IMF Sebut Ekonomi Inggris Paling Terpukul Perang Iran, Kenapa?
Ilustrasi Bendera Inggris(backgroundcom)
08:20
16 April 2026

IMF Sebut Ekonomi Inggris Paling Terpukul Perang Iran, Kenapa?

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat perang Iran dinilai mulai menekan prospek ekonomi global, termasuk memberikan dampak paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi Inggris dibandingkan negara maju lainnya.

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026 yang dipublikasikan pada Selasa (14/4/2026) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris menjadi hanya 0,8 persen pada 2026, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,3 persen.

Revisi ini menjadi yang terbesar di antara negara-negara G7.

Baca juga: Rupiah Merosot ke Rp 17.143 Per Dollar AS Usai IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi

Sudut Kota London, Inggris.PEXELS/ Dominika Gregušová Sudut Kota London, Inggris.

IMF memperkirakan Inggris akan tertinggal dari sejumlah ekonomi besar lain. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) diproyeksikan tumbuh 2,3 persen, kawasan Uni Eropa 1,1 persen, Spanyol 2,1 persen, dan Perancis 0,9 persen pada periode yang sama.

Lembaga tersebut menilai tekanan terhadap ekonomi Inggris tidak hanya berasal dari konflik, tetapi juga dari ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih terbatas serta dampak berkepanjangan dari kenaikan harga energi.

Guncangan energi dan kerentanan Inggris

IMF menyebut Inggris sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap lonjakan harga energi karena berstatus sebagai importir bersih energi. Kondisi ini membuat perekonomian negara tersebut sangat sensitif terhadap gejolak harga minyak global yang dipicu konflik.

Selain itu, IMF juga memperkirakan inflasi Inggris akan menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara G7. Inflasi diproyeksikan mencapai 3,2 persen tahun ini dan 2,4 persen pada 2026, setara dengan AS pada periode yang sama.

Baca juga: IMF Ungkap Tren Global: Negara Ramai-ramai Naikkan Belanja Pertahanan

Bahkan, dalam jangka pendek, inflasi diperkirakan sempat mendekati 4 persen sebelum kembali ke target 2 persen pada akhir 2027.

Ini seiring meredanya dampak kenaikan harga energi dan melambatnya pertumbuhan upah akibat pelemahan pasar tenaga kerja.

Menanggapi proyeksi tersebut, Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves menyatakan bahwa konflik Iran akan membawa konsekuensi ekonomi bagi negaranya.

Ilustrasi kilang minyak.FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

“Perang di Iran bukan perang kami, tetapi akan membawa biaya bagi Inggris. Ini bukan biaya yang saya inginkan, tetapi ini adalah biaya yang harus kami tanggapi,” ujar Reeves, dikutip dari BBC, Kamis (16/4/2026).

Baca juga: IMF dan Investor Global Apresiasi Stabilitas Ekonomi Indonesia

Namun demikian, IMF mengingatkan ruang fiskal pemerintah Inggris saat ini terbatas. Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menekankan bahwa kebijakan dukungan ekonomi harus dilakukan secara hati-hati.

“Tidak banyak ruang untuk meningkatkan belanja guna mendukung rumah tangga dan bisnis,” kata Gourinchas.

Ia menambahkan, jika kebijakan bantuan diberikan, maka harus tetap berada dalam batas anggaran yang ada.

Risiko global: pertumbuhan ekonomi melemah, inflasi naik

Secara global, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai sekitar 3,1 persen tahun ini, turun dari 3,4 persen pada 2025. Gourinchas menyebut revisi tersebut sebagai “penurunan yang signifikan”.

Baca juga: Ekonomi Dunia Melambat, IMF Waspadai Skenario Resesi Global 2026

Sementara itu, inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,4 persen, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.

Menurut Gourinchas, perang antara AS dan Iran telah menghentikan momentum pemulihan ekonomi global. Ia menilai kebijakan moneter memiliki keterbatasan dalam menghadapi guncangan yang berasal dari sisi pasokan energi.

“Kenaikan atau penurunan suku bunga tidak akan mengubah fakta tersebut,” ujarnya.

“Bank sentral dapat melihat situasi ini berjalan, selama ekspektasi inflasi tetap terkendali dan tidak terjadi spiral harga-upah," jelas dia.

