Per Meter Persegi Rp 12 Juta Lebih, Ini Sebabnya Harga Tanah di Jabodetabek Mahal
Ilustrasi harga tanah(KOMPAS.com/Seto Ajinugroho)
15:48
2 April 2026

Per Meter Persegi Rp 12 Juta Lebih, Ini Sebabnya Harga Tanah di Jabodetabek Mahal

- Harga tanah di Jabodetabek setiap tahunnya semakin mahal.

Bahkan, laporan dari Cushman & Wakefield berjudul 'Marketbeat Greater Jakarta Landed Residential H2 2025' setiap tahunnya harga tanah di Jabodetabek  mengalami kenaikan 1,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Misalnya pada semester II 2024, per meter persegi harga rata-rata tanah di Jabodetabek mencapai Rp 12.652.597.

Baca juga: Cara Cek Sertifikat Tanah Online, Praktis Langsung dari HP

Lalu pada semester II 2025 harga tanah di Jabodetabek mencapai Rp 12.746.152 per meter persegi.

"Tanah itu ciptaan Tuhan, tidak ada pabriknya dan jumlahnya terbatas. Karena itu harganya selalu naik setiap tahun," jelas Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (Waketum DPP REI) Bambang Ekajaya dikutip dari Kompas.com, Jumat (6/3/2026).

Lantas kenapa harga tanah terus menerus naik? berikut ulasannya.

Baca juga: Indonesia-Jepang Sepakat Kerja Sama Tanah Jarang dan Mineral Kritis

Faktor harga tanah Jabodetabek mahal

1. Pertumbuhan penduduk 

Secara teori, jika jumlah penduduk semakin tinggi maka kebutuhan akan tempat tinggal meningkat. Sementara, lahan yang tersedia tetap.

Permintaan/kebutuhan naik maka harga ikut terkatrol naik. Menurut kependudukancapil.jakarta.go.id, jumlah warga resmi yang beralamat di DKI Jakarta saja mencapai 11 juta jiwa, belum warga pendatang.

Untuk Jabodetabek diperkirakan dihuni oleh 42 juta jiwa manusia.

Baca juga: Tanah Warisan Dikenai Pajak, Berikut Besaran Nominalnya

2. Pembangunan infrastruktur

Infrastruktur yang terus dibangun, seperti jalan tol, bandara, stasiun, kereta cepat, dan lain sebagainya membuat harga tanah naik signifikan.

Apalagi jika suwatu wilayah mudah diakses atau dekat pusat kota, maka harga tanah per meter persegi semakin mahal.

3. Urbanisasi

Berpindahnya penduduk dari pedesaan ke perkotaan (urbanisasi) membuat kota makin padat.

Hasilnya, lahan di pusat kota makin menipis, mendorong harga tanah di pinggiran naik karena kebutuhan pemukiman.

Baca juga: Mendag Didatangi Pedagang Tanah Abang, Ngeluh Penjualan Anjlok

4. Investasi dan spekulasi

Masih banyak orang membeli tanah bukan untuk digunakan namun berinvestasi.

Tentu harapannya, menunggu harga tanah naik di masa depan lalu menjualnya. Aktivitas ini disebut spekulasi yang berdampak melambungnya harga tanah.

5. Menyempitnya lahan

Lahan tak bisa ditambah, ia merupakan sumber daya tetap.

Menyempitnya ketersediaan lahan membuatnya eksklusif.

Baca juga: Purbaya Pamer Baju Lebaran dari Tanah Abang, Harganya Rp 125.000

6. Tata ruang

Kebijakan pemerintah dalam tata ruang selslu berimbas pada kenaikan harga tanah.

Pembukaan kawasan industri, perumahan, hingga zona komersial menjadi penyebab kenaikan harga tanah.

7. Inflasi

Inflasi membuat nilai mata uang semakin menurun dadi waktu ke waktu.

Selain logam mulia, tanah dianggap aset aman untuk menjaga agar tak kena inflasi. Akhirnya, orang lebih membeli tanah dibanding menyimpan uangnya di bank. 

Baca juga: Bea Cukai Jakarta Periksa 82 Yacht di Ancol, Sasar Barang Mewah hingga Ekonomi Bawah Tanah

Skemanya sama seperti di poin nomor 4.

8. Fasilitas umum

Adanya fasilitas umum seperti sekolah, ruma sakit, pusat perbelanjaan, hingga perkantoran membuat harga tanah di sekitarnya melonjak.

Fasilitas umum yang makin lengkap lalu mudah dijangkau menjadi faktor naiknyya harga tanah.

Baca juga: Purbaya Sidak Tanah Abang, Klaim Daya Beli Masyarakat Masih Kuat

Artikel ini pernah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengapa Harga Tanah Terus Naik?"

Tag:  #meter #persegi #juta #lebih #sebabnya #harga #tanah #jabodetabek #mahal

KOMENTAR