Harga Minyak Menguat, Sekutu AS Ragu: Beijing Melihat Peluang Baru
Ilustrasi kapal tanker. Harga minyak global melonjak di tengah gangguan pasokan Timur Tengah, memicu tekanan pasar energi dan meredupkan kepercayaan sekutu AS. Di tengah situasi ini, China dinilai mulai menangkap peluang geopolitik baru.()
07:36
19 April 2026

Harga Minyak Menguat, Sekutu AS Ragu: Beijing Melihat Peluang Baru

– Lonjakan harga minyak global di tengah gangguan pasokan dari Timur Tengah kembali memicu tekanan geopolitik baru.

Situasi ini tidak hanya membuat pasar energi semakin ketat, tetapi juga mengguncang kepercayaan sekutu Amerika Serikat (AS), sekaligus membuka peluang strategis bagi China untuk memperluas pengaruhnya.

Pasar minyak dunia mengalami tekanan setelah terganggunya jalur distribusi energi dari kawasan Teluk Persia.

Baca juga: Harga Minyak Mentah RI Melonjak Jadi 102 Dollar AS Per Barrel Dipicu Konlik Timur Tengah

Dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (19/4/2026), CEO Phillips 66 menyebut kondisi pasokan saat ini sudah berada dalam situasi yang “sangat ketat” akibat gangguan pelayaran.

Harga minyak acuan Asia seperti Dubai dan Oman sempat melonjak tajam, bahkan menembus level di atas 160 dollar AS per barrel pada akhir Maret 2026.

Lonjakan harga minyak ini menandakan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas suplai energi global.

Sejumlah pelaku pasar juga memantau ketat pergerakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang diproyeksikan berfluktuasi pada kisaran 75 dollar AS hingga lebih dari 110 dollar AS per barrel sepanjang April 2026.

Baca juga: BBM Nonsubsidi Naik Saat Harga Minyak Turun, Begini Pandangan Ekonom

Ketegangan geopolitik tekan kepercayaan sekutu AS

Di tengah gejolak energi tersebut, dinamika politik global turut memperburuk situasi.

Kampanye militer Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran, serta respons keras dari Teheran, ikut menambah ketidakpastian di kawasan.

Pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang kerap melontarkan kritik terhadap Eropa dinilai memperlemah persepsi terhadap komitmen Amerika Serikat terhadap sekutunya.

Dalam beberapa kesempatan, Trump bahkan menyebut Eropa sebagai “macan kertas” dan mendorong negara-negara Eropa untuk membangun “keberanian yang selama ini tertunda”, pergi ke Selat Hormuz, dan “mengambil alihnya”.

Henrietta Levin dari Center for Strategic and International Studies menilai kondisi ini dapat dimanfaatkan China.

Baca juga: Kapal Malaysia yang Lewati Selat Hormuz Tiba, Bawa Minyak 1 Juta Barrel

“China ingin agar mitra-mitra terpenting Amerika Serikat mempertanyakan apakah AS benar-benar akan hadir dalam jangka panjang, apakah AS akan benar-benar hadir ketika situasinya sulit,” kata Levin, dikutip dari Yahoo Finance.

Menurutnya, melemahnya komitmen AS terhadap sekutu di Eropa juga berdampak langsung pada stabilitas keamanan di Asia.

“Komitmen AS terhadap sekutu di Eropa sangat berkaitan langsung dengan daya tangkal di Asia, sehingga situasinya menjadi lebih rentan,” ujarnya.

Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026.AFP/GIUSEPPE CACACE Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026.

China manfaatkan ruang strategis

Para analis menilai, meningkatnya fokus Amerika Serikat pada Timur Tengah berpotensi menggeser perhatian dari kawasan Indo-Pasifik.

Dalam konteks ini, China dinilai memiliki ruang lebih besar untuk memperluas pengaruh, terutama di Laut China Selatan dan isu Taiwan.

Patricia Kim dari Brookings Institution menegaskan bahwa China tidak serta-merta akan mengambil langkah militer terhadap Taiwan.

“China tidak mungkin bergerak terhadap Taiwan hanya karena Amerika Serikat sedang sibuk di tempat lain,” kata Kim.

Baca juga: Intel AS Klaim China Akan Kirim Radar Canggih ke Iran, Bisa Deteksi Drone dan Rudal

Namun ia menambahkan, “Gangguan fokus Amerika Serikat di Timur Tengah dapat memberi China ruang strategis tidak langsung dengan memperluas beban perhatian dan sumber daya Amerika.”

Di Laut China Selatan, aktivitas kapal China juga dilaporkan meningkat di sekitar Scarborough Shoal, wilayah sengketa dengan Filipina yang menjadi salah satu titik rawan eskalasi konflik.

Ketergantungan energi China masih jadi faktor kunci

Meski lebih siap menghadapi gejolak energi dibanding banyak negara lain, China tetap memiliki ketergantungan besar pada minyak dari Timur Tengah. Sekitar sepertiga hingga setengah impor minyak China berasal dari kawasan Teluk Persia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing memang memperkuat ketahanan energi melalui pengembangan kendaraan listrik, energi terbarukan, serta penumpukan cadangan minyak strategis.

Namun gangguan di jalur vital seperti Selat Hormuz tetap memberi tekanan.

Laporan pergerakan kapal menunjukkan adanya kapal tanker bermuatan minyak dan bahan kimia milik China yang sempat berbalik arah di tengah meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut pada pertengahan April.

Baca juga: Iran Umumkan Selat Hormuz Ditutup Lagi Usai Insiden Tembakan ke Tanker

Jelang pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping

Situasi geopolitik dan energi ini turut membayangi rencana pertemuan Presiden AS, Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping yang dijadwalkan pada pertengahan Mei 2026.

Kedua pihak disebut masih berupaya menjaga stabilitas hubungan, terutama terkait kesepakatan perdagangan dan kebijakan teknologi.

“Kedua belah pihak tampaknya berkomitmen pada keberhasilan pertemuan puncak, memperpanjang gencatan perdagangan, dan menjaga stabilitas hubungan bilateral,” kata Patricia Kim.

Pertemuan ini menjadi penting setelah Amerika Serikat pada akhir 2025 menyetujui paket penjualan senjata ke Taiwan senilai 11,1 miliar dollar AS, yang kembali memicu ketegangan dengan Beijing.

Dalam agenda pembahasan, isu perdagangan hingga akses teknologi chip kecerdasan buatan seperti Nvidia H20 dan H200 diperkirakan menjadi sorotan utama.

Di sisi lain, Xi Jinping disebut berharap Washington mengambil sikap lebih jelas terkait Taiwan, meski posisi resmi AS masih menghindari komitmen eksplisit.

Baca juga: 20 Kapal Langsung Balik Arah Usai Iran Tutup Selat Hormuz Lagi

Sementara itu, Trump menyampaikan pernyataan bernada optimistis menjelang pertemuan tersebut.

“Presiden Xi akan memberi saya pelukan besar dan hangat ketika saya tiba di sana dalam beberapa minggu,” tulis Trump.

“Kami bekerja sama dengan cerdas dan sangat baik! Bukankah itu lebih baik daripada berperang??? TAPI INGAT, kami sangat baik dalam berperang, jika memang harus,” tulisnya lagi. 

Tag:  #harga #minyak #menguat #sekutu #ragu #beijing #melihat #peluang #baru

KOMENTAR