Dampak Kenaikan BBM Minim, inDrive Belum Sesuaikan Tarif
- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 18 April 2026 dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap tarif layanan transportasi berbasis aplikasi, termasuk inDrive.
Hingga saat ini, perusahaan memastikan belum ada rencana penyesuaian tarif per kilometer karena dampaknya dinilai masih terbatas di lapangan.
Communication Manager inDrive, Wahyu Ramadhan, mengatakan pihaknya masih terus memantau perkembangan kondisi pasar sebelum mengambil langkah lanjutan.
“inDrive saat ini masih terus melakukan pemantauan kondisi pasar secara berkala,” ujar Wahyu kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Baca juga: INDEF: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Picu Inflasi dan Migrasi EV
Menurut dia, kenaikan harga BBM lebih banyak terjadi pada jenis bahan bakar khusus seperti Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite, dan Pertamina Dex. Karena itu, dampaknya terhadap sebagian besar mitra pengemudi relatif kecil.
“Untuk isu BBM non subsidi yang berlaku sejak 18 April itu lebih mengarah ke tingkat bahan bakar jenis khusus seperti turbo RON 98, Dexlite, dan Pertamax Dex, sehingga dampak ke driver seharusnya sangat minim, dan belum ada keperluan penyesuaian harga saat ini,” jelasnya.
Secara umum, Pertamax Turbo digunakan pada kendaraan dengan performa tinggi seperti Honda Civic RS, Toyota Raize, hingga mobil premium seperti Alphard, Fortuner, dan Pajero Sport.
Sementara Dexlite banyak digunakan pada kendaraan diesel seperti Toyota Innova Diesel, Mitsubishi Pajero Sport, hingga Isuzu MU-X.
Adapun Pertamina Dex umumnya digunakan pada kendaraan diesel modern seperti Toyota Fortuner, Innova, hingga Hyundai Santa Fe.
Wahyu menilai, kondisi pasar yang masih tumbuh cukup sehat turut menjaga stabilitas permintaan layanan. Basis pelanggan yang luas dari berbagai segmen, mulai dari pelajar, pekerja, hingga keluarga, membuat dampak kenaikan BBM belum terlalu terasa.
“Mengingat pertumbuhan pasar yang sehat, dan segmen pelanggan yang luas meliputi sekolah, universitas, swasta, keluarga, dampak ke pelanggan masih dalam tahap terkendali,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa inDrive terus berkoordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan layanan tetap berjalan optimal.
“Kami turut melakukan koordinasi menyeluruh dengan pemerintah dan stakeholders lainnya untuk terus memastikan sistem layanan dan segala aspek pendukungnya berjalan baik,” tegasnya.
Sebagai informasi, sistem tarif inDrive di Indonesia berbeda dibandingkan layanan transportasi online pada umumnya. Penetapan harga dilakukan melalui mekanisme negosiasi langsung antara penumpang dan pengemudi, sehingga tarif menjadi lebih fleksibel dan menyesuaikan kondisi di lapangan.
Di sisi lain, pemerintah juga telah menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari Jumat sejak April 2026 untuk menekan konsumsi BBM. Kebijakan ini turut berpotensi memengaruhi pola mobilitas masyarakat, meski dampaknya terhadap layanan transportasi online sejauh ini masih relatif terbatas.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Dalam penyesuaian tersebut, harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100 per liter.
Sementara Dexlite meningkat menjadi Rp23.600 per liter dari Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex menjadi Rp23.900 per liter dari Rp14.500 per liter.
Meski demikian, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap tidak berubah hingga akhir 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika harga energi global.
Tag: #dampak #kenaikan #minim #indrive #belum #sesuaikan #tarif