Krisis LPG di India Paksa Hotel Kembali ke Tungku Kayu
- Kelangkaan gas elpiji atau liquefied petroleum gas (LPG) akibat konflik di Timur Tengah mulai mengganggu aktivitas ekonomi dan rumah tangga di India.
Hotel dan unit produksi makanan di Distrik Haveri beralih ke tungku berbahan bakar kayu. Langkah ini diambil untuk menjaga operasional tetap berjalan di tengah terbatasnya pasokan gas.
Kondisi berbeda terlihat di kota besar. Sejumlah hotel yang bergantung penuh pada LPG hampir menghentikan operasional karena tidak memiliki alternatif bahan bakar.
Kota tingkat dua dan tiga seperti Haveri masih memiliki opsi. Penggunaan tungku kayu menjadi solusi sementara.
Pemilik hotel di Old PB Road, Haveri, Bapugouda Patil, mengaku telah beralih ke metode tradisional selama tiga hari terakhir.
"Selama tiga hari terakhir kami memasak dengan tungku kayu. Staf juga memahami, karena memang perlu, tetapi ini sulit jika harus berlangsung lama," ujarnya dikutip dari IndiaTimes, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Perang Ganggu Pasokan Urea Dunia, Australia dan India Dekati Indonesia
Dampak juga dirasakan rumah tangga. Warga di pedesaan mulai menghemat penggunaan gas karena khawatir kelangkaan semakin parah.
Sebagian warga kembali menggunakan kayu bakar. Praktik ini juga muncul di kawasan miskin New Delhi.
Kenaikan harga menjadi pemicu utama. Warga tidak mampu lagi membeli LPG dengan harga normal.
Seorang pekerja rumah tangga di Madanpur Khadar, Sheela Kumari (36), menghentikan penggunaan LPG setelah harga melonjak tajam.
Sebelumnya, ia membeli tabung gas seharga 1.800 hingga 2.000 rupee. Harga di pasar gelap kini mencapai 5.000 rupee atau hampir setara gaji bulanannya sebesar 6.000 rupee.
"Hal ini tidak terbayangkan bagi kami. Satu-satunya pilihan adalah kembali ke kayu dan batu bara,” ujarnya dikutip Straitstimes, Senin (30/3/2026).
Satu tabung LPG ukuran 14 kilogram hanya cukup untuk 15 hingga 20 hari bagi keluarganya. Ia kini membeli kayu bakar 10 kilogram seharga sekitar 30 rupee untuk kebutuhan beberapa hari.
Penggunaan kayu bakar menimbulkan dampak kesehatan. Anak-anaknya sering mengalami batuk akibat asap.
Keluhan serupa datang dari Munni Bai (45), yang menderita asma. Ia sebelumnya beralih ke kompor listrik dan biogas untuk mengurangi gangguan pernapasan.
Lonjakan penggunaan kayu bakar juga memicu kekhawatiran otoritas kehutanan. Permintaan meningkat dan berpotensi merusak hutan.
Baca juga: 3.135 Koperasi Desa Sudah Terima Pikap Impor India
Kualitas udara ikut tertekan. Kota seperti New Delhi sudah menghadapi tingkat polusi tinggi dari lalu lintas, pembangkit listrik, dan pembakaran limbah.
India merupakan pembeli LPG terbesar kedua di dunia. Pasokan banyak bergantung pada kawasan Timur Tengah.
Gangguan distribusi terjadi akibat perang. Jalur energi utama ikut terdampak.
Perdana Menteri Narendra Modi meminta pemerintah daerah menekan praktik penimbunan. Ia juga mengingatkan agar tidak terjadi kepanikan.
Aktivis menilai masalah tidak hanya pada pasokan. Akses menjadi faktor penting, terutama bagi pekerja migran.
Banyak pekerja tidak memiliki dokumen untuk memperoleh LPG bersubsidi. Mereka bergantung pada pasar informal.
Perwakilan Centre for Advocacy and Research (CFAR), Deepak, menilai penimbunan menjadi pemicu kenaikan harga.
"Penimbunan telah meningkat. Banyak migran bergantung pada tabung gas pasar gelap, dan harganya telah naik dua hingga tiga kali lipat," ujarnya.
Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah India mendorong program energi bersih Ujjwala. Program ini menyediakan lebih dari 100 juta sambungan LPG bagi rumah tangga miskin.
Krisis saat ini memicu kemunduran. Penggunaan kayu, batu bara, dan biomassa kembali meningkat.
Paparan asap dalam ruangan meningkat. Risiko penyakit pernapasan ikut naik, terutama bagi perempuan dan anak-anak.