ADB: Indonesia Perlu Dorong Manufaktur untuk Serap Tenaga Kerja Formal
— Pasar tenaga kerja Indonesia dinilai masih menghadapi kendala struktural dalam memperluas penciptaan lapangan kerja formal.
Kondisi ini dinilai menjadi tantangan utama dalam menjaga pertumbuhan produktivitas serta pencapaian tujuan pembangunan jangka panjang.
“Pasar tenaga kerja secara struktural terkendala dalam memperluas penciptaan lapangan kerja formal,” tulis Bank Pembangunan Asia atau Asia Development Bank (ADB) dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) April 2026, dikutip pada Senin (13/4/2026).
Baca juga: Reindustrialisasi, Lapangan Kerja, dan Masa Depan Indonesia
Pencari kerja antre memasuki aula saat Job Fair Kudus 2025 di Gedung Hraha Mustika, Desa Getas Pejaten, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (10/10/2025). Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar bursa kerja yang menghadirkan 20 perusahaan dengan total 1.401 lowongan pekerjaan bagi penyandang disibilitas, lulusan perguruan tinggi dan SMA sebagai upaya penyerapan tenaga kerja serta menekan angka pengangguran.
Ini menunjukkan adanya hambatan mendasar dalam memperluas pekerjaan formal di dalam perekonomian.
Salah satu indikasi utama dari persoalan tersebut adalah tingginya tingkat pekerjaan informal yang bertahan dalam satu dekade terakhir.
Data menunjukkan, pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kesempatan kerja formal.
“Pekerjaan informal tetap tinggi selama dekade terakhir, menunjukkan bahwa pertumbuhan belum diterjemahkan menjadi peluang kerja formal yang memadai,” tulis ADB dalam laporannya.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Pelit Lapangan Kerja
Dominasi sektor informal dan dampaknya terhadap produktivitas
Struktur ketenagakerjaan Indonesia menunjukkan bahwa sektor-sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar masih didominasi oleh pekerjaan informal.
Sementara itu, sektor yang lebih formal justru menyumbang porsi kecil terhadap total lapangan kerja.
Ilustrasi lapangan kerja, pekerjaan.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas pertumbuhan ekonomi. Laporan ADB menegaskan, dominasi sektor informal membatasi peningkatan produktivitas dan melemahkan perubahan struktural menuju kualitas pekerjaan yang lebih baik.
Dengan kata lain, meskipun tenaga kerja terserap, kualitas pekerjaan yang tersedia belum mampu mendorong peningkatan produktivitas secara signifikan.
Baca juga: Ekonomi Tumbuh, tetapi Lapangan Kerja Formal Menyusut
Selain itu, distribusi pekerjaan formal juga cenderung terkonsentrasi pada sektor tertentu yang memiliki produktivitas tinggi.
Namun demikian, sektor-sektor ini mensyaratkan tingkat pendidikan dan keterampilan yang lebih tinggi.
“Permintaan akan pekerjaan formal terkonsentrasi pada sejumlah sektor berproduktivitas tinggi yang membutuhkan tingkat keterampilan dan pendidikan yang lebih tinggi,” ungkap ADB dalam laporannya.
Akibatnya, sebagian besar tenaga kerja masih terjebak dalam pekerjaan dengan produktivitas rendah, terutama di sektor informal.
Baca juga: Kembalikan Daya Beli, Kelas Menengah Butuh Lapangan Kerja Berkualitas
Kesenjangan pendidikan dan struktur pekerjaan
Laporan tersebut juga menyoroti keterkaitan erat antara tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan. Sektor dengan tingkat informalitas tinggi cenderung menyerap tenaga kerja dengan pendidikan rendah.
“Sektor-sektor dengan tingkat pekerjaan informal yang tinggi cenderung menyerap pekerja dengan pendidikan yang lebih rendah, sehingga memperburuk tantangan terhadap lapangan kerja formal,” tulis ADB.
Di sisi lain, pekerjaan formal lebih banyak diisi oleh tenaga kerja berpendidikan tinggi, terutama di sektor jasa modern dan sektor berbasis pengetahuan.
Pengunjung mencari informasi tentang lowongan kerja pada Jakarta Utara Job Festival 2025 di Gedung Serbaguna Gelora Sunter, Jakarta, Selasa (14/10/2025). Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Sudin Nakertransgi) Jakarta Utara menggelar bursa kerja dengan menghadirkan 38 perusahaan dari beragam sektor industri untuk memperluas akses lapangan kerja dan menekan angka pengangguran.
Perubahan struktur pekerjaan juga ditandai oleh penurunan permintaan terhadap pekerjaan rutin, baik manual maupun kognitif. Sebaliknya, permintaan terhadap pekerjaan non-rutin, terutama yang bersifat analitis dan interpersonal, semakin meningkat.
Baca juga: Anak Muda Terdidik jadi Pengangguran, Perlu Investasi untuk Ciptakan Lapangan Kerja Berkualitas
“Permintaan untuk tugas-tugas rutin telah menurun, seiring dengan pergeseran bertahap menuju tugas-tugas kognitif dan interpersonal yang tidak rutin,” demikian disebutkan dalam laporan ADB.
Namun demikian, pergeseran menuju pekerjaan bernilai tambah tinggi tersebut dinilai masih terbatas. Hal ini menunjukkan adanya kendala dalam pengembangan keterampilan, khususnya di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
ADB mencatat, perluasan peran kognitif bernilai lebih tinggi masih terbatas, yang mencerminkan keterbatasan dalam sistem pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.
