Krisis Energi: Stok Avtur Eropa Diprediksi Habis dalam Enam Minggu
Ilustrasi pesawat.(PIXABAY/DOMINIC WUNDERLICH)
18:48
16 April 2026

Krisis Energi: Stok Avtur Eropa Diprediksi Habis dalam Enam Minggu

Krisis energi global kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran dan dampaknya terhadap jalur distribusi energi utama dunia.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan, dampak gangguan pasokan energi tersebut kini mulai terasa signifikan, terutama bagi sektor penerbangan di Eropa.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyebutkan, kawasan Eropa berpotensi hanya memiliki cadangan bahan bakar jet atau avtur untuk waktu yang terbatas jika gangguan pasokan terus berlanjut.

Baca juga: Harga Avtur Naik, FedEx Belum Naikkan Biaya Logistik

Ilustrasi pesawat. Eropa sedang menghadapi krisis bahan bakar jet. Unsplash/Ivan Shimko Ilustrasi pesawat. Eropa sedang menghadapi krisis bahan bakar jet.

“Eropa mungkin hanya punya avtur yang cukup untuk sekitar 6 minggu lagi,” ujar Birol dalam wawancara dengan Associated Press, dikutip pada Kamis (16/4/2026).

Birol menambahkan, kondisi tersebut berpotensi memicu gangguan besar dalam operasional penerbangan, termasuk pembatalan penerbangan dalam waktu dekat apabila pasokan minyak tetap terhambat akibat konflik.

Dampak blokade Selat Hormuz

Krisis ini dipicu oleh terganggunya distribusi energi melalui Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dunia.

Blokade di wilayah tersebut dinilai berpotensi memicu krisis energi terbesar dalam sejarah modern.

Baca juga: Cathay Pacific Pangkas Penerbangan hingga Juni 2026, Imbas Harga Avtur Melonjak

IEA bahkan menilai situasi ini sebagai ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global. Birol menyebut, dampak dari krisis ini tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga merambat ke pertumbuhan ekonomi dan inflasi global.

Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

“Di masa lalu ada sebuah kelompok bernama ‘Dire Straits.’ Sekarang memang situasinya sangat genting, dan ini akan berdampak besar pada perekonomian global. Dan semakin lama berlanjut, semakin buruk dampaknya bagi pertumbuhan ekonomi dan inflasi di seluruh dunia,” kata dia.

Selain itu, Birol juga menegaskan, dampak krisis akan dirasakan secara luas melalui kenaikan harga energi di berbagai sektor.

“Dampaknya akan berupa kenaikan harga bensin, kenaikan harga gas, dan kenaikan harga listrik,” ujarnya.

Baca juga: Krisis Avtur Membayangi, Maskapai Global Mulai Kurangi Penerbangan

Eropa hadapi ancaman krisis avtur

Di Eropa, ancaman paling nyata saat ini terlihat pada pasokan avtur. Kawasan ini diketahui memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan bakar tersebut, dengan sekitar 75 persen pasokan berasal dari Timur Tengah.

Seiring terganggunya jalur distribusi, maskapai penerbangan di Eropa mulai memperingatkan potensi kelangkaan bahan bakar dalam beberapa pekan ke depan.

Situasi ini berisiko mengganggu musim liburan musim panas, periode dengan permintaan perjalanan udara yang tinggi.

Berdasarkan proyeksi IEA, kekurangan avtur dapat terjadi mulai Juni 2026 apabila Eropa hanya mampu menggantikan setengah dari pasokan yang biasanya diperoleh dari Timur Tengah.

Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Garuda Indonesia Sesuaikan Tarif Tiket dan Rute Penerbangan

Beberapa bandara bahkan telah memperingatkan kemungkinan kekurangan dalam waktu lebih cepat.

Sejumlah fasilitas menyebutkan bahwa stok bahan bakar bisa menipis dalam waktu tiga minggu jika blokade Selat Hormuz tidak segera berakhir.

Lonjakan harga avtur juga mulai terjadi sejak gangguan distribusi berlangsung. Maskapai memperingatkan bahwa kondisi ini dapat berujung pada kenaikan harga tiket pesawat, pembatalan penerbangan, hingga penghentian operasional pesawat.

Ilustrasi pesawat melewati awan Cumulonimbus.Pexels/Pixabay Ilustrasi pesawat melewati awan Cumulonimbus.

Kapasitas kilang terbatas

Upaya untuk mengatasi kekurangan pasokan juga menghadapi tantangan struktural. Dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas pengolahan minyak di Eropa mengalami penurunan, seiring dengan kebijakan transisi menuju energi yang lebih bersih.

Baca juga: Pemerintah Izinkan Tiket Pesawat Naik Terbatas Saat Avtur Melonjak, Maskapai Menyesuaikan

IEA mencatat, banyak kilang di Eropa saat ini telah beroperasi pada kapasitas maksimum untuk produksi avtur.

Kondisi ini membatasi kemampuan kawasan tersebut untuk meningkatkan produksi domestik dalam jangka pendek.

Selain itu, pasokan alternatif dari wilayah lain seperti Afrika dan Amerika Serikat (AS) dinilai tidak cukup untuk sepenuhnya menutup kekurangan dari Timur Tengah.

Masalah lain terletak pada sistem penyimpanan. Konsorsium distribusi bahan bakar yang memasok bandara umumnya tidak menyimpan stok dalam jangka panjang, sementara banyak bandara juga tidak memiliki cadangan besar di lokasi.

