Harga BBM dan Bahan Baku Naik, Risiko Deindustrialisasi Dini Kian Terbuka
Pabrik benang PT. APF Kaliwungu Kendal. KOMPAS.COM/SLAMET PRIYATIN(KOMPAS.COM/SLAMET PRIYATIN)
22:28
19 April 2026

Harga BBM dan Bahan Baku Naik, Risiko Deindustrialisasi Dini Kian Terbuka

– Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan bahan baku industri akibat konflik di Timur Tengah mulai menekan sektor manufaktur dalam negeri.

Tekanan biaya produksi di tengah melemahnya daya beli dinilai dapat mendorong penurunan kapasitas produksi hingga berujung pada risiko deindustrialisasi dini.

Guru Besar FEB Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengingatkan, kondisi tersebut dapat mempercepat kontraksi sektor industri.

"Jika harga bahan baku plastik dan bangunan terus melonjak sementara daya beli melemah, industri manufaktur dalam negeri akan memangkas kapasitas produksi," ujarnya, Minggu (19/4/2026), dikutip dari Kontan.co.id.

Baca juga: Mendag Harap Harga Plastik Cepat Turun, Bahan Baku Alternatif Dikirim

Penurunan aktivitas manufaktur berdampak langsung pada efisiensi tenaga kerja. Perusahaan cenderung menyesuaikan jam kerja maupun jumlah karyawan, yang pada akhirnya turut menekan daya beli masyarakat, khususnya kelas pekerja.

Tekanan berlapis pada kelas menengah

Dari sisi konsumen, terutama kelas menengah, tekanan muncul dari sejumlah faktor secara bersamaan.

Rahma menyebut setidaknya ada tiga sumber utama, yakni inflasi impor (imported inflation), kenaikan harga pangan dan kemasan, serta beban bunga cicilan.

Pelemahan nilai tukar rupiah hingga di atas Rp 17.000 per dollar AS mendorong kenaikan harga barang impor seperti elektronik dan otomotif. Pada saat yang sama, lonjakan harga plastik sebagai bahan kemasan turut mengerek harga makanan.

Baca juga: Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati

Kondisi ini diperparah oleh suku bunga yang diperkirakan tetap tinggi untuk menjaga stabilitas rupiah. Dampaknya, ruang konsumsi berbasis kredit bagi kelas menengah menjadi semakin terbatas.

"Yang saya khawatirkan jika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak ketat terhadap pinjaman online (pinjol), maka makin marak kelas menengah yang terjerat pada pinjol," imbuh Rahma.

Lonjakan bahan baku dan gangguan rantai pasok

Kenaikan harga bahan baku tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga meluas ke berbagai komoditas industri lain. Harga plastik domestik dilaporkan melonjak hingga 50–100 persen, mencerminkan gangguan pada rantai pasok global.

Founder & Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyebut kondisi ini sebagai sinyal awal krisis bahan baku yang lebih luas.

“Kondisi ini bukan sekadar kenaikan harga, tetapi merupakan sinyal awal dari krisis stok bahan baku,” kata Setijadi, Jumat (17/4/2026).

Baca juga: Pajak Air Permukaan untuk Sawit Dikritik, Berpotensi Tekan Industri dan Investasi

Gangguan pasokan juga terjadi pada bahan kimia industri seperti sulfur dan acid, logam seperti aluminium, hingga material kritikal seperti helium. Sebagian besar bahan tersebut sulit disubstitusi dalam jangka pendek, sehingga langsung memengaruhi proses produksi.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku masih tinggi, yakni lebih dari 70 persen untuk sektor kimia, petrokimia, dan manufaktur berbasis material.

Ketika pasokan global terganggu, industri menghadapi risiko keterlambatan bahan baku, penurunan kapasitas produksi, serta lonjakan biaya input.

Dalam jangka pendek, kondisi ini memicu efek berantai berupa peningkatan lead time, kenaikan biaya produksi, hingga tekanan harga di tingkat konsumen.

