Purbaya soal Bank Dunia Proyeksikan Ekonomi RI Turun: Dia Minta Maaf...
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pejabat Bank Dunia sempat meminta maaf usai menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hal itu disampaikan Purbaya setelah bertemu langsung dengan pihak yang menyusun outlook tersebut dalam rangkaian pertemuan di Washington DC, Amerika Serikat.
“Saya ketemu yang memprediksi itu. Dia minta maaf, katanya terlalu cepat menurunkannya,” ujar Purbaya wawancara eksklusif Kompas TV, Jumat (17/4/2026).
Purbaya mengungkap, permintaan maaf itu disampaikan berulang kali.
Menurut cerita Purbaya proyeksi tersebut terbit tanpa sepengetahuan atasan ekonom tersebut di Indonesia.
"Dia bilang itu di-publish tanpa laporan ke bosnya dahulu, bosnya dia yang di Indonesia," kata Purbaya
Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah tidak meminta revisi dalam waktu dekat.
Ia justru memilih membuktikan bahwa proyeksi tersebut keliru.
“Saya bilang tidak usah diubah sekarang, tapi ke depan saya akan buktikan mereka salah,” katanya.
Menurut Purbaya, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan mampu menopang pertumbuhan di tengah tekanan global.
Ia optimistis laju ekonomi nasional tetap bisa melampaui proyeksi yang ditetapkan sebelumnya.
“Fondasi ekonomi kita bagus dan kita akan tumbuh lebih cepat dari 4,8 persen. Walaupun ada gejolak global, kita bisa meredam, jadi ekonomi domestik tetap tumbuh baik,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa penurunan outlook tersebut terjadi tanpa melalui koordinasi penuh di internal lembaga tersebut.
“Dia juga bilang itu dipublikasikan tanpa laporan ke atasannya. Jadi ada kekeliruan,” kata Purbaya.
Kendati demikian, Purbaya menekankan bahwa secara umum World Bank tetap memandang positif kondisi ekonomi Indonesia, terutama dari sisi fundamental yang dinilai masih solid.
Sebelumnya, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen.
Proyeksi ini tertuang dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 yang dirilis pada Rabu (8/4/2026).
Meski direvisi turun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya 4,2 persen.
Kawasan ini mencakup sejumlah negara seperti China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, hingga negara-negara Kepulauan Pasifik.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, menyebut prospek ekonomi kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal utama, yakni konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI).
Baca juga: Bank Dunia Pangkas Proyeksi RI, Airlangga: Masih di Atas Rata-rata Global
Tag: #purbaya #soal #bank #dunia #proyeksikan #ekonomi #turun #minta #maaf