Saham dan Obligasi Bisa Turun Bersamaan, Investor Cari Strategi Baru
Ilustrasi investasi(FREEPIK/8PHOTO)
19:20
23 April 2026

Saham dan Obligasi Bisa Turun Bersamaan, Investor Cari Strategi Baru

Cara investor menyusun diversifikasi mulai berubah di tengah ketidakpastian global. Pola lama yang mengandalkan kombinasi saham dan obligasi tidak lagi selalu efektif.

President and CEO Global Wealth and Asset Management Manulife Paul Lorentz mengatakan, pendekatan klasik sempat dianggap cukup untuk menjaga keseimbangan portofolio.

"Ketika saham turun, obligasi menjadi penyeimbang, dan sebaliknya," ujar dia dalam Media Briefing Manulife Aset Manajemen Indonesia, Rabu (22/4/2026).

Baca juga: Gejolak Geopolitik Global Bikin Investor Lirik RI, KEK Jawa Bisa Jadi Senjata Tarik Investasi Besar

Belakangan, pola itu tidak selalu terjadi. Dalam beberapa periode, saham dan instrumen pendapatan tetap turun bersamaan. Kondisi ini membuat fungsi lindung nilai menjadi melemah.

Situasi tersebut mendorong investor mencari alternatif baru. Aset seperti private credit dan real estat mulai dilirik untuk memperkuat portofolio.

Paul menjelaskan, penambahan aset alternatif membuat diversifikasi lebih kuat. Potensi imbal hasil juga meningkat, sementara volatilitas bisa ditekan.

Namun, tidak semua investor siap masuk ke instrumen ini. Investor institusi dinilai lebih siap karena memiliki horizon investasi panjang dan toleransi risiko lebih besar.

Sebaliknya, investor ritel menghadapi keterbatasan. Likuiditas menjadi salah satu tantangan utama. Aset alternatif tidak mudah dicairkan seperti reksa dana atau obligasi.

"Oleh karena itu, butuh waktu agar produk-produk ini benar-benar menjadi arus utama dan cocok untuk investor ritel," ungkap dia.

Baca juga: Danantara Incar Investasi Energi Rp 518,74 T Singapura, Proyek Panel Surya Terbesar ASEAN

Paul menilai, perjalanan investasi sangat bergantung pada profil risiko masing-masing. Setiap investor memiliki preferensi yang berbeda dalam mengelola aset.

Indonesia dinilai berada di posisi yang menarik. Tren penurunan suku bunga mulai mendorong minat ke instrumen pendapatan tetap.

"Penurunan suku bunga mendorong minat investor kembali ke pasar fixed income. Dalam jangka panjang, saya juga melihat adanya peluang di pasar saham, terutama seiring berkembang dan matangnya pasar," ungkap dia.

Kinerja pasar saham juga dinilai cukup solid. Stabilitas yang mulai terbentuk berpotensi menarik kembali arus dana ke pasar ekuitas.

Paul melihat pola perkembangan investor di Indonesia mirip dengan pasar berkembang lain. Investor pemula biasanya memulai dari reksa dana pasar uang, lalu beralih ke pendapatan tetap.

Tahap berikutnya mengarah ke saham untuk memperluas portofolio. Proses ini berjalan seiring meningkatnya pemahaman dan toleransi risiko.

"Semua ini soal kenyamanan dan toleransi risiko. Setiap investor berbeda, dan profil risikonya pun tidak sama," tutup dia.

Tag:  #saham #obligasi #bisa #turun #bersamaan #investor #cari #strategi #baru

KOMENTAR