IMF: Ekonomi Singapura Melambat akibat Perang Timur Tengah
Ilustrasi Singapura. (Unsplash/Hu Chen)
10:40
19 Mei 2026

IMF: Ekonomi Singapura Melambat akibat Perang Timur Tengah

- Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menilai ekonomi Singapura masih berada dalam posisi kuat di tengah ketidakpastian global yang meningkat, termasuk dampak perang di Timur Tengah yang memicu guncangan energi.

Dalam pernyataan hasil konsultasi tahunan Article IV Consultation 2026 yang dipimpin Kepala Misi IMF untuk Singapura Masahiro Nozaki, IMF menyebut perekonomian Negeri Singa tetap resilien meski menghadapi risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan inflasi.

“Singapura sedang menghadapi tahun lain dengan ketidakpastian global yang meningkat. Terutama, perang di Timur Tengah berdampak pada perekonomian melalui guncangan energi,” tulis IMF dalam pernyataannya, dikutip pada Selasa (19/5/2026).

Baca juga: Singapura Perketat Aturan Investor Beli Properti di Bawah Harga Pasar

Ilustrasi Singapura. Foto diambil pada 27 Januari 2023.REUTERS/CAROLINE CHIA Ilustrasi Singapura. Foto diambil pada 27 Januari 2023.

IMF mencatat Singapura memasuki periode ketidakpastian tersebut dari posisi yang relatif kuat.

Ekonomi negara itu tumbuh solid dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 3,9 persen sepanjang periode 2023-2025.

Selain itu, inflasi dinilai tetap rendah dan stabil, sementara sistem keuangan tetap tangguh berkat sektor perbankan yang memiliki modal kuat dan likuiditas yang memadai.

“Cadangan fiskal yang substansial, yang telah berhasil digunakan dalam menghadapi guncangan besar seperti pandemi COVID, tetap tersedia,” kata IMF.

Baca juga: Singapura Punya 30.500 Stasiun Pengisian Daya Kendaraan Listrik, Lampaui Separuh Target

Pertumbuhan ekonomi Singapura diproyeksi melambat

Sebelum perang di Timur Tengah pecah, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Singapura akan melambat secara bertahap mulai 2026 seiring normalisasi investasi swasta dan ekspor bersih.

Namun, konflik di Timur Tengah dinilai memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian melalui kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok jangka pendek.

Ilustrasi Singapura.SHUTTERSTOCK/RICHIE CHAN Ilustrasi Singapura.

IMF kini memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Singapura melambat menjadi 3,5 persen pada 2026 dan kembali turun menjadi 2,7 persen pada 2027.

“Kenaikan harga input dan gangguan rantai pasokan yang berumur pendek memberikan tekanan pada industri yang padat energi dan terkait perdagangan,” tulis IMF.

Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, Airlangga: Di Atas China hingga Singapura...

Meski demikian, IMF menilai booming kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) global masih menjadi penopang bagi ekonomi Singapura, terutama melalui siklus pertumbuhan sektor teknologi.

“Tren peningkatan teknologi yang sedang berlangsung karena booming AI global terus memberikan dorongan positif bagi Singapura,” lanjut IMF.

Inflasi naik akibat harga energi

IMF juga memperkirakan inflasi utama atau headline inflation Singapura meningkat menjadi 2,6 persen pada 2026 akibat kenaikan harga energi global.

Kenaikan harga energi tersebut dinilai akan diteruskan ke berbagai sektor ekonomi domestik.

Baca juga: Pengusaha Boyong Kantor dari Dubai ke Singapura-Hong Kong karena Perang

Meski demikian, IMF memperkirakan dampak lanjutan terhadap inflasi masih dapat terkendali karena ekspektasi inflasi tetap stabil.

“Inflasi secara keseluruhan diproyeksikan turun menjadi 1,9 persen pada tahun 2027,” tulis IMF.

Meski begitu, lembaga tersebut mengingatkan tingkat ketidakpastian terhadap proyeksi ekonomi masih tinggi.

IMF menilai risiko terhadap pertumbuhan ekonomi cenderung mengarah ke bawah, sedangkan risiko inflasi justru meningkat. Risiko tersebut terutama berasal dari kemungkinan eskalasi dan berkepanjangannya perang di Timur Tengah.

Baca juga: Daftar 5 Negara dengan Investasi Terbesar di RI pada Kuartal I-2026, Singapura Teratas

Ilustrasi Chinatown di Singapura.Dok. Unsplash/Adrian Jakob Ilustrasi Chinatown di Singapura.

“Kenaikan harga energi dan kelangkaan pupuk serta produk petrokimia tidak hanya dapat menimbulkan tekanan inflasi yang meluas, tetapi juga melemahkan permintaan domestik dan eksternal,” kata IMF.

Selain perang di Timur Tengah, IMF juga menyoroti potensi kenaikan tensi perdagangan global serta kemungkinan pecahnya gelembung boom AI global yang dapat berdampak negatif terhadap ekonomi Singapura yang berorientasi ekspor.

