produk turunan minyak seperti solar dan avtur bahkan lebih tinggi, sehingga menekan pelaku usaha dan konsumen.
Lonjakan ini memicu kekhawatiran akan kenaikan inflasi global sekaligus perlambatan pertumbuhan ekonomi. Di AS, pejabat bank sentral termasuk Gubernur The Fed Lisa Cook menilai risiko inflasi kini lebih dominan dibandingkan risiko ketenagakerjaan.
Di kawasan Asia-Pasifik, India memangkas pajak bahan bakar untuk meredam dampak lonjakan harga, Vietnam membekukan sejumlah pungutan hingga pertengahan April, sementara Selandia Baru mencatat peningkatan permintaan akibat aksi penimbunan.
Analis energi dari Enverus, Carl Larry, menilai pasar mulai menyadari bahwa konflik belum memiliki kepastian akhir. Risiko kenaikan harga minyak pun masih terbuka, terutama menjelang akhir pekan.
Tag: #trump #tunda #serangan #fasilitas #energi #iran #harga #minyak #tertahan