Transformasi struktural belum optimal
Struktur ekonomi Indonesia juga menunjukkan proses transformasi struktural belum berjalan optimal. Tenaga kerja masih banyak terserap di sektor dengan produktivitas rendah, seperti pertanian dan perdagangan informal.
Baca juga: Janji Purbaya ke Generasi Muda: Ke Depan akan Lebih Banyak Lapangan Kerja...
“Meskipun sektor pertanian terus menyerap sebagian besar lapangan kerja, sektor ini tetap dicirikan oleh produktivitas yang rendah dan informalitas yang tinggi,” terang ADB dalam laporannya.
Pola serupa juga terjadi pada sektor perdagangan besar dan eceran, transportasi, serta berbagai layanan lainnya yang masih didominasi oleh pekerjaan informal.
Sebaliknya, sektor dengan produktivitas tinggi dan kebutuhan keterampilan tinggi hanya menyerap sebagian kecil tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa pergeseran tenaga kerja ke sektor yang lebih produktif berjalan lambat.
“Hal ini menunjukkan bahwa alokasi ulang tenaga kerja tertinggal, dengan pekerja lebih banyak beralih ke sektor jasa berproduktivitas rendah daripada ke sektor berproduktivitas tinggi,” tulis ADB.
Baca juga: Wamenkeu Juda Sebut Pertumbuhan Ekonomi RI Ungguli China, Dorong Lapangan Kerja
Akibatnya, peningkatan produktivitas ekonomi secara keseluruhan menjadi terbatas.
Ilustrasi manufaktur, industri manufaktur.
Peran sektor manufaktur dalam penciptaan pekerjaan formal
Dalam konteks transformasi struktural, sektor manufaktur dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja formal secara inklusif.
“Pertumbuhan lapangan kerja formal yang lebih kuat di sektor manufaktur sangat penting untuk mendukung transformasi struktural yang inklusif,” ungkap ADB.
Sektor manufaktur memiliki potensi untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus menawarkan produktivitas yang lebih tinggi dibanding sektor informal tradisional.
Baca juga: Bonus Demografi Tanpa Lapangan Kerja Berkualitas
Akan tetapi, untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan kebijakan yang mampu mendorong ekspansi sektor-sektor produktif serta mempercepat peralihan tenaga kerja dari sektor informal ke formal.
Arah kebijakan: pendidikan, pelatihan, dan iklim investasi
ADB menekankan pentingnya kebijakan pasar tenaga kerja yang terkoordinasi untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Pemerintah harus terus mendukung pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan melalui kebijakan pasar tenaga kerja yang terkoordinasi,” tulis ADB dalam laporan tersebut.
Salah satu prioritas utama adalah memperbaiki sistem pencocokan kerja (job matching) dan sertifikasi tenaga kerja agar lebih efektif dalam menghubungkan pekerja dengan peluang kerja formal.
Baca juga: Prabowo Genjot Industrialisasi untuk Buka Lapangan Kerja
Selain itu, pekerja juga perlu didorong untuk bertransisi dari pekerjaan rutin yang menurun ke pekerjaan non-rutin yang lebih produktif.
Ilustrasi STEM, ilustrasi sains
ADB juga menekankan pentingnya peningkatan akses terhadap pendidikan menengah dan vokasi, termasuk penguatan pendidikan STEM.
“Memperluas akses ke pendidikan menengah dan kejuruan berkualitas, serta pendidikan STEM, disambut baik karena hal ini akan mengembangkan tenaga kerja yang adaptif,” tulis ADB dalam laporannya.
Program pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) juga dinilai penting untuk mendukung mobilitas tenaga kerja antar sektor.
Baca juga: Lebih Prioritas Mana: MBG atau Penciptaan Lapangan Kerja?
Di sisi lain, kebijakan industri dan investasi perlu diarahkan untuk mendorong ekspansi sektor manufaktur dan sektor produktif lainnya yang mampu menyerap tenaga kerja secara formal.
ADB menyebutkan, hal ini membutuhkan penguatan iklim investasi, kepastian regulasi, dan kinerja logistik untuk menurunkan biaya, meningkatkan daya saing, dan memberi insentif kepada perusahaan untuk berekspansi dan meformalkan lapangan kerja.
Tantangan menuju pekerjaan formal yang lebih luas
Secara keseluruhan, laporan ADB menunjukkan tantangan penciptaan lapangan kerja formal di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan jumlah pekerjaan, tetapi juga struktur ekonomi dan kualitas tenaga kerja.
Kombinasi antara tingginya informalitas, keterbatasan keterampilan, serta lambatnya transformasi struktural menjadi faktor utama yang menghambat peningkatan produktivitas dan kualitas pekerjaan.
Baca juga: Menaker Ngaku Jadi Sasaran Pertanyaan “Mana 19 Juta Lapangan Kerja?”
Dengan demikian, upaya memperluas pekerjaan formal membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari reformasi pendidikan dan pelatihan hingga perbaikan iklim investasi dan penguatan sektor industri.
Semua faktor tersebut saling terkait dalam mendorong transformasi struktural yang mampu menciptakan lebih banyak pekerjaan formal dan meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi.
Tag: #indonesia #perlu #dorong #manufaktur #untuk #serap #tenaga #kerja #formal