Melihat Prospek Logistik Indonesia ke AS Selepas Kebijakan Tarif Resiprokal
Senior Manager Operations FedEx, Ida Ayu Eka Restini(KOMPAS.COM /KIKI SAFITRI)
11:28
14 April 2026

Melihat Prospek Logistik Indonesia ke AS Selepas Kebijakan Tarif Resiprokal

- Kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat tetap memengaruhi dinamika pengiriman barang dari Indonesia. Perusahaan logistik global FedEx menilai dampak terasa pada keputusan pelaku usaha.

Senior Manager Operations FedEx Ida Ayu Eka Restini menjelaskan tarif dikenakan saat barang masuk ke wilayah AS. Skema ini membuat biaya baru muncul di negara tujuan.

“Tarif dari AS itu sebenarnya dikenakan di sana, saat barang masuk. Jadi bukan dari sisi pengiriman di sini,” ujarnya di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Baca juga: Harga Avtur Naik, FedEx Belum Naikkan Biaya Logistik

Pemerintah sebelumnya menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan AS pada Februari 2026. Kesepakatan mencakup tarif resiprokal rata-rata 19 persen dari rencana awal 32 persen. Sebanyak 1.819 pos tarif komoditas Indonesia mendapat fasilitas 0 persen ke pasar AS.

Ida Ayu menilai tarif tidak dapat dihindari dalam perdagangan global. Pelaku usaha lebih membutuhkan kepastian informasi.

“Tarif itu tidak bisa dihindari. Yang dibutuhkan customer adalah visibility dan informasi yang jelas,” jelasnya.

FedEx memanfaatkan posisinya sebagai perusahaan berbasis AS untuk memperoleh informasi lebih cepat. Informasi tersebut kemudian disampaikan ke pelanggan.

“Karena kami US-based, informasi yang kami dapat lebih awal dan lebih jelas. Itu yang kami sampaikan ke pelanggan,” katanya.

Informasi tarif diterjemahkan menjadi panduan praktis. FedEx menyediakan sistem digital untuk menghitung estimasi tarif sebelum pengiriman.

“Kami bangun sistem di mana customer bisa memasukkan deskripsi barang, lalu langsung tahu estimasi tarifnya sebelum barang dikirim,” ungkapnya.

Baca juga: FedEx Kantongi Sertifikasi Halal, Apa Dampaknya?

Teknologi dan otomasi menjadi kunci dalam menghadapi perubahan kebijakan. Informasi tarif dapat diketahui lebih awal sehingga pelaku usaha lebih siap.

“Dengan teknologi dan automation, informasi tarif bisa diberikan in advance. Jadi pelanggan bisa lebih siap,” ujar Ida Ayu.

Langkah ini membantu pelaku usaha menghitung kelayakan ekspor. Perhitungan dilakukan sebelum keputusan pengiriman diambil.

“Mereka bisa hitung dulu, apakah masih profitable atau tidak,” tambahnya.

Perubahan kebijakan sempat memengaruhi perilaku pelanggan. Sejumlah eksportir menahan pengiriman ke AS.

“Waktu kebijakan itu diluncurkan, memang sempat berdampak. Ada pelanggan yang menahan pengiriman ke US,” kata Ida Ayu.

Sebagian pelaku usaha mengalihkan pasar ke wilayah lain. Eropa menjadi salah satu tujuan alternatif.

“Mereka coba cari alternatif ke Eropa karena merasa tarif ke US terlalu tinggi,” jelasnya.

FedEx juga melakukan edukasi melalui berbagai kanal. Webinar digunakan untuk menjelaskan perubahan tarif dan dampaknya.

“Kami kumpulkan pelanggan dalam webinar, lalu jelaskan berapa tarifnya, barang apa saja yang terdampak, dan bagaimana menyiasatinya,” ujarnya.

Meski ada tantangan, prospek pengiriman ke AS dinilai masih besar. Pasar AS tetap memiliki daya serap tinggi.

FedEx mendorong pelaku usaha lebih adaptif dalam membaca kebijakan global. Strategi bisnis perlu disesuaikan dengan perubahan tarif.

“Kami akan terus mengedukasi pelanggan agar bisa mengambil keputusan yang tepat,” tutup Ida Ayu.

Tag:  #melihat #prospek #logistik #indonesia #selepas #kebijakan #tarif #resiprokal

KOMENTAR