Harga Minyak Naik saat Konflik Iran Meluas dan Houthi Serang Israel
Ilustrasi minyak bumi. (Freepik)
09:32
30 Maret 2026

Harga Minyak Naik saat Konflik Iran Meluas dan Houthi Serang Israel

– Harga minyak dunia kembali menguat seiring eskalasi konflik Iran yang meluas, setelah kelompok Houthi yang didukung Teheran ikut menyerang Israel. Situasi ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.

Mengutip Bloomberg, Senin (30/3/2026), harga minyak Brent melonjak hingga 3,7 persen ke level 116,75 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menembus level 100 dollar AS per barel.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah kelompok Houthi di Yaman meluncurkan rudal ke Israel pada akhir pekan. Mereka menyatakan akan melanjutkan operasi hingga serangan terhadap Iran dan kelompok sekutunya dihentikan.

Baca juga: Trump Buka Opsi Ambil Alih Minyak Iran, Ketegangan Timur Tengah Memanas

Pada saat bersamaan, Amerika Serikat (AS) mengirim ribuan tambahan pasukan ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini memicu kekhawatiran akan kemungkinan invasi darat yang berisiko tinggi.

Dalam wawancara dengan Financial Times, Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginannya untuk mengambil alih minyak Iran, termasuk kemungkinan menguasai pusat ekspor utama di Pulau Kharg.

Pernyataan tersebut berpotensi memicu balasan besar dari Teheran. Sebelumnya, AS juga telah menyerang fasilitas militer di pulau tersebut.

Sepanjang Maret, harga minyak Brent tercatat melonjak sekitar 60 persen, seiring perang antara AS, Israel, dan Iran yang mengguncang pasar global.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Meroket, Pasar Cemas Gangguan Pasokan Global

Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah memasuki pekan kelima ini belum menunjukkan tanda mereda, meski ada upaya diplomasi dari Washington serta pembicaraan damai di Pakistan.

Trump juga menyebut Iran telah memenuhi sebagian besar dari 15 tuntutan AS untuk mengakhiri konflik, meski tidak merinci isi konsesi tersebut.

Di sisi lain, Iran sebelumnya menolak rencana tersebut dan menegaskan syarat, termasuk mempertahankan kedaulatan atas Selat Hormuz.

Ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital penghubung Teluk Persia dengan pasar global, semakin meningkat.

Iran dilaporkan membatasi sebagian besar lalu lintas kapal, hanya mengizinkan sejumlah kecil kapal melintas, termasuk dari Pakistan, Thailand, dan Malaysia.

Baca juga: Bagaimana Kapal Minyak Lewati Selat Hormuz dengan Aman di Tengah Perang Iran Vs Amerika-Israel?

Pekan lalu, Trump mengatakan Iran mengizinkan 10 kapal minyak melintas sebagai gestur niat baik. Jumlah tersebut disebut telah bertambah dua kali lipat, sementara Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyebut Teheran juga memberi izin tambahan bagi kapal negaranya.

Masuknya Houthi dalam konflik menghadirkan risiko baru bagi pasar minyak. Kelompok ini sebelumnya sempat mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah sejak perang Gaza 2023, memaksa banyak kapal mengubah rute.

Ancaman terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi, khususnya jalur ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, dapat semakin memperketat pasokan global. Pelabuhan tersebut saat ini menjadi alternatif ekspor setelah Selat Hormuz praktis terganggu.

Meski demikian, sejumlah analis menilai dampaknya lebih ke peningkatan volatilitas harga ketimbang gangguan pasokan besar, kecuali jika konflik meluas ke infrastruktur energi utama di kawasan Teluk atau kembali menutup total Selat Hormuz.

Baca juga: Harga Minyak Tembus 110 Dollar AS, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat

Lembaga keuangan juga mulai menghitung potensi lonjakan harga lebih lanjut. Macquarie Group memperkirakan harga minyak bisa mencapai 200 dollar AS per barel jika konflik berlanjut hingga Juni dan Selat Hormuz tetap tertutup, dengan probabilitas sekitar 40 persen.

Indikator pasar menunjukkan kekhawatiran tinggi terhadap pasokan jangka pendek. Selisih harga kontrak Brent jangka dekat dengan bulan berikutnya melebar lebih dari 7 dollar AS per barel, menandakan kondisi pasar yang sangat ketat.

Dampak konflik juga merembet ke sektor lain. Fasilitas Emirates Global Aluminium dilaporkan mengalami kerusakan signifikan akibat serangan rudal dan drone Iran.

Selain itu, fasilitas Aluminium Bahrain turut terdampak, mendorong harga aluminium di London melonjak hingga 6 persen pada awal perdagangan.

Tag:  #harga #minyak #naik #saat #konflik #iran #meluas #houthi #serang #israel

KOMENTAR