Baca juga: Proyeksi IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat ke 3,1 Persen pada 2026

Namun, jika inflasi menjadi lebih persisten, bank sentral disebut harus bertindak “secara tegas”.

Ilustrasi inflasi.FREEPIK/VWALAKTE Ilustrasi inflasi.

IMF juga mengingatkan, fragmentasi geopolitik, penurunan ekspektasi terhadap produktivitas berbasis kecerdasan buatan, serta potensi kembali memanasnya ketegangan perdagangan dapat semakin menekan pertumbuhan dan mengguncang pasar keuangan.

Dalam laporannya, IMF menekankan pentingnya kebijakan yang adaptif dan kredibel.

“Mendorong kemampuan beradaptasi, menjaga kerangka kebijakan yang kredibel, dan memperkuat kerja sama internasional sangat penting untuk menghadapi guncangan saat ini sekaligus mempersiapkan gangguan di masa depan,” tulis IMF.

Baca juga: ADB: Guncangan Energi dan Perdagangan Bayangi Pertumbuhan Ekonomi Asia

Skenario terburuk: mendekati resesi global

IMF juga memaparkan skenario yang lebih buruk apabila konflik di Timur Tengah berlangsung hingga 2027.

Dalam kondisi tersebut, ekspektasi inflasi berisiko tidak lagi terkendali karena rumah tangga dan perusahaan menaikkan harga dan upah.

“Ini akan membawa kita ke situasi yang sangat berbeda,” kata Gourinchas.

Dalam skenario tersebut, kondisi pasar keuangan juga berpotensi memperburuk tekanan ekonomi melalui pengetatan kondisi pembiayaan.

Baca juga: Purbaya Pede Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Akselerasi, Kuartal I Jadi Penentu

“Jika situasi memburuk, bisa terjadi pengetatan kondisi keuangan yang signifikan,” ujarnya.

IMF memperkirakan dalam skenario berat tersebut, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 dan 2027 hanya sekitar 2 persen, sementara inflasi dapat mencapai 6 persen.

Gourinchas menekankan, pertumbuhan ekonomi global sebesar 2 persen merupakan angka yang sangat rendah dan jarang terjadi.

“Angka ini hanya terjadi empat kali sejak 1980. Dua di antaranya terjadi saat krisis besar, krisis keuangan global dan pandemi Covid-19,” tutur dia.

Baca juga: BBM Non-Subsidi Diprediksi Naik: Ilusi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Ilustrasi resesi. 

DOK. Shutterstock Ilustrasi resesi.

Risiko resesi dan ketidakpastian kebijakan

IMF juga memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi mendorong ekonomi global menuju resesi.

Dalam skenario yang lebih ekstrem, dengan harga minyak mencapai 110 dollar AS per barel tahun ini dan 125 dollar AS tahun depan, risiko resesi global disebut menjadi “sangat dekat”.

Dalam kondisi tersebut, IMF mengimbau bank sentral untuk berhati-hati dalam merespons tekanan inflasi, terutama yang berasal dari kenaikan harga komoditas energi.

“Merespons secara agresif terhadap harga komoditas yang fleksibel, ketika gangguan hanya terjadi pada sektor tertentu, dapat menurunkan inflasi dengan cepat tetapi berisiko memicu resesi di kemudian hari,” kata IMF.

Baca juga: Purbaya dan Airlangga Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Kuat

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menilai dampak ekonomi jangka pendek dari konflik masih dapat diterima dibandingkan risiko keamanan jangka panjang.

“Saya lebih tidak khawatir pada proyeksi jangka pendek, dibandingkan keamanan jangka panjang,” papar Bessent.

Namun, IMF menegaskan proyeksi yang disampaikan masih mengandung tingkat ketidakpastian yang tinggi dan bergantung pada asumsi bahwa konflik dapat mereda dalam waktu relatif cepat.

Sebelum konflik terjadi, IMF sebenarnya memperkirakan prospek ekonomi global akan membaik, didukung oleh meredanya ketegangan perdagangan dan penyesuaian arus perdagangan antarnegara.

Baca juga: Pemerintah Harap Lebaran Angkat Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026

Kini, lembaga tersebut menilai ekonomi global menghadapi ujian besar.

“Ekonomi global terancam keluar dari jalurnya,” tulis IMF dalam laporannya.

Tag:  #sebut #ekonomi #inggris #paling #terpukul #perang #iran #kenapa

KOMENTAR