Harga Urea Global Naik, Pupuk Indonesia Jaga HET Rp 1.800 per Kg
– PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan harga eceran tertinggi (HET) urea dalam negeri tetap stabil meski harga global meningkat.
Head of Corporate Secretary Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira mengatakan kenaikan harga terjadi di pasar internasional akibat gangguan pasokan.
Data Trading Economics menunjukkan harga urea global mencapai 684 dollar Amerika Serikat per ton. Level ini menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2024.
“Samalah kayak harga minyak dunia juga, karena supply terbatas, demand tinggi, harga pasti ikut terkerek naik,” ujar Yehezkiel di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Pasokan Urea Dunia Terganggu, Pupuk Indonesia Siap Ekspor 2 Juta Ton
Kenaikan tersebut tidak berdampak pada harga pupuk subsidi di dalam negeri. Pemerintah menetapkan HET urea sebesar Rp 1.800 per kilogram.
Kebijakan itu didukung subsidi sekitar 20 persen untuk seluruh jenis pupuk.
“Jadi untuk petani dalam negeri, petani subsidi dalam negeri itu mudah-mudahan atau kami pastikan (urea) tidak akan terdampak lah untuk ini, untuk perang ini,” kata Yehezkiel.
Pupuk Indonesia saat ini fokus memenuhi kebutuhan domestik. Kuota pupuk subsidi pada 2026 mencapai 9,84 juta ton.
Perusahaan juga mendorong petani segera menebus pupuk subsidi agar penyerapan optimal.
“Jadi kita penuhin dulu fokusnya dalam negeri. Kalau ada kelebihan baru kita bisa ekspor,” ujar Yehezkiel.
Baca juga: Perang Ganggu Pasokan Urea Dunia, Australia dan India Dekati Indonesia
Prioritas pemenuhan kebutuhan dalam negeri juga sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2026. Aturan tersebut menekankan pemenuhan pasokan domestik sebelum ekspor.
Kapasitas produksi pabrik di bawah Pupuk Indonesia dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional.
“Untuk ekspor itu, itu akan jadi prioritas kesekian lah setelah dalam negeri,” ucap Yehezkiel.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pambudi menyebut kapasitas produksi urea mencapai 9,4 juta ton per tahun.
Dari jumlah tersebut, potensi ekspor berkisar 1,5 juta ton hingga 2 juta ton.
“Kita produksi 9,4 juta ton. Dari 9,4 juta ton itu kita bisa ekspor antara 1,5 sampai 2 juta ton tergantung dari kebutuhan dalam negeri,” kata Rahmad.
Gangguan pasokan global mendorong sejumlah negara mencari pemasok alternatif. Negara seperti Australia, India, dan Amerika Serikat mulai menjajaki kerja sama dengan Indonesia.
Rahmad mengatakan beberapa negara tengah memasuki musim tanam sehingga kebutuhan pupuk meningkat.
“Semua datang ke sini karena tahu posisi strategis Indonesia hari ini. Di tengah gejolak, itu justru Indonesia bisa jadi penyelamat,” ucap Rahmad.
Gangguan pasokan dipicu konflik di Timur Tengah. Pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz menghambat distribusi minyak dan produk petrokimia.
Kondisi ini mendorong kenaikan harga energi global. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat memperluas kehadiran militer di kawasan, sementara kelompok Houthi di Yaman menyatakan dukungan terhadap Iran.
Tag: #harga #urea #global #naik #pupuk #indonesia #jaga #1800