Rupiah Melemah, CPO Menguat: Keuntungan Ganda Pengusaha Sawit RI
Ilustrasi kelapa sawit.(Berry Subhan Putra/Kompas.com)
19:36
15 April 2026

Rupiah Melemah, CPO Menguat: Keuntungan Ganda Pengusaha Sawit RI

Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berpotensi mendatangkan keuntungan bagi pengusaha sawit.

Di tengah tekanan terhadap sektor impor dan industri berbasis bahan baku luar negeri, sektor berbasis ekspor termasuk industri kelapa sawit justru berpotensi meraup untung.

Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pada penutupan hari ini Rabu (15/4/2026) tercatat berada di level Rp 17.143 per dollar AS.

Baca juga: Pakar IPB Soroti Potensi Limbah Sawit untuk Kurangi Ketergantungan Impor

Ilustrasi kelapa sawit. Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diperkirakan naik.Shuterstock Ilustrasi kelapa sawit. Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diperkirakan naik.

Mata uang Garuda ini melemah 16 poin setara 0,09 persen dibandingkan penutupan kemarin.

Kinerja ekspor sawit tumbuh sepanjang 2025

Sementara itu, industri kelapa sawit cenderung pada 2025 lalu.

Data menunjukkan kinerja ekspor sawit Indonesia tetap kuat, bahkan cenderung meningkat.

Dengan karakteristik perdagangan yang didominasi transaksi dalam mata uang dollar AS, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan pendapatan pelaku usaha sawit dalam denominasi rupiah.

Baca juga: Emiten Sawit dan Karet Milik Bakrie Bukukan Penjualan Rp 2,56 Triliun pada 2025

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan, kinerja ekspor minyak sawit pada 2025 menunjukkan perbaikan.

Volume ekspor meningkat pada 2025 menjadi 32.343.000 ton dengan nilai 35.868 juta dollar AS.

Volume tersebut menguat 9,51 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ilustrasi minyak sawit. SHUTTERSTOCK/Nirapai Boonpheng Ilustrasi minyak sawit.

Sebelumnya, ekspor minyak sawit merosot ke 29.535.000 ton pada 2024 dengan nilai 27.756 juta dollar AS.

Baca juga: Petani Sawit Ubah Cara Bertani, Produktivitas Mulai Terangkat

Secara nominal ekspor sawit sepanjang 2025 mencapai Rp 590 triliun sepanjang 2025.

Nilai tersebut naik 29 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) GAPKI Hadi Sugeng Wahyudiono mengatakan, ekspor ke beberapa negara mengalami kenaikan seperti Afrika naik 991.000 ton, China 644.000 ton, Malaysia 516.000 ton, Bangladesh 503.000 ton, dan Pakistan 214.000 ton.

“Kita minus ke India, ke EU, dan kemudian ke USA. Ya itu mungkin juga di India di samping kondisi ekonomi India juga kemungkinan besar juga ada shifting minyak nabati,” tutur Hadi.

Baca juga: Naik 41,6 Persen, Laba Bersih Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) Rp 1,16 Triliun di 2025

Sementara itu, Ketua GAPKI Eddy Martono, mengungkapkan permintaan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menurun imbas perang Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran.

Penurunan itu dipicu kenaikan biaya logistik dan asuransi pengangkutan yang mencapai 50 persen.

Peperangan yang menutup Selat Hormuz tersebut mengakibatkan harga minyak mentah dunia melambung dan mengerek biaya logistik.

“Kita harus jujur juga, dengan kenaikan ini (biaya logistik) terjadi sedikit penurunan permintaan,” kata Eddy.

Baca juga: Pendampingan Perusahaan Ubah Cara Petani Sawit Kelola Kebun

Kenaikan harga CPO dorong keuntungan pengusaha sawit

Potensi keuntungan pengusaha sawit juga didorong dengan adanya kenaikan harga CPO global itu sendiri.

Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global diproyeksikan menguat pada kuartal II 2026 seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Ilustrasi minyak kelapa sawitBPDP Ilustrasi minyak kelapa sawit

Dalam situasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, pasar CPO turut terdampak karena biodiesel menjadi lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar fosil.

Berdasarkan laporan Outlook Industri Sawit Indonesia kuartal II-2026 dari Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), harga rata-rata CPO global pada Maret 2026 tercatat sekitar 1.165 dollar AS atau Rp 19,7 juta per ton.

Baca juga: GAPKI: Ekspor Sawit Melorot, Produksi Stagnan, tapi Konsumsi Domestik Naik

Harga tersebut diperkirakan terus meningkat pada bulan-bulan berikutnya.

Pada April 2026, harga CPO diproyeksikan mencapai sekitar 1.440 dollar AS per ton, kemudian naik menjadi 1.701 dollar AS per ton pada Mei, dan menyentuh 1.783 dollar AS per ton pada Juni 2026.

