Didepak dari MSCI Global Standard, Saham-saham Prajogo Pangestu Langsung Anjlok
- Saham-saham terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu yang dikeluarkan dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) langsung dibanjiri aksi jual pada awal perdagangan Rabu (13/5/2026).
Saham seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian hingga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) kompak melemah mendekati 10 persen, setelah pasar merespons negatif hasil rebalancing MSCI yang dinilai berpotensi memicu arus keluar dana asing dari pasar modal Indonesia.
Nasib serupa juga menimpa saham Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang terafiliasi dengan Grup Sinar Mas.
Baca juga: MSCI Depak 19 Saham Indonesia, IHSG Awal Sesi Anjlok ke Kisaran 6.750
MSCI baru saja mengumumkan hasil tinjauan berkala atau index review untuk periode Mei 2026.
Pengumuman index review MSCI ini mengejutkan karena melenceng jauh dari perkiraan.
Dalam rebalancing terbarunya, lembaga penyedia indeks global asal Amerika Serikat (AS) tersebut mengeluarkan enam saham dari MSCI Global Standard Indexes.
Enam saham yang keluar dari indeks MSCI Global Standard yakni;
AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT.
Meski didepak dari MSCI Global Standard Indexes, MSCI memutuskan untuk memindahkan saham AMRT ke dalam MSCI Small Cap Indexes.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), per pukul 09.50 WIB, saham BREN terkoreksi 8,03 persen atau turun 290 poin ke level Rp 3.320.
Saham ini sempat menyentuh angka terendah di Rp 3.230 dari posisi sebelumnya di area Rp 3.610.
Tekanan lebih dalam terjadi pada saham TPIA yang anjlok 9,90 persen atau turun 500 poin ke posisi Rp 4.550.
Saham TPIA sempat jatuh hingga level Rp 4.300, sebelum perlahan memangkas pelemahan.
Saham DSSA melemah 9,01 persen atau turun 105 poin ke posisi Rp 1.060.
Saham DSSA sempat menyentuh area terendah di Rp 1.015 pada awal perdagangan.
Saham CUAN juga bergerak di zona merah setelah turun 9,52 persen atau melemah 90 poin ke level Rp 855.
Pada sesi awal perdagangan, saham CUAN sempat tertekan hingga menyentuh angka Rp 825.
Lalu, saham AMRT turun lebih terbatas dibanding saham lainnya.
Saham ritel ini terkoreksi 3,53 persen atau turun 50 poin ke level 1.365.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan fokus utama pasar pada perdagangan hari ini tertuju pada pengumuman hasil quarterly review MSCI.
Menurutnya, pelaku pasar mulai memfaktorkan hasil tinjauan indeks MSCI yang memicu volatilitas pada saham-saham berkapitalisasi besar di BEI.
Nafan menilai pengumuman MSCI tersebut menjadi sentimen negatif bagi IHSG karena saham-saham yang dihapus berpotensi kehilangan daya tarik di mata investor asing, khususnya fund manager global yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan investasi.
“Pengumuman ini menjadi sentimen negatif bagi IHSG sebab saham-saham yang dihapus ini kemungkinan besar akan kehilangan daya tarik di mata investor asing yang hanya berpatokan pada indeks MSCI,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Rabu pagi.
Lebih jauh, pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus area Rp 17.500 per dollar AS juga memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas moneter dan potensi capital outflow dari pasar keuangan domestik.
Untuk diketahui, rupiah di pasar spot rebound pada awal perdagangan Rabu.
Mata uang Garuda dibuka menguat 0,08 persen ke level Rp 17.515 per dollar AS.
Pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026) kurs rupiah mengalami tekanan cukup berat dengan pelemahan Rp 17.529 per dollar AS.
Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan penjualan ritel domestik turut menjadi tambahan sentimen negatif bagi pasar saham Indonesia.
Nafan menyoroti ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum mencapai titik temu.
Presiden AS Donald Trump disebut menolak tanggapan Iran dan menyatakan bahwa kondisi gencatan senjata masih “sangat lemah”.
Kondisi tersebut menyebabkan harga minyak dunia tetap tinggi dan dinilai berisiko memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, sentimen kenaikan harga energi dan pangan turut mendorong inflasi AS naik ke level 3,8 persen.
Kondisi ini membuat ekspektasi pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada tahun ini semakin menurun.
Baca juga: Rebalancing MSCI: 19 Saham Indonesia Terdepak dan 1 Masuk, Ini Rinciannya
Tag: #didepak #dari #msci #global #standard #saham #saham #prajogo #pangestu #langsung #anjlok