Tekan Biaya dan Limbah, Industri Makanan dan Minuman Didorong Beralih ke Kemasan Kertas
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.(DOK. Humas Kemenperin)
09:40
25 April 2026

Tekan Biaya dan Limbah, Industri Makanan dan Minuman Didorong Beralih ke Kemasan Kertas

Kementerian Perindustrian mendorong industri makanan dan minuman beralih ke kemasan nonplastik. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut penggunaan kemasan berbasis kertas mulai diperluas. Jenis paperboard dinilai sudah kompetitif di pasar.

Kemasan ini telah menyumbang sekitar 28 persen dari total penggunaan kemasan di industri makanan dan minuman.

Salah satu opsi yang didorong adalah kemasan aseptik berbasis kertas. Model ini mulai digunakan untuk menggantikan kemasan plastik konvensional.

“Kemasan kertas saat ini sudah banyak digunakan untuk produk seperti susu dan minuman. Kami berkomitmen untuk terus memacu pengembangan alternatif bahan baku kemasan melalui skema business matching antara produsen dan pengguna,” ungkap Agus di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Baca juga: Harga Minyak Goreng Naik Dipicu Kemasan Plastik, Ini Penyebabnya

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menilai langkah ini sejalan dengan arah kebijakan industri ramah lingkungan.

Dukungan diberikan melalui workshop dan kunjungan industri. Kegiatan melibatkan pelaku usaha makanan dan minuman bersama Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia.

Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman menilai industri perlu mencari alternatif bahan kemasan. Tekanan biaya dan pasokan mendorong perubahan strategi.

“Dalam mengantisipasi berbagai tantangan industri, ada dua aspek penting, yaitu procurement dan divisi manufacturing. Divisi manufacturing perlu meningkatkan efisiensi agar tetap kompetitif, sedang porocurement memperluas sourcing. Kunjungan ini jadi bagian upaya mencari alternatif sumber kemasan,” ujarnya.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Merrijantij Punguan Pintaria menilai perbandingan biaya tidak bisa dilihat secara langsung.

“Perlu dipertimbangkan, harga kemasan aseptik dari kertas tidak apple to apple dengan kemasan bahan plastik, tetapi saat dikonversi menyeluruh, hasilnya mungkin sama karena kemasan aseptik dari kertas tidak butuh rantai pendingin dan kulkas untuk penyimpanan, dan bahan baku kertasnya cukup stabil," ujarnya.

Baca juga: Menperin Sebut Kenaikan BBM dan Pajak Kendaraan Listrik Picu Penurunan Penjualan

Kebutuhan kemasan aseptik nasional diperkirakan mencapai 8,3 miliar unit per tahun. Sekitar 4,8 miliar berasal dari produk susu dan dairy.

Sisa kebutuhan berasal dari minuman teh, kopi, serta produk berbasis nabati seperti santan, oat milk, dan kacang hijau.

Tag:  #tekan #biaya #limbah #industri #makanan #minuman #didorong #beralih #kemasan #kertas

KOMENTAR