Baca juga: Avtur Mahal, Pemerintah Turunkan Bea Masuk Suku Cadang untuk Maskapai Jadi 0 Persen

Kondisi ini memperburuk kerentanan terhadap gangguan pasokan mendadak.

Respons Uni Eropa

Menghadapi ancaman tersebut, Uni Eropa mulai menyiapkan langkah-langkah untuk mengamankan pasokan energi, khususnya avtur.

Komisi Uni Eropa dilaporkan tengah menyusun rencana untuk memaksimalkan kapasitas kilang dan memastikan fasilitas yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal.

Mulai bulan depan, Uni Eropa juga akan memperkenalkan pemetaan kapasitas pengolahan minyak di seluruh kawasan, serta langkah-langkah untuk memastikan fasilitas yang ada tetap beroperasi secara penuh dan terjaga.

Ilustrasi bendera Uni Eropa.iStockphoto/AlxeyPnferov Ilustrasi bendera Uni Eropa.

Baca juga: INACA Nilai Jurus Pemerintah Redam Dampak Avtur Mahal Sudah Tepat

Selain itu, sejumlah kebijakan khusus terkait pasokan bahan bakar jet juga tengah dikembangkan, meskipun detailnya masih dalam tahap penyusunan.

Di sisi lain, maskapai penerbangan Eropa meminta adanya peningkatan pemantauan pasokan bahan bakar serta mempertimbangkan mekanisme pembelian bersama (joint purchasing) untuk kerosin guna mengamankan kebutuhan.

Ketimpangan pasokan antarnegara

Pasokan bahan bakar jet di Eropa juga tidak merata antarnegara.

Spanyol, misalnya, memiliki delapan kilang dan berstatus sebagai eksportir bersih avtur. Sebaliknya, Inggris mengandalkan impor untuk lebih dari 60 persen kebutuhan avtur.

Baca juga: Efek Berantai Avtur Mahal: Tiket Naik Terbatas, Rute Maskapai Diubah, Pemerintah Turun Tangan

Secara keseluruhan, wilayah OECD Eropa mengimpor lebih dari 30 persen kebutuhan bahan bakar jet, dengan sebagian besar pasokan tersebut melewati Selat Hormuz.

Ketergantungan tinggi terhadap jalur distribusi yang kini terganggu menjadi faktor utama yang memperbesar risiko krisis.

Ketidakpastian pasar dan operasional maskapai

Di tengah kondisi yang belum pasti, maskapai penerbangan mulai menghadapi kesulitan dalam merencanakan operasional mereka.

Chief Technology Officer Lufthansa, Grazia Vittadini, mengungkapkan bahwa pemasok bahan bakar kini mengubah pendekatan mereka dalam memberikan proyeksi pasokan.

Baca juga: AirAsia Minta Maaf Ubah Rute dan Jadwal Imbas Harga Avtur Naik demi Jaga Operasional

“Pemasok (avtur) kami mengubah jangka waktu perkiraan mereka, dan mereka tidak lagi bersedia memberikan perkiraan dalam jangka waktu yang lebih dari satu bulan,” kata Vittadini.

Ilustrasi pesawat, penerbangan.Pexels.com/RDNE Stock project Ilustrasi pesawat, penerbangan.

Kondisi ini menunjukkan meningkatnya ketidakpastian di pasar energi, yang berdampak langsung pada perencanaan bisnis maskapai.

Sementara itu, sejumlah operator bandara masih memantau perkembangan situasi.

Bandara Heathrow di Inggris menyatakan bahwa dampak perang belum dirasakan secara langsung terhadap operasionalnya, namun tetap melakukan pemantauan ketat.

Baca juga: AirAsia Ubah Jadwal dan Rute, Tekanan Avtur Terasa, Penumpang Terdampak

Dampak global lebih luas

IEA juga menekankan, dampak krisis energi ini tidak akan merata di seluruh dunia. Negara-negara berkembang diperkirakan akan menjadi pihak yang paling terdampak.

“Negara-negara yang akan paling menderita bukanlah negara-negara yang suaranya banyak didengar. Terutama negara-negara berkembang. Negara-negara miskin di Asia, Afrika, dan Amerika Latin,” ujar Birol.

Ia menyebut sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, India, China, Pakistan, dan Bangladesh sebagai wilayah yang berada di garis depan dampak krisis energi.

Dengan kenaikan harga energi yang meluas, tekanan terhadap inflasi global juga diperkirakan akan meningkat, memperburuk kondisi ekonomi di berbagai negara.

Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Tarif Tiket Pesawat Bakal Naik Maksimal 13 Persen

Cadangan darurat dan keterbatasannya

Uni Eropa sebenarnya memiliki mekanisme cadangan darurat untuk menghadapi gangguan pasokan energi. Negara anggota diwajibkan menyimpan cadangan minyak setara 90 hari konsumsi.

Namun, tidak terdapat kewajiban khusus untuk menyimpan avtur dalam jumlah tertentu.

Meski bahan bakar tersebut dapat dihitung sebagai bagian dari cadangan minyak, tidak semua negara memiliki stok yang memadai untuk kebutuhan sektor penerbangan.

Keterbatasan ini menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko gangguan pada industri penerbangan dalam jangka pendek.

Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat

Di tengah upaya berbagai pihak untuk mencari solusi, perkembangan konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor penentu utama arah krisis energi global saat ini.

Tag:  #krisis #energi #stok #avtur #eropa #diprediksi #habis #dalam #enam #minggu

KOMENTAR