Ketergantungan AS dan Tekanan Impor, Ujian Industri Mebel RI
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani dalam pembukaan Festival Pasar 2026 di Pasar Mebel di Jalan Mojo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis (5/2/2026).(Dok Humas Pemkot Solo)
13:24
14 April 2026

Ketergantungan AS dan Tekanan Impor, Ujian Industri Mebel RI

- Industri mebel nasional menghadapi situasi yang tidak sederhana. Di satu sisi, peluang ekspor masih terbuka lebar, terutama ke pasar utama seperti Amerika Serikat. Namun di sisi lain, tekanan dari impor murah, tingginya biaya produksi, serta ketergantungan pasar menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, mengungkapkan bahwa saat ini industri mebel Indonesia masih sangat bergantung pada pasar Amerika Serikat.

“Amerika itu menyerap sekitar 54 persen ekspor mebel. Ini artinya kita sudah berada dalam kondisi ketergantungan,” ujar Sobur kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Baca juga: Industri Mebel RI Terjepit Impor, Ekspor Jadi Penyelamat?

Menurut Sobur, ketergantungan terhadap satu pasar utama seperti Amerika Serikat menjadi risiko besar jika terjadi gangguan ekonomi atau kebijakan perdagangan di negara tersebut.

“Kalau pasar Amerika terganggu, dampaknya langsung terasa. Kita sudah lihat saat ada tekanan tarif, ekspor kita ikut turun,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa hingga saat ini Amerika masih menjadi pasar paling stabil dan besar.

“Kita harus akui, Amerika itu market terbaik saat ini. Paling aman dan daya serapnya besar sekali,” tambahnya.

Namun kondisi ini memaksa industri untuk mulai memikirkan strategi diversifikasi pasar. HIMKI mendorong perluasan pasar ke berbagai wilayah lain seperti Eropa, Timur Tengah, hingga negara berkembang.

“Diversifikasi itu wajib. Kita tidak punya pilihan lain selain memperluas pasar ke Eropa, GCC, India, dan negara-negara BRICS,” jelas Sobur.

Baca juga: Daya Saing Mebel RI Diuji: Biaya Tinggi dan Serbuan Impor

Ia menyebut adanya peluang dari perjanjian dagang seperti IAU-CEPA yang membuka kemungkinan tarif nol persen ke Eropa.

“Kalau tarif ke Eropa bisa nol, ini peluang besar untuk memperkuat ekspor ke sana,” ujarnya.

Namun, pasar baru seperti Timur Tengah masih menghadapi tantangan, terutama akibat kondisi geopolitik.

“Negara-negara GCC itu kaya dan potensial, tapi sekarang banyak proyek tertunda karena situasi perang,” katanya.

Tekanan dari biaya produksi dan impor

Di dalam negeri, tantangan tidak kalah berat. Kenaikan harga energi dan logistik turut mendorong naiknya biaya produksi. Ia mencontohkan bahwa banyak komponen penting dalam industri mebel masih bergantung pada impor.

“Dampak energi naik itu terasa sekali, terutama ke logistik dan bahan baku,” kata Sobur.

“Engsel, kunci, dan hardware, itu semua masih impor. Padahal itu komponen kecil, tapi sangat vital,” jelasnya.

Kondisi ini membuat industri dalam negeri sulit bersaing, terutama dengan produk impor murah, khususnya dari China. Sobur menambahkan bahwa konsumen domestik cenderung memilih produk yang praktis dan murah, meski kualitasnya lebih rendah.

“Produk impor itu masuk seperti banjir. Murah, cepat, dan mudah diakses lewat marketplace,” ujarnya.

“Barang impor itu kadang kualitasnya rendah, bukan kayu solid, tapi tetap laku karena murah dan cepat didapat,” katanya.

Regulasi

Selain faktor biaya, persoalan regulasi juga menjadi hambatan besar. Sobur menilai masih banyak aturan yang belum sinkron antar kementerian. Ia menegaskan bahwa industri membutuhkan regulasi yang lebih sederhana dan berpihak.

“Masalah kita itu koordinasi pemerintah yang belum rapi. Kementerian Perdagangan, Perindustrian, dan Kehutanan belum satu suara,” ujarnya.

“Aturannya sebenarnya sudah ada, tinggal disinkronkan dan dipermudah implementasinya,” tambahnya.

Untuk menghadapi tekanan tersebut, HIMKI mengusulkan sejumlah langkah, salah satunya adalah penataan ulang regulasi impor. Ia bahkan mengusulkan pendekatan teknis untuk mengurangi tekanan impor.

“Kita harus rapikan regulasi dulu. Barang yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri, harusnya dibatasi impornya,” ujar Sobur.

“Saya pernah usul, pelabuhan masuk impor jangan di Jawa. Pindahkan ke luar Jawa supaya ada tambahan biaya logistik bagi mereka,” tambahnya.

Selain itu, dukungan pembiayaan juga dinilai penting, seperti melalui Lembaga Pengelola Investasi (LPI).

“Ada komitmen Rp 2 triliun untuk industri mebel, tapi penyerapannya masih lambat karena kesiapan industri belum merata,” ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan, Sobur menegaskan bahwa industri mebel Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar, baik dari sisi bahan baku maupun tenaga kerja.

“Ekosistem kita sudah menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja. Kalau ekspor naik dua kali lipat, bisa jadi 3 juta lebih,” katanya.

Produk yang paling banyak diekspor saat ini adalah furnitur untuk kebutuhan rumah tangga, terutama berbahan kayu solid. Wilayah seperti Jepara dan Cirebon disebut sebagai pusat kekuatan industri mebel nasional.

“Sekitar 65 persen ekspor kita itu kayu. Sisanya rotan, bambu, dan material lain,” jelasnya.

Sobur menyimpulkan bahwa industri mebel Indonesia saat ini berada di persimpangan antara tekanan dan peluang. Menurutnya, kunci ke depan adalah keseimbangan antara memperkuat pasar ekspor dan membenahi pasar domestik.

“Kalau jujur, saat ini kita dalam tekanan. Tapi peluang tetap ada, asal kita bisa berbenah. Jangan hanya fokus ekspor. Pasar dalam negeri juga harus diperkuat supaya industri kita tidak rapuh,” tutupnya.

Tag:  #ketergantungan #tekanan #impor #ujian #industri #mebel

KOMENTAR