IMF dukung pengetatan kebijakan moneter

Di tengah risiko inflasi yang meningkat, IMF menilai langkah pengetatan kebijakan moneter oleh Monetary Authority of Singapore (MAS) pada April 2026 sudah tepat.

Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali di tengah kenaikan harga energi domestik.

Baca juga: Ekonomi Melemah, Singapura Perketat Kebijakan Nilai Tukar

“Staf menilai bahwa pengetatan kebijakan moneter pada April 2026 sudah tepat dan membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali di tengah kenaikan harga energi domestik,” tulis IMF.

Ke depan, IMF meminta MAS tetap bersikap berbasis data atau data-dependent dan siap melakukan pengetatan lanjutan apabila tekanan inflasi tahap kedua mulai muncul.

“MAS (Otoritas Moneter Singapura) harus tetap bergantung pada data dan siap untuk memperketat kebijakan lebih lanjut jika tekanan inflasi putaran kedua muncul,” lanjut IMF.

Surplus fiskal diperkirakan menurun

Dari sisi fiskal, IMF memperkirakan surplus anggaran Singapura turun menjadi 1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun fiskal 2026, dari sebelumnya 1,6 persen pada tahun fiskal 2025.

Baca juga: Ternyata, Bensin RI Banyak Impor dari Singapura dan Malaysia

Penurunan surplus itu terutama dipicu oleh meningkatnya belanja pembangunan pemerintah.

Menurut IMF, kebijakan fiskal yang moderat ekspansif masih sesuai dan sejalan dengan rekomendasi IMF pada konsultasi sebelumnya untuk secara bertahap mengurangi surplus fiskal demi mengakomodasi kebutuhan belanja jangka menengah yang meningkat.

Meski demikian, IMF mengingatkan pemerintah Singapura perlu berhati-hati dalam menjalankan kebijakan fiskal agar tidak memperburuk tekanan inflasi.

Ilustrasi Singapura.UNSPLASH/JAY ANG Ilustrasi Singapura.

“Pemerintah harus siap memberikan dukungan sementara dan terarah bagi rumah tangga dan bisnis yang terdampak perang di Timur Tengah. Namun, kebijakan fiskal harus diterapkan dengan hati-hati agar tidak memperburuk tekanan inflasi,” tulis IMF.

Baca juga: Redam Dampak Lonjakan Harga Minyak Dunia, Singapura Bagikan Bantuan Tunai dan Voucher BBM

Sektor keuangan dinilai tetap tangguh

IMF juga menilai sektor keuangan Singapura tetap berada dalam kondisi kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Perbankan Singapura disebut memiliki permodalan, likuiditas, dan profitabilitas yang baik, didukung kualitas aset yang kuat.

“Bank-bank memiliki permodalan yang baik, likuiditas yang tinggi, dan profitabilitas yang menguntungkan, didukung oleh kualitas aset yang kuat,” terang IMF.

Hasil stress test otoritas Singapura juga menunjukkan ketahanan sektor perbankan maupun lembaga keuangan non-bank atau non-bank financial institutions (NBFIs).

Baca juga: Singapura Waspadai Blokade Selat Hormuz, Risiko Resesi Global Menguat

Risiko sistemik dari sektor perumahan dinilai masih terkendali.

Meski demikian, IMF meminta otoritas moneter Singapura tetap waspada terhadap risiko eksposur lintas negara perbankan, kondisi korporasi rentan, serta keterkaitan antara bank dan lembaga keuangan non-bank.

“Staf menyambut baik upaya berkelanjutan dari pihak berwenang untuk memperkuat pengujian stres, meningkatkan pengawasan terhadap lembaga keuangan non-bank (NBFI), dan terlibat dalam perencanaan kontingensi,” lanjut IMF.

AI jadi strategi pertumbuhan nasional

Dalam laporan tersebut, IMF juga menyoroti langkah Singapura yang menjadikan AI sebagai strategi pertumbuhan nasional.

Baca juga: Krisis Pasokan BBM, Kamboja Alihkan Impor ke Singapura dan Malaysia

 Ilustrasi AI. F5 Ilustrasi AI.

Anggaran fiskal 2026 Singapura disebut telah memuat berbagai inisiatif untuk mendukung adopsi AI oleh perusahaan.

Namun, IMF mengingatkan tingginya proporsi pekerjaan terampil di Singapura membuat pasar tenaga kerja negara itu rentan terhadap peningkatan penggunaan AI di tempat kerja.

“AI telah dijadikan strategi pertumbuhan nasional dan anggaran tahun fiskal 2026 mencakup inisiatif untuk mendukung adopsi AI oleh perusahaan,” sebut IMF.

Karena itu, IMF menyambut baik upaya pemerintah Singapura dalam meningkatkan program re-skilling dan upskilling tenaga kerja.

Baca juga: Nilai Dagang dengan Singapura dan Malaysia Terus Naik, Indonesia Perkuat Perdagangan ASEAN

“Para staf (IMF) menyambut baik upaya berkelanjutan pemerintah dalam meningkatkan dan memperbarui keterampilan tenaga kerja Singapura,” kata lembaga tersebut.

Tag:  #ekonomi #singapura #melambat #akibat #perang #timur #tengah

KOMENTAR