BREN, CTRA, DSSA, NCKL Terdepak dari LQ45, Investor Ritel Disarankan ''Wait and See''
Ilustrasi investor saham. (canva.com)
13:04
26 April 2026

BREN, CTRA, DSSA, NCKL Terdepak dari LQ45, Investor Ritel Disarankan ''Wait and See''

- Sejumlah saham yang terdepak dari indeks LQ45 berpotensi mengalami tekanan dalam jangka pendek, seiring potensi keluarnya dana (outflow) dari investor institusi pasif yang melakukan penyesuaian portofolio, mengikuti kebijakan terbaru PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

BEI melakukan perombakan besar dalam komposisi sejumlah indeks saham utama untuk periode 4 Mei hingga 31 Juli 2026, termasuk indeks LQ45.

Dalam evaluasi terbaru, saham harus keluar dari indeks LQ45, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Baca juga: Rebalancing Indeks BEI: CUAN-WIFI Masuk LQ45, BREN-DSSA Tersingkir

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan keluarnya saham-saham tersebut dari indeks berpotensi memicu tekanan jual yang wajar di pasar.

Menurutnya, faktor utama berasal dari aliran dana asing, khususnya investor pasif yang mengikuti komposisi LQ45 dan harus melakukan rebalancing portofolio.

“Efek outflow dana index sih. Kalau outflow sih pasti ada emiten yang keluar seperti BREN, CTRA, DSSA, HEAL, NCKL. Tentunya ini mengalami tekanan jual wajar,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Sabtu malam (25/4/2026).

Senada, pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai tekanan terhadap saham-saham tersebut masih akan dominan karena dikeluarkan dari indeks BEI hingga potensi BREN dan DSSA didepak dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Arah harga dinilai akan tetap volatil dengan kecenderungan melemah akibat hilangnya permintaan dari dana pasif.

“Tekanannya masih dominan. Selama resiko keluar dari MSCI dan indeks BEI belum selesai, arah harga cenderung volatile cenderung turun karena hilangnya demand dari dana pasif,” ujar Reydi kepada Kompas.com.

Status high shareholders concentration (HSC) membuat saham menjadi kurang investable, dengan likuiditas yang tipis dan mudah digerakkan. Kondisi ini membuat investor institusi cenderung menghindar, sehingga volatilitas justru semakin tinggi.

“Status HSC membuat saham jadi kurang investable, likuiditas tipis, dan mudah digerakkan. Investor institusi cenderung menghindari, sehingga volatilitas makin tinggi,” paparnya.

Ilustrasi saham. SHUTTERSTOCK/XALIEN Ilustrasi saham.

Menurut Reydi, risiko pergerakan ekstrem juga sangat besar. Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi dengan free float kecil berpotensi memicu gap harga secara signifikan, baik saat naik maupun turun, karena ketidakseimbangan antara supply dan demand.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, emiten perlu meningkatkan free float, memperbaiki distribusi saham, serta meningkatkan transparansi. Tanpa langkah tersebut, saham akan sulit kembali dilirik oleh indeks global.

“Menambah free float, perbaiki distribusi saham, dan tingkatkan transparansi. Tanpa itu, sulit saham ini di lirik indeks global,” tukas dia.

Ia pun menyarankan investor ritel yang sudah memiliki posisi di harga atas untuk lebih bijak melakukan aksi jual sebagian saat terjadi technical rebound, mengingat risiko penurunan masih terbuka selama isu indeks belum selesai.

Baca juga: Sanksi BEI Naik, Masalah Laporan Keuangan dan Free Float Disorot

Sementara itu, strategi averaging down dinilai tidak disarankan dalam kondisi saat ini. Pada saham dengan likuiditas terbatas, langkah tersebut justru berpotensi memperbesar risiko kerugian.

Bagi investor ritel yang belum masuk, Reydi merekomendasikan untuk bersikap wait and see. Keputusan masuk sebaiknya dilakukan jika terdapat katalis yang jelas, seperti perbaikan free float, keluar dari status HSC, atau konfirmasi kembali masuk ke dalam indeks. Tanpa faktor tersebut, profil risk-reward dinilai masih kurang menarik.

“Sebaiknya wait and see. Masuk hanya jika ada katalis jelas seperti perbaikan free float, keluar dari status HSC, atau konfirmasi kembali masuk indeks. Tanpa itu, risk-reward masih tidak menarik,” katanya.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Baca juga: BEI Ubah Kriteria Indeks IDX30, LQ45, dan IDX80

Tag:  #bren #ctra #dssa #nckl #terdepak #dari #lq45 #investor #ritel #disarankan #wait

KOMENTAR