Blokade AS di Selat Hormuz: Lalu Lintas Kapal Turun, Distribusi Energi Terganggu
Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian global seiring penerapan blokade oleh Amerika Serikat (AS) terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran.
Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini merupakan salah satu choke point energi paling vital di dunia, dengan aliran sekitar 20 juta barrel minyak per hari (bph) serta sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) global.
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik, dinamika operasional kapal di kawasan ini menunjukkan perubahan signifikan, baik dari sisi lalu lintas pelayaran maupun distribusi energi.
Baca juga: Blokade Selat Hormuz Tekan Pasokan, Harga Minyak Bertahan di Atas 90 Dollar AS
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.
China, sebagai tujuan utama ekspor minyak Iran, secara terbuka menyoroti risiko blokade terhadap stabilitas jalur pelayaran dan pasokan energi global.
Lalu lintas kapal: tetap berjalan, tetapi jauh dari normal
Data pelayaran menunjukkan bahwa aktivitas kapal di Selat Hormuz tidak sepenuhnya berhenti setelah blokade diberlakukan, meskipun volumenya menurun tajam dibandingkan kondisi normal.
Pada hari pertama penuh setelah blokade diberlakukan, setidaknya delapan kapal, termasuk tiga kapal tanker yang terkait dengan Iran, tercatat melintasi selat tersebut.
Namun, angka ini hanya sebagian kecil dari lebih dari 130 penyeberangan harian sebelum konflik antara AS, Israel, dan Iran meningkat sejak akhir Februari 2026.
Baca juga: China Desak Iran Buka Selat Hormuz Pulihkan Kebebasan Navigasi
Militer AS menyatakan, dalam 24 jam pertama, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade secara bebas.
Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.
“Enam kapal mematuhi arahan pasukan AS untuk berbalik dan kembali ke pelabuhan Iran,” demikian pernyataan Komando Pusat AS, dikutip dari Fox Business, Kamis (16/4/2026).
Meski demikian, beberapa kapal tetap melintas dengan rute yang tidak terkait langsung dengan Iran.
Salah satunya adalah tanker berbendera Panama, Peace Gulf, yang menuju pelabuhan Hamriyah di Uni Emirat Arab. Kapal ini diketahui biasa mengangkut nafta Iran ke pelabuhan lain di Timur Tengah sebelum diekspor ke Asia.
Baca juga: Potensi Krisis Pangan Ancam Dunia Bila Selat Hormuz Terus Ditutup
Selain itu, dua kapal tanker yang berada dalam daftar sanksi AS juga berhasil melintasi Selat Hormuz. Salah satunya adalah Murlikishan, yang dijadwalkan menuju Irak untuk memuat bahan bakar minyak.
Kapal lain, Rich Starry, menjadi kapal pertama yang keluar dari Teluk setelah blokade dimulai, dengan membawa sekitar 250.000 barrel metanol.
Kondisi ini mencerminkan pola operasional yang berubah: pelayaran tetap berlangsung, tetapi dengan pembatasan ketat, pengalihan rute, dan risiko intersepsi yang meningkat.
Profesor ilmu politik dari University of Genoa, Fabrizio Coticchia, menjelaskan pendekatan blokade yang diterapkan tidak bersifat total.
Baca juga: Selat Hormuz Bergejolak, Dampaknya Bisa Kerek Inflasi Indonesia
“Amerika Serikat tidak perlu memblokir semua jenis kapal atau memasuki Selat Hormuz. Mereka dapat melakukan blokade secara intermiten,” ujarnya, dikutip dari warta Reuters.
"Kapal tidak akan diserang, tetapi dialihkan," imbuh dia.
Ketidakpastian tinggi, biaya operasional meningkat
Blokade juga menciptakan ketidakpastian yang besar bagi pelaku industri pelayaran, perusahaan minyak, dan penyedia asuransi risiko perang.
Sumber industri menyebutkan bahwa premi asuransi risiko perang tetap berada pada level tinggi, mencapai ratusan ribu dollar AS per minggu, dengan evaluasi dilakukan setiap 48 jam oleh penjamin asuransi.
Ilustrasi kapal tanker.
Baca juga: Krisis Selat Hormuz Tekan Pasokan Pupuk, Produksi Pangan Terancam
Laporan dari perusahaan broker kapal BRS mencatat bahwa normalisasi kondisi di kawasan Timur Tengah semakin menjauh.
“Diperkirakan akan ada sedikit atau bahkan tidak ada lalu lintas komersial di selat tersebut untuk masa mendatang,” tulis laporan tersebut.
Ketidakpastian ini berdampak langsung pada keputusan operasional kapal, termasuk penundaan pelayaran, pengalihan rute, hingga pengurangan frekuensi pengiriman energi melalui jalur tersebut.
Distribusi energi: tetap mengalir, tetapi dalam tekanan
Meskipun blokade meningkatkan tekanan, distribusi energi dari Iran ke pasar utama, terutama China, masih berlangsung dalam skala besar.
Baca juga: Dampak AS Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak ke 100 Dollar AS, Krisis Energi Bayangi Asia
Perusahaan intelijen maritim Windward memperkirakan sekitar 157,7 juta barrel minyak mentah Iran berada di laut, dengan hampir 98 persen di antaranya ditujukan ke China.
