IHSG Bangkit dan Risk-On Dorong Optimisme Pasar, Saham Mana Saja yang Perlu Dicermati Investor?
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Freepik)
07:32
2 April 2026

IHSG Bangkit dan Risk-On Dorong Optimisme Pasar, Saham Mana Saja yang Perlu Dicermati Investor?

- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai rebound. Pada perdagangan Rabu (1/4/2026), indeks naik 1,93 persen ke level 7.184,43.

Penguatan IHSG terjadi seiring meningkatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap potensi deeskalasi konflik di Timur Tengah, serta dorongan dari reli yang terjadi di bursa Asia dan Wall Street.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai kenaikan IHSG saat ini lebih mencerminkan respons jangka pendek terhadap sentimen global yang dinilai mulai membaik, ketimbang perubahan fundamental yang bersifat permanen.

“Namun perlu dipahami bahwa sentimen seperti ini secara karakter bersifat jangka pendek dan berbasis ekspektasi, bukan berbasis kepastian,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Rabu malam.

Baca juga: IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?

Selama belum ada realisasi konkret terkait penghentian konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, maka penguatan IHSG cenderung bersifat teknikal.

Dalam kondisi ini, pola risk-on yang terjadi hanya bertahan dalam jangka pendek, karena pelaku pasar global umumnya akan cepat melakukan aksi ambil untung alias profit taking ketika tidak ada perkembangan lanjutan.

“Dalam pengalaman pasar global, sentimen geopolitik biasanya hanya mampu menopang pasar dalam hitungan hari hingga beberapa minggu, karena pelaku pasar akan cepat melakukan profit taking ketika tidak ada perkembangan lanjutan yang lebih pasti,” paparnya.

Meski demikian, peluang penguatan lanjutan tetap terbuka apabila skenario positif benar-benar terjadi.

Jika deeskalasi konflik terealisasi dan ketegangan geopolitik mereda, IHSG berpotensi menguat di area 7.300-7.500 dalam jangka menengah.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat terjadi karena penurunan harga energi, khususnya minyak, berpotensi meredakan tekanan inflasi global.

Hal itu pada akhirnya membuka ruang bagi bank sentral dunia untuk melonggarkan kebijakan moneter, sekaligus meningkatkan aliran dana asing ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Dalam skenario tersebut, sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga diperkirakan menjadi motor utama penguatan indeks.

Saham perbankan, konsumer, properti, dan industri dinilai mendapat manfaat dari penurunan biaya dana serta peningkatan aktivitas ekonomi.

Sebaliknya, risiko koreksi tetap membayangi apabila harapan deeskalasi tidak terwujud atau konflik kembali memanas.

Dalam kondisi tersebut, IHSG berpotensi kembali tertekan dan bahkan turun ke bawah level 7.000.

Tekanan dipicu oleh lonjakan harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya tekanan inflasi yang dapat menahan ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi berbagai faktor global dan domestik.

Hendra menyebut dari sisi global, investor perlu mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, pergerakan harga minyak dunia, kondisi ekonomi China, serta dinamika geopolitik yang masih sangat fluktuatif.

Sementara dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada stabilitas nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI), kondisi likuiditas domestik, serta arah kebijakan pemerintah terhadap pasar modal dan investasi.

Dalam situasi seperti ini, pasar cenderung bergerak volatil dengan potensi rotasi sektor yang cukup tinggi.

Saham-saham yang sebelumnya mengalami kenaikan signifikan bisa mengalami distribusi, sementara dana mulai mengalir ke sektor yang relatif tertinggal.

Hendra menilai, kondisi rebound saat ini sebaiknya dimanfaatkan investor untuk melakukan penyesuaian portofolio.

Saham berbasis komoditas, seperti batu bara dan energi, berpotensi mengalami tekanan apabila kondisi global membaik dan premi risiko geopolitik menurun.

Sebaliknya, saham yang sensitif terhadap penurunan suku bunga dan pemulihan ekonomi domestik dinilai lebih menarik untuk diakumulasi secara bertahap.

“Oleh karena itu dalam fase rebound seperti saat ini, pasar dapat dimanfaatkan untuk melakukan rotasi portofolio, yaitu secara bertahap mengurangi saham komoditas dan mulai mengakumulasi saham yang sensitif terhadap penurunan suku bunga dan pemulihan ekonomi domestik,” pungkasnya.

Baca juga: IHSG Dibuka di Zona Hijau, Menguat 1,31 Persen ke Level 7.140,44

Berikut saham-saham yang dapat dicermati pada perdagangan Kamis (2/4/2026) antara lain: 

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp 800, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) speculative buy dengan target Rp 1.915.

Lalu, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) speculative buy dengan target 300, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) trading buy dengan target harga Rp 280, serta PT Net Visi Media Tbk (NETV) speculative buy dengan target Rp 100.

Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, menilai bahwa investor bisa mencermati saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dengan target harga Rp 1.625 - Rp 1.720 per saham, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) dengan target Rp 316 - Rp 346 per saham, dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dengan target Rp 306 - Rp 350 per saham.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #ihsg #bangkit #risk #dorong #optimisme #pasar #saham #mana #saja #yang #perlu #dicermati #investor

KOMENTAR