Kenaikan ini mencerminkan dampak lanjutan dari penguatan harga minyak mentah terhadap pasar minyak nabati global.

Selain faktor geopolitik, peningkatan harga juga dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap pasokan minyak nabati yang semakin ketat di tengah naiknya permintaan biodiesel.

Baca juga: Petani Enggan Tebang Sawit Tua, Program Peremajaan Terhambat

Kepala Divisi Riset IPOSS, Dimas H. Pamungkas, mengatakan kenaikan harga ini berpotensi berlanjut jika konflik geopolitik tidak mereda.

“Kalau perang berkepanjangan sampai Juni belum berakhir, harga minyak bisa naik signifikan dan berdampak sistemik pada harga CPO domestik,” ujar dia.

Efek kurs pada pendapatan eksportir

Dalam mekanisme perdagangan internasional, transaksi ekspor sawit umumnya menggunakan mata uang dollar AS.

Artinya, ketika rupiah melemah terhadap dollar AS, nilai penerimaan eksportir dalam rupiah meningkat meskipun harga dalam dollar AS relatif tetap.

Ilustrasi rupiah. Shutterstock/Travis182 Ilustrasi rupiah.

Baca juga: Pajak Air Permukaan Rp 1.700 per Pohon Sawit Diprotes Pelaku Industri

Fenomena ini juga terlihat pada sektor ekspor lainnya.

Pelaku industri berbasis ekspor disebut tetap memperoleh margin lebih tinggi karena harga jual berbasis dollar, sementara biaya domestik sebagian besar menggunakan rupiah.

Dengan struktur biaya seperti itu, pelemahan rupiah menciptakan selisih kurs (exchange gain) yang dapat meningkatkan keuntungan pelaku usaha.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah justru memberikan keuntungan bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor, terutama di sektor komoditas.

Baca juga: Petani Enggan Tebang Sawit Tua, Program Peremajaan Terhambat

Komoditas seperti timah, nikel, dan crude palm oil (CPO) dipandang diuntungkan karena pendapatan berbasis dollar AS menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.

Hal tersebut berpotensi meningkatkan kinerja perusahaan, baik milik negara maupun swasta, yang bergerak di sektor tersebut.

“Kemudian kita melihat bahwa siapa yang diuntungkan dalam pelemahan mata uang rupiah? Yang diuntungkan itu pengusaha yang melakukan ekspor-impor, terutama adalah komoditas seperti timah, nikel, crude palm oil (CPO) ini diuntungkan,” ucap Ibrahim.

“Jadi perusahaan-perusahaan dalam negeri, baik pelat merah maupun swasta, ini mengalami keuntungan dengan penguatan indeks dollar,” ujar dia.

Baca juga: GAPKI: Peremajaan Sawit Bikin Produksi Naik 2 Kali Lipat

Kombinasi harga global dan kurs

Kombinasi antara harga CPO global yang relatif tinggi dan pelemahan rupiah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi eksportir sawit.

Ketika harga internasional meningkat, nilai ekspor dalam dollar ikut naik.

Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.SHUTTERSTOCK/AVIGATOR FORTUNER Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.

Pada saat yang sama, pelemahan rupiah membuat nilai tersebut semakin besar ketika dikonversi ke mata uang domestik.

Dengan demikian, pelaku usaha berpotensi memperoleh keuntungan ganda dari sisi harga dan kurs.

Baca juga: GAPKI Siap Lepas Serangga Penyerbuk Tanzania, Produksi Sawit Bisa Naik 15 Persen

Alasan pelemahan rupiah

Pelemahan nilai tukar mata uang Indonesia terjadi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkat, setelah Amerika Serikat memperketat tekanan terhadap Iran melalui blokade laut.

Langkah itu dinilai berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global sekaligus menambah tekanan terhadap perekonomian dunia.

Ibrahim mengungkapkan komando Pusat AS menyatakan blokade terhadap pelabuhan Iran telah sepenuhnya diterapkan.

Dalam pernyataan resminya, militer AS menegaskan telah menghentikan seluruh aktivitas perdagangan laut yang keluar-masuk Iran.

Baca juga: GIMNI Khawatir 2030 Sawit Indonesia Mati Semua, Ini Sebabnya

Kebijakan tersebut diambil hanya dua hari setelah Washington memulai blokade laut terhadap Teheran, menyusul kegagalan perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran yang berlangsung di Pakistan.

Langkah itu ditujukan untuk meningkatkan tekanan agar Iran bersedia kembali ke meja perundingan.

Tag:  #rupiah #melemah #menguat #keuntungan #ganda #pengusaha #sawit

KOMENTAR