Angka ini menunjukkan perdagangan minyak Iran secara struktural masih bertahan, meskipun berada di bawah tekanan geopolitik.
Direktur China di Eurasia Group, Dan Wang, menyebut China memiliki kapasitas untuk menyerap gangguan pasokan.
“Cadangan minyak strategis dan komersial China, ditambah dengan minyak yang sedang dalam perjalanan, mencakup lebih dari 120 hari impor bersih,” tutur dia, dikutip dari CNBC.
Baca juga: Mengapa Selat Hormuz Krusial bagi Energi Global dan Ekonomi Dunia?
"Jika hanya pasokan dari Iran yang hilang, China dapat menyerap dampaknya dengan diversifikasi sumber dan meningkatkan penggunaan batu bara," jelasnya.
Namun, kondisi berbeda terjadi di India. Negara tersebut tidak memiliki cadangan energi yang sebanding dan lebih rentan terhadap gangguan pasokan.
Ilustrasi kapal tanker.
Ekonom senior dari Economist Intelligence Unit, Sumedha Dasgupta, mencatat bahwa cadangan minyak India hanya cukup untuk kurang dari 60 hari.
Selain itu, India hampir sepenuhnya bergantung pada impor LPG dari Timur Tengah, yang menyumbang sekitar 66 persen kebutuhan domestik tahun lalu.
Baca juga: Negosiasi Gagal, AS Umumkan Blokade Selat Hormuz, Kapal Berbalik Arah
“Cadangan LPG yang dimiliki oleh penyuling dan distributor hanya dapat memenuhi dua hingga tiga minggu permintaan jika impor terhenti,” kata Dasgupta.
Ketimpangan kapasitas cadangan ini memperlihatkan bagaimana blokade di Selat Hormuz berdampak berbeda pada negara-negara konsumen energi utama di Asia.
China soroti risiko keselamatan pelayaran
Pemerintah China secara terbuka mengkritik blokade tersebut dan menyoroti dampaknya terhadap keselamatan jalur pelayaran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut langkah tersebut sebagai “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” serta memperingatkan tindakan itu akan “memperburuk ketegangan.”
Baca juga: Dari Hormuz ke Sawah: Geopolitik Pupuk dan Ketahanan Pangan Dunia
Dalam pernyataan terpisah, Guo juga menekankan bahwa blokade akan semakin membahayakan keselamatan pelayaran di Selat Hormuz.
Ia menambahkan, China mendorong semua pihak untuk mematuhi gencatan senjata dan kembali ke jalur dialog guna memastikan lalu lintas normal dapat segera dipulihkan.
Pernyataan ini mencerminkan kepentingan strategis China dalam menjaga stabilitas jalur energi global, mengingat ketergantungannya yang tinggi terhadap impor minyak dari kawasan tersebut.
Risiko eskalasi di laut
Tangkapan layar dari video pemantauan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz pada Senin (2/3/2026).
Di tengah operasi blokade, risiko salah perhitungan di laut menjadi perhatian utama. Interaksi langsung antara kapal-kapal yang terkait dengan China dan pasukan AS berpotensi memicu insiden yang lebih besar.
Baca juga: Trump Ancam Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus 100 Dollar AS
Kepala praktik China di Eurasia Group, David Meale, memperingatkan bahwa intersepsi kapal China oleh AS dapat menjadi titik balik.
“Intersepsi kapal China oleh AS kemungkinan akan menjadi insiden besar, karena China akan menunjukkan sikap tegas dalam situasi seperti ini,” terang dia.
Ia menambahkan bahwa insiden semacam itu dapat mengubah secara fundamental hubungan antara kedua negara.
Sejauh ini, indikasi eskalasi langsung masih terbatas. Namun, data menunjukkan kapal tanker yang terkait dengan China tetap beroperasi di kawasan tersebut, termasuk satu kapal yang keluar dari Selat Hormuz menuju Teluk Oman setelah blokade diberlakukan.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 8 Persen Tembus 100 Dollar AS, Imbas Rencana Trump Blokade Selat Hormuz
Dinamika kebijakan dan jalur alternatif
Blokade yang diterapkan bersifat non-diskriminatif, berlaku bagi semua pembeli minyak Iran, tidak hanya China. Hal ini membuat respons negara-negara Asia cenderung berhati-hati.
China diperkirakan akan tetap menyampaikan protes di tingkat diplomatik tanpa melakukan retaliasi besar.
Sementara itu, India kemungkinan akan mengalihkan impor energinya ke negara lain seperti Rusia, AS, dan Australia setelah pengecualian sementara dari AS berakhir.
Dalam jangka pendek, dinamika ini mendorong perubahan rute perdagangan energi global, peningkatan biaya logistik, serta ketidakpastian dalam operasional kapal di salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia.
Baca juga: 3 Kapal Tanker Raksasa Berbendera China dan Liberia Lintasi Selat Hormuz
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas di Selat Hormuz menunjukkan kombinasi antara keberlanjutan operasional dan tekanan yang meningkat, dengan lalu lintas kapal yang tetap berjalan, tetapi dalam skala terbatas dan risiko yang lebih tinggi terhadap gangguan distribusi energi global.
Tag: #blokade #selat #hormuz #lalu #lintas #kapal #turun #distribusi #energi #terganggu