Warga memilih gelas plastik di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). Harga produk berbahan plastik di pasar tersebut beranjak naik sejak awal April 2026 akibat terganggunya impor bahan baku dari Timur Tengah, seperti nafta sebagai bahan utama yang menyebabkan pasokan berkurang dan biaya produksi serta distribusi meningkat sehingga mendorong kenaikan harga jual di tingkat pedagang berkisar Rp4.000 - Rp10.000 per produk atau sekitar 30 hingga 80 persen. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar Warga memilih gelas plastik di Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). Harga produk berbahan plastik di pasar tersebut beranjak naik sejak awal April 2026 akibat terganggunya impor bahan baku dari Timur Tengah, seperti nafta sebagai bahan utama yang menyebabkan pasokan berkurang dan biaya produksi serta distribusi meningkat sehingga mendorong kenaikan harga jual di tingkat pedagang berkisar Rp4.000 - Rp10.000 per produk atau sekitar 30 hingga 80 persen.

Industri tekstil paling terpukul

Dampak kenaikan biaya juga dirasakan signifikan oleh industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat harga bahan baku tekstil melonjak 30–40 persen akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah.

“Kenaikan bahan baku tekstil ini kan sudah gila-gilaan ya, 30 persen, 40 persen kan?” kata Direktur Eksekutif API Danang Girindrawardana.

Baca juga: Airlangga: Hilirisasi Industri Kunci Jaga Ekonomi di Tengah Gejolak Global

Gangguan ini berkaitan dengan penutupan jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia. Banyak bahan baku tekstil merupakan turunan minyak bumi, sehingga pasokannya ikut terdampak.

Selain bahan baku, industri juga menghadapi potensi kenaikan biaya energi. Kombinasi keduanya membuat biaya produksi tekstil berisiko meningkat signifikan, mengingat porsi bahan baku dan energi mencapai 22–28 persen dari total biaya produksi.

Akibatnya, pelaku usaha memiliki ruang terbatas untuk menahan kenaikan harga jual produk.

“Pada akhirnya konsumen dalam negeri kita yang akan mengalami kenaikan harga tekstil dan produk tekstil di ujung,” tutur Danang.

Efek berantai ke harga konsumen

Dari sisi pelaku usaha, kenaikan biaya produksi sulit diserap tanpa penyesuaian harga. Produsen cenderung menaikkan harga grosir untuk menjaga kelangsungan usaha, meskipun berisiko menekan volume penjualan.

Di sisi lain, kenaikan harga yang terlalu tinggi juga berpotensi menurunkan permintaan. Sebagai respons, sebagian peritel memilih strategi penyesuaian ukuran produk tanpa menaikkan harga.

Baca juga: Geopolitik Ganggu Rantai Pasok Farmasi, Kepala BPOM Dorong Kemandirian Industri Obat Nasional

Rahma menilai sektor yang paling rentan adalah industri dengan ketergantungan tinggi terhadap impor serta menghadapi permintaan yang sensitif terhadap perubahan harga.

"Sektor padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT) adalah yang paling berdarah karena tidak memiliki fleksibilitas harga yang sama dengan sektor komoditas atau energi," terang Rahma.

Tanpa intervensi kebijakan yang memadai, tekanan biaya ini diperkirakan akan terus ditransmisikan ke harga konsumen.

Rahma memproyeksikan kenaikan harga yang lebih luas berpotensi terjadi pada kuartal II 2026, seiring berlanjutnya gangguan pasokan dan tingginya harga energi global.

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Harga BBM dan Bahan Baku Naik, Ancaman Deindustrialisasi Dini Mengintai dan telah tayang di Kompas.com dengan judul Harga Plastik Melonjak, Industri Diminta Tak Bergantung Satu Pemasok Bahan Baku dan Perkuat Stok dan Selat Hormuz Ditutup: Pasokan Bahan Baku Tekstil Terganggu, Biaya Produksi Naik

Tag:  #harga #bahan #baku #naik #risiko #deindustrialisasi #dini #kian #terbuka

KOMENTAR