Masyarakat Kelas Menengah Tulang Punggung Perekonomian Indonesia
- Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menjelaskan jika masyarakat kelas menengah merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia.
Pemerintah terus mengupayakan berbagai cara agar ketersediaan lapangan pekerjaan bagi mereka.
Sebab, saat ini berbagai tekanan langsung menghantam masyarakat kelas menengah, padahal kontribusinya sangat besar bagi perekonomian negara.
Baca juga: WFH ASN Mulai Berlaku, Kemenkeu dan Kemenko Perekonomian Sepi
"Kelas menengah itu betul-betul menjadi tulang punggung perekonomian kita, karena kontribusinya sangat besar terhadap ekonomi," jelas Suswijono dikutip dari Kontan, Rabu (15/4/2026).
Disrupsi teknologi seperti AI lalu pergeseran pekerjaan dari sektor formal ke informal terutama di bidang jasa memberikan tekanan kepada kelas menengah.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) mencatat sejak 2019 proporsi pekerjaan kelas menengah di sektor formal menyusut semenjak 2019.
Baca juga: Perekonomian Vietnam Berlari, Bisakah Indonesia Lampaui?
Sektor industri yang menyerap tenaga kerja kelas menengah mengalami penurunan kontribusi tenaga kerja dari 25,64 persen pada 2019 jadi 22,98 persen di tahun 2024.
Ditambah survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memaparkan 67 persen perusahaan di Indonesia tak berencana merekrut karyawan baru dalam waktu dekat.
Baca juga: Kemenko Perekonomian: Impor Jagung dari AS Tak Ganggu Produksi Lokal
Pemerintah berupaya menjaga daya tahan kelas menengah seperti menciptakan lapangan kerja dan perlindungan daya beli.
"Program-program tidak hanya untuk masyarakat miskin, tetapi juga kelas menengah, karena mereka adalah tulang punggung ekonomi," jelas Susiwijono.
Baca juga: OJK Cabut Izin Usaha Bank Perekonomian Rakyat Kamadana, Ini Alasannya
1,5 juta tenaga kerja tak terserap
Hasil survei internal Apindo menunjukkan mayoritas perusahaan di Indonesia enggan merekrut karyawan baru.
Padahal setiap tahun ada 3,5 juta pencari kerja baru di dalam negeri Indonesia. Setiap satu persen pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyerap antara 200.000-400.000 tenaga kerja apabila investornya bersifat padat karya.\
Baca juga: Luhut Datangi Kantor Kemenko Perekonomian, Bahas Apa?
"400.000 kalau investornya adalah padat karya semua. Tapi kalau tidak padat karya, lebih banyak padat modalnya mungkin 200.000, mungkin hanya 100.000. Jadi kalau pertumbuhan kita 5 persen dan semuanya padat karya itu yang terserap hanya 2 juta, 1,5 juta (tenaga kerja) tidak terserap," jelas Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, dikutip dari Kompas.com, Selasa (14/4/2026).
Bob menjelaskan jika saat ini 67 persen perusahaan di Indonesia enggan merekrut karyawan baru selama lima tahun ke depan.
Hal seperti ini mesti diperhatikan secara serius karena berdampak pada perekonomian masyarakat.
Baca juga: Anak Buah Airlangga Klaim Perekonomian Nasional Akhir Tahun 2025 Resilien
"Dan 67 persen perusahaan itu tidak berniat untuk melakukan rekrutmen baru. Ini yang menurut kita juga salah satu hal yang perlu diperhatikan," jelasnya.
Bob menyarankan, pemangku kebijakan menggenjot investor yang bergerak di padat karya tanpa melupakan padat modal.
Sebab, formasi tenaga kerja masyarakat menengah ke bawah didominasi sektor padat karya. Lalu, fleksibilitas soal investasi, memproteksi buruh namun ramah investor sehingga investasi segera masuk.
"Investasi yang masuk dari sektor padat karya itu semakin hari semakin turun, semakin berkurang. Padahal kalau kita lihat dari formasi tenaga kerja kita yang didominasi oleh menengah ke bawah, kita masih sangat membutuhkan industri padat karya," kata Bob.
Baca juga: The Fed Pangkas Suku Bunga, Apa Dampaknya ke Perekonomian Global?
Artikel ini pernah tayang di Kontan dengan judul "Lapangan Kerja Susut Tekan Kelas Menengah, Ini Langkah Pemerintah" dan Kompas.com berjudul "Perusahaan Enggan Rekrut Karyawan Baru, Apindo: 1,5 juta Tenaga Kerja Tak Terserap"
Tag: #masyarakat #kelas #menengah #tulang #punggung #perekonomian #indonesia