Ekonomi China Tumbuh 5 Persen di Kuartal I 2026, Lampaui Ekspektasi
Pertumbuhan ekonomi China menguat pada kuartal I-2026, didorong kinerja ekspor yang solid. Namun, bayang-bayang konflik Iran berpotensi menekan permintaan global dan mengganggu momentum tersebut.()
15:40
16 April 2026

Ekonomi China Tumbuh 5 Persen di Kuartal I 2026, Lampaui Ekspektasi

– Pertumbuhan ekonomi China menguat pada kuartal I-2026, didorong kinerja ekspor yang solid. Namun, bayang-bayang konflik Iran berpotensi menekan permintaan global dan mengganggu momentum tersebut.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China, produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5 persen dalam tiga bulan hingga Maret. Angka ini meningkat dari 4,5 persen pada kuartal sebelumnya dan melampaui proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters sebesar 4,8 persen.

Dikutip dari CNBC, Kamis (16/4/2026), Pemerintah China sebelumnya menetapkan target pertumbuhan tahun ini di kisaran 4,5 persen hingga 5 persen, yang menjadi target paling rendah sejak awal 1990-an.

Kebijakan tersebut mencerminkan perlambatan permintaan domestik serta masih berlanjutnya ketegangan dagang dengan Amerika Serikat.

Baca juga: Mau Buka Selat Hormuz untuk China, Trump: Xi Jinping Akan Peluk Saya

Dalam pernyataannya, biro statistik mengingatkan bahwa lingkungan eksternal semakin kompleks dan bergejolak. Mereka juga menyoroti ketidakseimbangan yang cukup tajam antara pasokan yang kuat dan permintaan yang masih lemah.

Investasi dan konsumsi masih tertahan

Dari sisi investasi, penanaman modal tetap di perkotaan, termasuk sektor properti dan infrastruktur, naik 1,7 persen secara tahunan pada kuartal I-2026. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 1,9 persen.

Sektor properti masih mengalami tekanan. Investasi di sektor ini tercatat turun 11,2 persen hingga Maret, lebih dalam dibandingkan penurunan 9,9 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, penjualan ritel pada Maret hanya tumbuh 1,7 persen secara tahunan, melambat dari kenaikan 2,8 persen pada Februari yang terdongkrak musim liburan. Capaian tersebut juga berada di bawah perkiraan ekonom sebesar 2,3 persen.

Baca juga: Hubungan Rusia-China Makin Mesra Saat AS dan Iran Berperang

Di sisi lain, produksi industri tumbuh 5,7 persen pada Maret, lebih tinggi dari ekspektasi 5,5 persen, meskipun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,3 persen pada Februari.

Sepanjang kuartal I, produksi industri meningkat 6,1 persen secara tahunan, melampaui pertumbuhan penjualan ritel yang hanya 2,4 persen.

Hal ini menegaskan bahwa sektor manufaktur masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi China, di tengah konsumsi domestik yang belum pulih sepenuhnya.

Ekonom The Conference Board, Yuhan Zhang, menilai konsumsi sempat mendapat dorongan dari permintaan Tahun Baru Imlek dan program subsidi pemerintah.

Program ini mendorong peningkatan belanja untuk produk seperti perangkat komunikasi, emas, dan perhiasan.

Namun, penjualan mobil justru menurun secara tahunan. Hal ini menunjukkan konsumen masih berhati-hati dalam membelanjakan dana untuk barang bernilai besar, terutama di tengah fluktuasi harga minyak.

Baca juga: Iran Diduga Pakai Satelit AI China untuk Tentukan Target Serangan ke AS

Ekspor kuat, tapi mulai melambat

Kinerja ekspor menjadi penopang utama ekonomi. Pada kuartal I-2026, ekspor China melonjak 14,7 persen secara tahunan dalam denominasi dollar AS, menjadi laju tercepat sejak awal 2022.

Namun, momentum tersebut mulai melemah. Pada Maret, pertumbuhan ekspor hanya mencapai 2,5 persen, turun tajam dari 21,8 persen pada periode Januari-Februari.

Konflik di Timur Tengah, khususnya perang Iran, memicu kenaikan biaya energi dan logistik, yang pada akhirnya menekan permintaan global.

Sebagai importir minyak terbesar di dunia sekaligus negara dengan ketergantungan tinggi pada ekspor, China rentan terhadap guncangan harga energi.

Kondisi ini mulai memperlambat perdagangan, meningkatkan biaya produksi, dan memperburuk prospek ekonomi ke depan.

Harga di tingkat pabrik juga tercatat naik pada Maret untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan ini menandakan lonjakan biaya energi mulai merembet ke sektor manufaktur, yang berpotensi menekan margin perusahaan.

Ekonom Morgan Stanley, Robin Xing, mengingatkan bahwa guncangan pasokan dapat berujung pada melemahnya permintaan agregat global.

Menurut dia, meskipun China berpeluang meningkatkan pangsa pasar di beberapa sektor, kondisi tersebut bisa terimbangi oleh menyusutnya pasar ekspor secara keseluruhan.

Tag:  #ekonomi #china #tumbuh #persen #kuartal #2026 #lampaui #ekspektasi

KOMENTAR