Korean Air Masuk Mode Darurat Imbas Lonjakan Harga Minyak Dunia
Ilustrasi pesawat yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan Korean Air.(PEXELS/KEVIN LEE)
14:24
31 Maret 2026

Korean Air Masuk Mode Darurat Imbas Lonjakan Harga Minyak Dunia

Maskapai penerbangan Korea Selatan, Korean Air, memutuskan beralih ke mode darurat mulai April 2026 seiring lonjakan tajam harga minyak akibat konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran.

Kebijakan ini diambil di tengah tekanan besar terhadap industri penerbangan global yang menghadapi kenaikan biaya bahan bakar jet secara signifikan.

Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip pada Selasa (31/3/2026), keputusan tersebut tertuang dalam memo internal perusahaan yang menyebutkan kenaikan harga minyak berpotensi mengganggu pencapaian target bisnis tahunan maskapai.

Baca juga: Konflik Timur Tengah Semakin Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak

Ilustrasi pesawat.PIXABAY/DOMINIC WUNDERLICH Ilustrasi pesawat.

Wakil Presiden Direktur Korean Air, Woo Kee-hong, dalam pemberitahuan internal menyatakan perusahaan akan mulai menerapkan sistem manajemen darurat pada pekan ini.

Ia menegaskan, langkah tersebut diambil untuk merespons lonjakan biaya yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.

“Langkah-langkah ini bukan upaya pemangkasan biaya sekali saja, melainkan bagian dari upaya struktural yang lebih luas untuk memperkuat fundamental perusahaan,” ujar Woo, dikutip dari Yonhap.

Ia juga memperingatkan, periode panjang harga minyak tinggi dapat secara serius mengganggu kemampuan perusahaan dalam mencapai target bisnisnya.

Baca juga: Wall Street Bergerak Variasi di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah

Lonjakan biaya bahan bakar

Dalam memo internal tersebut, Korean Air menyebut biaya bahan bakar diperkirakan melonjak tajam pada April 2026.

Ilustrasi harga minyak dunia.GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Ilustrasi harga minyak dunia.

Harga bahan bakar jet atau avtur diproyeksikan mencapai sekitar 450 sen dollar AS per galon, lebih dari dua kali lipat dibandingkan asumsi awal dalam rencana bisnis yang hanya sekitar 220 sen per galon.

Kondisi ini memperlihatkan tekanan besar yang dihadapi maskapai, mengingat bahan bakar biasanya menyumbang sekitar 30 persen dari total biaya operasional penerbangan.

Selain kenaikan harga energi, tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar won Korea terhadap dollar AS, yang semakin memperberat beban biaya maskapai.

Baca juga: Trump Ingin Kuasai Minyak Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak

Kenaikan tarif dan efisiensi

Sebagai respons terhadap lonjakan biaya, Korean Air berencana menerapkan langkah efisiensi secara bertahap di seluruh lini operasional.

Perusahaan juga akan menyesuaikan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar untuk rute internasional secara signifikan.

Untuk rute penerbangan jarak jauh seperti Incheon–New York dan Chicago, kenaikan surcharge dilaporkan melebihi 200 persen. Sementara untuk rute ke London dan Paris, kenaikan bahkan mendekati 250 persen.

Langkah ini mencerminkan strategi maskapai dalam menjaga keseimbangan keuangan di tengah lonjakan biaya operasional.

Baca juga: Trump Klaim Iran Setujui Tuntutan AS, Singgung Rencana Ambil Minyak

Dampak konflik di Timur Tengah

Lonjakan harga energi tidak terlepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Perang yang melibatkan Iran memicu gangguan besar pada pasokan energi global dan menyebabkan harga minyak melonjak tajam.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada industri penerbangan global, yang sangat bergantung pada stabilitas harga bahan bakar.

Selain itu, sejumlah maskapai harus mengubah rute penerbangan untuk menghindari wilayah konflik, yang menyebabkan jarak tempuh lebih panjang dan konsumsi bahan bakar meningkat.

Industri penerbangan ikut tertekan

Ilustrasi pesawat melewati awan Cumulonimbus.Pexels/Pixabay Ilustrasi pesawat melewati awan Cumulonimbus.

Tekanan akibat lonjakan harga minyak tidak hanya dirasakan Korean Air. Maskapai lain di Korea Selatan juga mulai mengambil langkah serupa.

Baca juga: IHSG Terkoreksi, Dana Asing Keluar Rp 3,8 Triliun Saat Harga Minyak Melonjak

Asiana Airlines, yang merupakan anak usaha Korean Air, telah lebih dulu masuk ke mode manajemen darurat pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, sejumlah maskapai berbiaya rendah seperti Jin Air dan Air Busan berencana mengurangi frekuensi penerbangan mulai April guna meminimalkan kerugian.

Pengamat industri memperkirakan lebih banyak maskapai akan mengikuti langkah tersebut jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut.

Di pasar saham, tekanan terhadap industri penerbangan juga mulai terlihat.

Baca juga: Gejolak Timur Tengah: Minyak Brent dan WTI Menguat, Jalur Pelayaran Terancam

Saham Korean Air dilaporkan melemah sekitar 1,9 persen seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap lonjakan biaya operasional.

Asia paling terdampak

Krisis energi akibat konflik di Timur Tengah memberikan dampak signifikan bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor minyak.

Korea Selatan, misalnya, mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya dari kawasan tersebut. Ketergantungan ini membuat negara tersebut sangat rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan.

Tekanan serupa juga dirasakan oleh negara-negara lain di kawasan Asia yang menghadapi kenaikan inflasi dan pelemahan mata uang akibat lonjakan harga energi.

Baca juga: Harga Minyak Naik saat Konflik Iran Meluas dan Houthi Serang Israel

Efek berantai ke sektor lain

Dampak kenaikan harga minyak tidak hanya dirasakan sektor penerbangan, tetapi juga merembet ke berbagai industri lain.

Ilustrasi maskapai penerbangan Korean Air. DOK. INSTAGRAM @KOREANAIRWORLD Ilustrasi maskapai penerbangan Korean Air.

Gangguan pasokan energi menyebabkan kenaikan harga bahan baku di berbagai sektor, termasuk manufaktur dan industri kimia. Sejumlah perusahaan dilaporkan mengurangi kapasitas produksi akibat meningkatnya biaya operasional.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dapat memicu tekanan luas terhadap perekonomian global.

Prospek industri

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, maskapai penerbangan global menghadapi tantangan besar dalam menjaga kinerja keuangan.

Baca juga: Harga Minyak Berpotensi Tembus 125 Dollar AS, Analis Prediksi Lonjakan Tajam Pekan Depan

Korean Air menegaskan, penerapan mode darurat bukan hanya langkah jangka pendek, melainkan bagian dari upaya struktural untuk memperkuat fundamental perusahaan di tengah tekanan eksternal yang terus meningkat.

Langkah ini sekaligus mencerminkan situasi yang tengah dihadapi industri penerbangan global, di mana lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja bisnis.

Tag:  #korean #masuk #mode #darurat #imbas #lonjakan #harga #minyak #dunia

KOMENTAR