Purbaya Ungkap ''Warning'' S&P soal Bunga Utang, Tegaskan Rating RI Tetap Stabil
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pertemuan antara pemerintah Indonesia dan S&P di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (14/4/2026)(Dokumentasi Kementerian Keuangan )
07:42
17 April 2026

Purbaya Ungkap ''Warning'' S&P soal Bunga Utang, Tegaskan Rating RI Tetap Stabil

- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan adanya peringatan dari lembaga pemeringkat S&P Global Ratings terkait kondisi fiskal Indonesia, khususnya rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara.

Peringatan tersebut disampaikan dalam pertemuan antara pemerintah Indonesia dan S&P di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (14/4/2026) waktu setempat. S&P menilai rasio pembayaran bunga perlu dijaga agar tidak membebani fiskal ke depan.

“Mereka memberi warning untuk mendiskusikan lebih dalam bahwa rating pembayaran bunga dibanding income-nya di atas 15 persen,” ujar Purbaya dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).

Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah akan terus memantau indikator tersebut guna memastikan stabilitas fiskal tetap terjaga.

“Saya bilang, kita akan monitor terus dan pastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal yang kita jaga tidak memburuk dari sisi pembayaran bunga,” lanjutnya.

Baca juga: Isu Risiko Tinggi Dibantah, Purbaya: S&P Tegaskan Rating RI Tetap Stabil

Selain rasio bunga utang, S&P juga menggali kondisi fiskal Indonesia secara lebih rinci, termasuk perkembangan defisit anggaran dalam dua tahun terakhir.

Fokus utama lembaga tersebut kata Purbaya adalah melihat konsistensi pemerintah dalam menjaga defisit tetap di bawah batas aman.

“Oh mereka menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu dan utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten melihat defisit kita di bawah 3 persen dari PDB,” kata Purbaya.

Baca juga: S&P Nilai Rating Utang RI Paling Rentan di Asia Tenggara

Ia memastikan pemerintah tetap berpegang pada disiplin fiskal sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, dengan target defisit dijaga di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Jadi saya bilang kita konsisten dengan kebijakan itu, presiden kita telah memberikan arahan bahwa defisit kita terjaga di bawah 3 persen dari PDB,” ujarnya.

Purbaya menyebut defisit anggaran saat ini berada di kisaran 2,9 persen dan berpotensi turun menjadi sekitar 2,8 persen dalam laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP).

Dari sisi penerimaan, pemerintah juga mencatat kinerja positif, terutama dari pertumbuhan pajak di awal tahun.

“Ketika kita beritahu bahwa bulan pertama tahun ini pertumbuhan pajak mencapai 30 persen dan di bulan Maret, Januari-Maret kemarin tumbuh 20 persen,” kata dia.

Baca juga: S&P Beri Wanti-wanti ke Menkeu Purbaya soal Beban Bunga Utang

Menurut Purbaya, kinerja tersebut turut memperkuat kepercayaan S&P terhadap ketahanan fiskal Indonesia. Hasilnya, lembaga pemeringkat tersebut memutuskan mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan prospek stabil.

“S&P bilang, mereka memberikan konfirmasi bahwa rating kita tetap dengan outlook yang tetap stabil,” ujarnya.

Purbaya juga merespons kabar yang menyebut Indonesia memiliki risiko fiskal tinggi di kawasan Asia Tenggara. Ia menilai informasi tersebut kemungkinan merujuk pada laporan awal sebelum pertemuan langsung dengan S&P.

“Waktu itu mungkin mengacu pada laporan yang diberikan hari Senin. Saya kan meetingnya hari Selasa, jadi sepertinya mereka sudah melakukan asesmen ulang,” ujarnya.

Menurut Purbaya, hasil pertemuan terbaru justru menunjukkan penilaian yang lebih positif terhadap kondisi fiskal Indonesia.

“Artinya dari situ, kita tidak dalam posisi yang lemah dari sisi fiskal,” katanya.

Baca juga: Selat Hormuz Bayangi Wall Street, Nasdaq dan S&P 500 Turun Hampir 1 Persen

Ia menambahkan, S&P bahkan berencana kembali mengunjungi Indonesia untuk melakukan penilaian lanjutan terhadap perkembangan ekonomi dan kebijakan pemerintah.

“Kalau message dari mereka, mereka ingin nanti datang lagi ke Indonesia untuk menilai kondisi ekonomi maupun pemerintah yang sudah berubah,” kata Purbaya.

Sebelumnya, dalam laporan terbarunya, S&P Global Ratings menilai peringkat utang Indonesia menjadi yang paling rentan di Asia Tenggara, terutama jika konflik di Timur Tengah berlarut-larut. 

Kenaikan harga energi global dinilai dapat meningkatkan beban subsidi dan menekan ruang fiskal pemerintah.

“Di Asia Tenggara, kami menilai peringkat utang Indonesia akan lebih rentan jika konflik berlarut-larut,” tulis S&P.

Meski terdapat risiko tersebut, pemerintah tetap optimistis stabilitas fiskal dapat terjaga, seiring kinerja penerimaan yang menguat dan komitmen menjaga defisit dalam batas aman.

Tag:  #purbaya #ungkap #warning #soal #bunga #utang #tegaskan #rating #tetap #stabil

KOMENTAR