AS Tuduh China Danai Iran, Minta Beijing Bantu Buka Selat Hormuz
Helikopter Apache AH-64 terbang saat berpatroli di Selat Hormuz pada 17 April 2026, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat-Israel, yang berujung blokade jalur air strategis tersebut.(US CENTRAL COMMAND (CENTCOM) via AFP)
07:54
5 Mei 2026

AS Tuduh China Danai Iran, Minta Beijing Bantu Buka Selat Hormuz

Pemerintah Amerika Serikat menuduh China turut mendanai Iran di tengah memanasnya situasi di Selat Hormuz.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyampaikan kritik tajam terhadap hubungan energi Beijing dengan Teheran.

Pernyataan ini muncul menjelang rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping pekan depan.

Baca juga: Gencatan Senjata Iran-AS di Ambang Keruntuhan, Saling Serang di Selat Hormuz

AS tuduh China biayai Iran

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menuduh China menopang ekonomi Iran.AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menuduh China menopang ekonomi Iran.

Bessent menuding China berperan besar dalam menopang ekonomi Iran melalui pembelian energi.

“Iran adalah sponsor terbesar Iran, dan China telah membeli 90 persen energi mereka,” kata Bessent kepada Fox News pada Senin (4/5/2026), seperti dikutip Al Jazeera.

Meski melontarkan tuduhan keras, ia tetap meminta China bergabung dalam upaya internasional membuka kembali Selat Hormuz.

“Serangan dari Iran telah menutup selat itu. Kami sedang membukanya kembali. Jadi saya mendesak China untuk bergabung dengan kami dalam mendukung operasi internasional ini,” ujarnya.

Trump sebelumnya mengumumkan bahwa AS akan “memandu” kapal-kapal yang terjebak keluar dari Hormuz dalam operasi bernama “Project Freedom”, sekaligus memperingatkan Iran agar tidak mengganggu. Bessent menegaskan, Iran tidak menguasai jalur tersebut.

“Kami memiliki kendali penuh atas selat itu,” katanya.

Ia juga mendorong China menggunakan pengaruhnya terhadap Iran untuk meredakan krisis.

“Mari kita lihat mereka meningkatkan diplomasi dan membuat Iran membuka kembali selat itu,” tambahnya.

China dan Rusia blokir resolusi PBB

Bessent mengungkapkan bahwa China dan Rusia telah memveto upaya Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk blokade Iran. Kedua negara menilai rancangan resolusi tersebut tidak seimbang.

Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, mengatakan, draft itu “gagal menangkap akar masalah dan gambaran penuh konflik secara komprehensif dan seimbang,” karena hanya mengecam Iran tanpa menyinggung serangan AS dan Israel.

Di sisi lain, kebijakan “tekanan maksimum” Washington terhadap Iran terus berlanjut sejak Trump keluar dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action pada 2018.

Kesepakatan itu sebelumnya membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi ekonomi.

Baca juga: AS Bantah Kapal Perangnya Diserang Iran di Selat Hormuz

Meski JCPOA runtuh, China tetap mengimpor minyak Iran. Setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap entitas China yang terlibat dalam perdagangan tersebut, Beijing menolak yurisdiksi Washington.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan, “China menentang sanksi sepihak ilegal yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional.” Ia juga meminta AS menghentikan penggunaan sanksi secara sewenang-wenang.

Dinamika hubungan AS-China

Ketegangan terkait Iran muncul di tengah hubungan AS-China yang sempat menghangat setelah kesepakatan perdagangan awal dicapai akhir tahun lalu. Selama bertahun-tahun,

Washington memandang Beijing sebagai pesaing global utama di bidang ekonomi, geopolitik, dan militer.

Hubungan kedua negara juga kerap memanas akibat isu perdagangan, klaim China di Laut China Selatan, serta status Taiwan.

Namun sejak kembali menjabat pada Januari 2025, Trump menyatakan ingin mengalihkan fokus kebijakan luar negeri AS ke belahan bumi Barat.

Meski demikian, Bessent menilai pertemuan mendatang antara Trump dan Xi akan menjadi momentum penting.

“Kami memiliki stabilitas yang baik dalam hubungan ini, dan itu berasal dari rasa saling menghormati antara kedua pemimpin,” ujarnya.

Baca juga: Ketar-ketir Diancam Trump, Kanselir Jerman Bantah Penarikan Pasukan AS Terkait Iran

Tag:  #tuduh #china #danai #iran #minta #beijing #bantu #buka #selat #hormuz

KOMENTAR