Penyebab Rupiah Tembus Rp 17.300 dan Strategi BI Stabilkan Kurs
Nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS dan sempat menembus level Rp 17.300 per dollar AS. Pelemahan rupiah kali ini bahkan disebut sebagai level terendah sepanjang sejarah.
Pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026), rupiah berada di level Rp 17.246 per dollar AS.
Penyebab rupiah melemah
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juli Budi Winantya menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi dampak konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Baca juga: Rupiah Melemah, BCA Tegaskan Dampak ke Portofolio Kredit Tak Signifikan
Ilustrasi rupiah.
Menurut dia, konflik tersebut memicu perlambatan prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global pun dipangkas dari 3,1 persen menjadi 3,0 persen pada 2026.
Selain itu, perang juga mendorong kenaikan harga yang berdampak pada inflasi global.
“Inflasi akan lebih tinggi, dari 4,1 persen menjadi perkiraannya 4,2 persen,” kata Juli dalam Focus Group Discussion BI, Jumat (24/4/2026).
Juli mengatakan, kondisi global yang berdampak pada sektor riil turut memberi pengaruh pada sektor keuangan, salah satunya membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter global menjadi lebih sempit.
Baca juga: Rupiah Menguat Jauhi Level 17.300, BI Siaga di Pasar
“Fed Funds Rate (suku bunga acuan AS) masih mungkin turun, tapi lebih lambat dari perkiraan. Ada kemungkinan tetap stay, tidak berubah sampai akhir tahun,” tuturnya.
Ia menambahkan, keterlibatan AS dalam konflik di Timur Tengah juga meningkatkan belanja pertahanan negara tersebut, yang berpotensi memperbesar defisit fiskal AS.
Ilustrasi Rupiah. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah agar mewaspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi saat ini.
Kondisi ini, menurut Juli, dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), yang kemudian memicu pergerakan modal dari negara maju maupun berkembang ke AS.
“Attractiveness (daya tarik) investasi AS meningkat,” ujar Juli.
Baca juga: Rupiah Anjlok, Ketua Kadin: Mau Tidak Mau Mesti Tingkatkan Ekspor
Penguatan daya tarik investasi di AS itu, lanjut dia, ikut menopang penguatan dollar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia, termasuk rupiah.
Dari domestik, Juli menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.
Dukungan stimulus fiskal, kebijakan moneter, dan bauran kebijakan bank sentral disebut akan diarahkan untuk menopang target pertumbuhan tersebut.
Sementara itu, inflasi pada 2026 dan 2027 diprediksi tetap terjaga di level 2,5 plus minus 1 persen.
Baca juga: Dampak Rupiah Loyo, Siap-siap Biaya Dapur Makin Mencekik
Rupiah bergerak sejalan mata uang kawasan
Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global yang menekan mata uang regional.
Meski sempat melemah hingga Rp 17.300 per dollar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026), BI menilai pelemahan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara lain di kawasan.
“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada media, Kamis.
Hingga pukul 09.35 WIB pada hari itu, rupiah berada di level Rp 17.310 per dollar AS, atau melemah 0,74 persen dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp 17.181 per dollar AS.
Baca juga: BBM Naik, Rupiah Melemah: Kualitas Pembiayaan Perbankan Perlu Diwaspadai
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.
Pelemahan tersebut membuat rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia saat itu.
Hampir seluruh mata uang di kawasan tercatat melemah, sementara dollar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat setelah naik 0,02 persen.
Menurut Destry, BI akan terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.
Bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah dampak berlanjut konflik Timur Tengah.
Baca juga: IHSG Rawan Koreksi Imbas Pelemahan Rupiah, Ritel Disarankan Cermati Saham ADRO, WIFI, Hingga ELSA
Selain itu, BI melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder dan menjaga kecukupan cadangan devisa yang mencapai sekitar 148,2 miliar dollar AS per akhir Maret 2026.
“Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegasnya.
Cadangan devisa dan intervensi BI
Dari sisi cadangan devisa, Juli mengatakan posisi cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dollar AS, turun dibandingkan akhir Februari 2026 yang mencapai 151,9 miliar dollar AS.
Penurunan cadangan devisa utamanya dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Baca juga: Saat Rupiah Dipermalukan Ringgit dan Dolar Singapura
Juli mengatakan, bank sentral terus melakukan intervensi di pasar valas di tengah penguatan dollar AS agar pergerakan rupiah tetap relatif stabil.
Ilustrasi rupiah.
“Ini tentunya ada faktor kebijakan. Intensitas BI melakukan intervensi menguat, tidak hanya di spot, tapi juga di forward di dalam dan luar negeri, NDF (Non-Deliverable Forward), DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward),” terang Juli.
Karena itu, BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026 memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah.
Strategi stabilisasi rupiah
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan stabilisasi rupiah terus diperkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Baca juga: Rupiah Melemah Tembus Rp 17.300, Ongkos Transportasi-Logistik Bisa Makin Mahal
“Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri,” tutur Perry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (22/4/2026).
Selain itu, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing.
BI turut memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold tunai beli valas terhadap rupiah, peningkatan threshold jual DNDF/Forward, serta peningkatan threshold beli dan jual swap yang berlaku mulai April 2026.
“Dengan langkah tersebut, nilai tukar Rupiah dapat dijaga relatif stabil yang pada 21 April 2026 tercatat sebesar Rp 17.140 per dollar AS, atau melemah 0,87 persen (ptp) dibandingkan dengan level akhir Maret 2026,” papar Perry.
Baca juga: Antara Global dan Domestik, Faktor Apa yang Sebabkan Rupiah Melemah?
Prospek rupiah menurut BI
Ke depan, Perry meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat.
“Didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” ucapnya.
"Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter pro-market untuk mendorong peningkatan aliran masuk modal asing ke dalam negeri sehingga mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah," tutur Perry.
Tag: #penyebab #rupiah #tembus #17300 #strategi #stabilkan #kurs