Purbaya Klaim Inflasi Maret 2026 Hanya 2,5 persen di Luar Diskon Listrik
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan kenaikan inflasi pada Maret 2026 yang mencapai 3,48 persen secara tahunan (year on year) dipengaruhi oleh faktor basis, khususnya kebijakan diskon listrik pada periode yang sama tahun lalu.
Menurut Purbaya, lonjakan angka inflasi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan tekanan harga riil di masyarakat saat ini.
“Inflasi pada bulan Maret mencapai 3,48 persen year on year. Ini ada dampak diskon listrik tahun lalu yang tidak dihitung oleh BPS,” ujarnya dalam Raker dengan Komisi XI di DPR RI pada Senin (6/4/2026).
Baca juga: Inflasi Melandai, BI Yakin Stabil di Kisaran Sasaran
Ia menjelaskan, jika komponen diskon listrik dikeluarkan dari perhitungan, maka inflasi Maret 2026 sebenarnya hanya berada di kisaran 2,51 persen.
“Kalau kita keluarkan dampak dari subsidi listrik tahun lalu, inflasi di bulan Maret hanya 2,51 persen, jadi masih relatif terkendali,” lanjutnya.
Purbaya menjelaskan bahwa, angka inflasi 3,48 persen kerap disalahartikan sebagai tanda ekonomi mengalami tekanan berlebih.
Padahal kenaikan tersebut lebih disebabkan oleh perbedaan basis perhitungan harga listrik dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini, kata Purbaya, menunjukkan bahwa secara fundamental inflasi Indonesia masih berada dalam rentang yang aman dan terkendali.
Pemerintah juga menilai stabilitas harga yang terjaga tidak terlepas dari koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika global.
Dengan inflasi yang tetap terkendali, ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dinilai masih terbuka tanpa menimbulkan tekanan harga yang signifikan.
Baca juga: Inflasi Maret Melandai ke 3,48 Persen, Efek Diskon Listrik Masih “Menghantui”
Purbaya mengklaim meskipun ada dinamika tersebut, pemerintah memastikan kondisi ekonomi domestik masih relatif stabil meski dihadapkan pada berbagai tekanan global, termasuk eskalasi geopolitik dan gangguan aktivitas ekonomi dunia.
Sejumlah indikator menunjukkan kinerja ekonomi yang tetap positif. Aktivitas industri masih berada dalam fase ekspansi selama delapan bulan berturut-turut, meski Purchasing Managers’ Index (PMI) sempat turun ke level 51,1 pada Maret akibat kekhawatiran dampak konflik global.
Di sisi lain, likuiditas perekonomian juga terjaga. Uang beredar (M0) tercatat tumbuh mendekati 20 persen secara tahunan hingga pekan ketiga Maret 2026, yang turut mendorong pertumbuhan kredit investasi hingga 20,7 persen.
Kinerja sektor eksternal juga masih solid, ditopang oleh surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa yang mencapai setara 5,9 bulan impor, jauh di atas ambang batas aman internasional.
Sementara itu, daya beli masyarakat tetap terjaga, tercermin dari pertumbuhan konsumsi, penjualan ritel, hingga penjualan kendaraan bermotor yang masih mencatatkan tren positif.
Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah menilai tekanan inflasi saat ini lebih bersifat teknis akibat faktor basis, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi.
“Jadi kita sekarang sebetulnya di 2,51 persen, masih baik,” kata dia.
Pemerintah pun optimistis stabilitas harga yang terjaga akan memberikan ruang bagi perekonomian untuk tumbuh lebih ekspansif tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan.
Tag: #purbaya #klaim #inflasi #maret #2026 #hanya #persen #luar #diskon #listrik